Apa itu Badai Sitokin? Ini Penjelasan dan Gejala yang Harus Diwaspadai!

  • Bagikan
Apa itu Badai Sitokin? Ini Penjelasan dan Gejala yang Harus Diwaspadai!
cnnindonesia.com

Seruni.id – Belum lama ini, selebritis Deddy Corbuzier membawa kabar yang mengejutkan. Di mana dirinya mengaku telah mengalami badai sitokin saat terpapar Covid-19 beberapa waktu lalu. Lantaran hal ini, ia pun sempat rehat dari media sosial.

Apa itu Badai Sitokin? Ini Penjelasan dan Gejala yang Harus Diwaspadai!
kompas.com

Deddy bercerita, bahwa selama dua minggu setelah rehat dari media sosial, ia fokus untuk memulihkan kondisinya yang mengalami badai sitokin, karena virus Corona. Bahkan, ia kritis dan hampir tidak selamat meski sudah dinyatakan negatif dari Covid-19.

“Saya sakit… Kritis, hampir meninggal karena badai Cytokine, lucunya dengan keadaan sudah negatif. Yes it’s Covid” katanya.

Lantas, apa sih badai sitokin itu dan seberapa bahanya sampai menyebabkan kematian pada pasien Covid-19?

Pengertian Badai Sitokin

Badai sitokin atau dikenal dengan Cytokine Storm adalah sindrom yang mengacu pada sekelompok gejala medis, di mana sistem kekebalan tubuh mengalami banyak peradangan. Ini merupakan komplikasi yang bisa dialami oleh penderita Covid-19. Untuk itu, kita perlu mewaspadainya dan perlu segra ditangani secara intensif.

Sebab, jika kurangnya penanganan intensif atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali, hal tersebut justru akan menyebabkan kegagalan fungsi organ lain hingga kematian. Sitokin adalah protein pembawa pesan pada sistem kekebalan tubuh. Ketika virus Corona SARS-CoV2 menyerang tubuh, maka sel darah putih akan merespons dengan memberikan pesan melalui produksi sitokin.

Dalam kondisi normal, sitokin akan bergerak menuju jaringan yang terinfeksi, seperti paru-paru yang bekerja sama dengan sel darah putih untuk melawan virus. Namun, kondisinya akan berbeda apabila sitokin terjadi. Badai sitokin adalah kondisi ketika tubuh tanpa henti memproduksi sitokin, sehingga kerja sitokin menjadi lepas kendali.

Bukannya melawan virus, badai sitokin justru menyerang organ atau jaringan. Padahal, virus sudah mati atau tidak ada di dalam tubuh. Inilah yang menjadi alasan mengapa badai sitokin kerap terjadi pada pasien yang sudah dinyatakan negatif dari Covid-19. Karena kondisi tersebut, alhasil organ menjadi rusak dan kondisi pasien dengan cepat memburuk.

Kondisi ini juga dapat memicu kematian sel dan organ. Pada kasus Covid-19, organ yang rusak adalah paru-paru dan bisa menyebabkan kebocoran paru, pneumonia, dan kekurangan oksigen dalam darah. Kondisi ini akan meningkatkan risiko kematian pada orang orang yang terkena badai sitokin.

Gejala Badai Sitokin

Kondisi ini dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda. Mulai dari gejala ringan seperti flu hingga terparah yang dapat mengancam jiwa. Adapun gejalanya sebagai berikut:

  • Kelelahan
  • Demam disertai menggigil
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan ekstremitas
  • Nyeri otot dan persendian
  • Ruam
  • Sakit kepala
  • batuk
  • Napas cepat
  • Sesak napas
  • Kejang
  • Menggigil
  • Sulitnya mengkoordinasikan gerakan
  • Kebingungan hingga halusinasi
  • Kelesuan dan daya tangkap yang buruk
  • Tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah juga bisa menjadi tanda Cytokine Storm yang parah. Pada kondisi ini, mungkin saja jantung tidak bekerja secara maksimal. Hal tersebut mengakibatkan badai sitokin dapat memengaruhi banyak sistem organ.

Apa Penyebabnya?

Melansir dari laman Detik, para ilmuan masih memahami jaringan kompleks yang menjadi penyebab terjadinya Ctyokine Storm. Mereka menduga, hal tersebut terjadi karena sejumlah masalah kesehatan, seperti sistem kekebalan itu sendiri.

“Biasanya, sitokin bekerja untuk membantu tubuh kita dalam jumlah sedang. Namun pada kondisi tertentu, di mana jumlahnya menjadi terlalu banyak, sistem kekebalan malah menyebabkan kerusakan pada tubuh pasien,” papar profesor di divisi penyakit menular di University of Cincinnati College of Medicine, Carl Fichtenbaum.

Apa Saja Dampaknya?

Adapun dampak yang terjadi pada pengidap kondisi ini, terlebih pada pasien Covid-19 dapat menyebabkan demam dan sesak napas yang berpotensi menyebabkan kopilasi pernapasan. Biasanya, kondisi ini muncul dalam kurun waktu 6-7 hari setelah terinfeksi Covid-19. Sementara itu, orang dengan sindrom autoimun tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengidap kondisi badai sitokin.

Misalnya, ini dapat terjadi pada penyakit Still, pada arthritis idiopatik remaja sistemik (JIA), dan pada lupus. Dalam konteks ini, badai sitokin yang populer dengan nama “Sindrom aktivasi makrofag”. Jika seseorang mengalami gejala yang cukup parah, seperti kesulitan bernapas, maka memerlukan perawatan di unit perawatan intensif. Dalam beberapa situasi, dimungkinkan untuk mengobati sumber yang mendasari Cytokine Storm. Misalnya, jika badai sitokin disebabkan oleh infeksi bakteri, maka antibiotik dapat membantu pasien.

Baca Juga: 7 Makanan yang Perlu Dihindari oleh Pasien COVID-19

Jadi, itulah sedikit informasi mengenai Cytokine Storm yang kerap muncul saat pandemi Covid-19. Seruni harap, kita semua dapat berhati-hati, dan tetap menjaga kesehatan. Jangan lupa juga untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Yuk jaga diri dan keluarga agar terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya.

  • Bagikan
seruni.id