Hubungan Seksual yang Dilarang dalam Islam

seekershub.org

Seruni.id – Kita tahu dan sadar jika hubungan seksual menjadi suatu hal manusiawi yang dibutuhkan oleh setiap orang, baik itu untuk memenuhi keinginan pribadi pun untuk niat lain seperti memiliki keturunan, atau menjadi bentuk kasih sayang. Namun, dalam islam hal ini tidak boleh dilakukan begitu saja, apalagi jika dijalankan tanpa alasan yang diperbolehkan, karena akan haram hukumnya. Itulah alasannya mengapa Seruni kali ini ingin membahas tentang hubungan seks yang dilarang, dan jika tetap dilakukan, maka bisa menjadi perbuatan yang berhubungan dengan dosa besar. Berikut penjelasannya:

Related image
hunteranduro.co.uk

Hubungan Seksual dengan Non Muhrim

Semua umat muslim pasti sudah tahu tentang yang satu ini. Hubungan dengan seseorang yang bukan muhrim adalah perbuatan dosa besar dalam islam. Zina memang seharusnya dijauhi.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” [Al-Isra/17:32].

Zina merupakan perbuatan yang dilaknat dan menunjukkan tidak adanya iman dalam hati yang melakukannya. Zina memiliki hukuman yang berat baik di dunia pun di akhirat.

“Dan orang-orang yang berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” [Al-Furqan/25: 68-69].

Di dunia ia akan hina, dan di akhirat ia akan mendapat siksa neraka. Berzina termasuk dosa besar dan membuat orang yang melakukannya jauh dari kebaikan Allah. Zina menjadi wujud tidak adanya ilmu mengenai iman atau rendahnya kesetiaan, jika pelakunya telah memiliki pasangan.

“Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab: Kamu berzina dengan istri tetanggamu”.

Hubungan Seksual Melalui Dubur

“Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya,” (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai).

Allah SWT sudah menciptakan manusia dan juga telah diciptakan alat untuk melakukan hubungan seksual, maka jika terdapat pasangan yang melakukan hubungan seksual melalui dubur atau anus, sama saja dengan mereka telah melakukan dosa dan hal yang jelas dilarang.

Hubungan Seksual yang Menyerupai Kafir

“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak.

Dan telah dimaklumi pula bahwa Nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut, yakni pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan.

Sebagai penguat yang telah lalu, apalagi hewan yang telah dlketahui keburukan tabiatnya. Maka seharusnya seorang Muslim, dan keadaannya seperti ini, merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan,”

Hubungan seksual yang dimaksud adalah sesuatu yang berlebihan, misalnya melakukan isapan atau terlalu berlebihan dalam mengeksplor alat kemaluan, hal ini tidak diperbolehkan.

Karena bisa menyebabkan hawa nafsu menjadi berlebih. Dan jika terhisap atau masuk ke dalam tubuh, maka dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, sehingga hendaknya melakukan dengan sewajarnya, sesuai kebutuhan.

Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex) adalah haram, tidak diperbolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memancar. Kalau memancar, maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama).

Jika (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya, kemudian ke dalam perutnya, maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya. Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut.

Hubungan Seksual saat Istri Haid atau Nifas

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri,” (QS. Al-Baqarah/2: 222).

Setiap manusia memang memiliki kebutuhan dasar untuk melakukan hubungan seksual, sebagai keutamaan istri melayani suami. Namun, meskipun kamu melakukannya dengan pasangan halal, tetap harus meperhatikan faktor yang diperbolehkan dan dilarang.

Seperti salah satu yang dilarang adalah saat istri sedang haid atau dalam masa nifas. Mengapa demikian? Karena darah tersebut merupakan kotoran yang berbahaya, maka hubungan seksual baru boleh dilakukan ketika telah kembali dalam keadaan suci.

Hubungan Seksual Tanpa Pengawalan

“Siapa pun di antara kamu, janganlah menyamai istrinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan,” Selanjutnya, ada yang bertanya: ‘Apakah perantaraan itu?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis’,” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

Tidak diperkenankan melakukannya dengan terburu-buru menuju pada intinya, karena sebelumnya harus diawali dengan awalan, untuk mengurangi rasa sakit, dan menumbuhkan rasa kasih sayang, terlebih bagi wanita. Hal ini merupakan jalan untuk bisa melakukan hubungan yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Baca Juga: Ternyata Alat Kontrasepsi Ini Dilarang dalam Islam

Hubungan Seksual Tanpa Penutup Tubuh

“Apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar,” (HR Ibnu Majah).

Manusia walaupun berada di tempat tertutup, wajib untuk tetap memperhatikan sopan santun dan memiliki rasa malu, terlebih ketika berhadapan dengan pasangan. Begitupun adab dalam hubungan seksual, yakni jauh lebih baik jika menggunakan penutup tubuh, seperti selimut. Agar dilindungi dari godaan setan atau hal berbahaya lainnya.tubuh keduanya.

Hubungan Seksual yang Tidak Diawali dengan Doa

Setiap hubungan seksual hendaknya diawali dengan doa, sebagai wujud syukur kepada Allah, dan mohon perlindungan dari segala mara bahaya, atau sebagai doa agar diberi keturunan.

“Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya,” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).

Hubungan Seksual yang Melupakan Ibadah

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS: An Nur : 58).

Hubungan seksual memang diperbolehkan untuk dilakukan pasangan suami istri, tapi tetap wajib memperhatikan ibadah, tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual berlebihan, apalagi hingga melupakan ibadah, seperti telat dalam shalat, dan lain sebagainya.

Hubungan Seksual Sesama Jenis

“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya,” (HR Tirmidzi , Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hubungan seksual tidak boleh dilakukan oleh sesama jenis, sebab merupakan bentuk dosa besar sebagaimana pada masa Nabi Luth. Hubungan tersebut akan mendapatkan dosa dan azab yang besar, sebab melawan ketentuan dan takdir yang telah diciptakan oleh Allah, yakni manusia hidup berpasangan antara pria dan wanita.

Menyebarkan Aib dalam Hubungan Seksual juga Dilarang

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya, dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian menyebarkan rahasia istrinya,” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (2597) dan Abu Dawud (a227).

Hubungan seksual adaalah sesuatu yang pribadi, baik pun buruk, tetap tidak diperkenankan untuk diceritakan atau dipamerkan kepada orang lain. Wajib hukumnya untuk menutupi kebaikan dan keburukan masing-masing dengan tidak menyampaikan hal yang berhubungan dengan hubungan intim kamu dengan pasangan, kepada siapapun.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.