Agar Tak Keliru, Ini Perbedaan Kanker Lambung dan Sakit Maag

  • Bagikan
Agar Tak Keliru, Ini Perbedaan Kanker Lambung dan Sakit Maag
halodoc.com

Seruni.id – Gejala kanker lambung dan sakit maag hampir mirip. Sehingga banyak pasien yang mengira bahwa gejala tersebut sebagai sakit maag biasa. Hal ini perlu kita waspadai, karena jika mengabaikannya begitu saja, maka akan menjadi kronis dan akut. Untuk lebih jelasnya, simak ulasannya berikut ini:

Agar Tak Keliru, Ini Perbedaan Kanker Lambung dan Sakit Maag
liputan6.com

Maag mungkin menjadi salah satu penyakit yang umum terjadi. Gejalanya pun mudah untuk kita kenali. Seperti yang sudah Seruni di atas, gejala penyakit maag hampir mirip dengan kanker lambung, loh. Menurut data GLOBOCAN 2020, angka penderita kanker lambung cukup tinggi. Bahkan, di 2020 lalu jumlahnya mencapai 1 juta kasus. Masalah ini paling banyak penderitanya adalah pria dengan 719.523 kasus.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP mengatakan bahwa di awal gejala, banyak yang mengira jika kanker lambung sebagai sakit maag biasa sehingga sebagian besar pasien datang terlambat dan sudah pada stadium lanjut.

“Oleh sebab itu, masyarakat perlu lebih waspada bahwa terhadap gejala kanker lambung yang jika tidak ditangani sejak dini berpotensi terjadi mutasi yang dapat membentuk tumor di dalam lambung dan dapat bermetastatis atau menyebar ke bagian lain di tubuh seperti hati, peritoneum, hati dan tulang,” jelasnya dalam Webinar Media bertajuk Gaya Hidup Masa Kini: Waspada Kanker Lambung Mengintai Anda! oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

Lalu, bagaimanakah perbedaan gejala kanker lambung dan sakit maag? Berikut Seruni telah merangkumnya:

1. Penyebab Kanker Lambung

Sebelum membahas mengenai perbedaan gejala antara kanker lambung dan sakit maag, mari kita simak bersama-sama penyebab terjadinya kanker lambung.

Sebagaimana yang disebutkan oleh dokter Aru, kanker lambung terjadi karena adanya sel kanker di dalam lambung yang tumbuh menjadi tumor. Lambat laun sel tersebut semakin bertumbuh dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun. Biasanya kanker lambung paling banyak terjadi pada lansia berusia 60-80 tahun.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, di mana hal tersebut dapat meningkatkan risiko kanker lambung, seperti bakteri helicobactor pylori, metaplasia usus, atrophic gastritis kronis, anemia pernisosa, ataupun polip lambung, kebiasaan merokok, obesitas, makanan yang diproses atau diasinkan, serta genetika.

“Secara genetik, penyebab meningkatnya risiko kanker lambung adalah jika ibu, ayah, kakak atau adik memiliki kanker gaster, golongan darah A, Li-fraumeni syndrome, familial adenomatous polypsis (FAP) dan hereditary nonpolyposis colon cancer,” jelas dokter Aru Sudoyo.

Meski genetik berperan, rupanya hanya 5-10% saja. Sedangkan 90-95% lebih karena faktor lingkungan yang meliputi diet (30-35%), rokok (25-30%), infeksi (15-20%), obesitas (10-20%), alkohol (4-6%) dan lain-lain (10-15%).

“Dengan demikian, kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker,” terangnya.

2. Apakah Kanker Lambung Bisa Menyerang Anak-anak?

Pada poin sebelumnya telah disebutkan, bahwa kondisi ini paling banyak dialami oleh lansia berusia 60-80 tahun. Namun, apakah kanker lambung bisa menyerang anak-anak?

Biasanya sel kanker yang diderita oleh seseorang, disebabkan paparan lingkungan, maka semakin usainya bertambah, maka zat karsinogen terus menumpuk di dalam tubuh.

“Kok ada anak-anak sakit kanker? Itu ada disebut sebagai kerentanan, sudah ada kelemahan dari awal lahir untuk beberapa kanker tertentu. Namun, untuk kanker lambung kebetulan tidak. Jadi kanker ini tidak mengenai anak-anak karena lebih kepada paparan karsinogen yang lama,” tutur dokter Aru.

Nah, kanker yang biasanya menyerang anak-anak yakni di antarnaya adalah kanker mata atau kanker darah. Adapun penyebabnya karena gen bawaan sejak lahir yang bermutasi, tapi gen tersebut tidak berasal dari keturunan.

“Gen sudah lemah dari bawaan. Bukan keturunan, misalnya kanker mata adanya di anak-anak, kanker darah atau leukimia itu juga banyak. Ada beberapa gen yang menyebabkan beberapa kanker terjadi pada anak-anak. Namun, misalnya jika anak-anak menderita kanker maka kemungkinan sembuhnya lebih besar dibandingkan jika terkena saat dewasa,” terangnya.

3. Gejala Kanker Lambung dan Sakit Maag yang Hampir Mirip

Berikut enam poin penting yang harus kita waspadai sebagai gejala kanker lambung:

  • Nyeri abdomen, biasanya nyeri ini terjadi pada perut yang awalnya terasa ringan, tidak hilang dengan makan, sehingga lama kelamaan nyeri tersebut semakin berat hingga tak tertahankan.
  • Sulit menelan makanan, biasanya ini terjadi apabila tumor berlokasi di daerah kardia atas, maka akan terjadi penyempitan, di mana makanan terasa “tersangkut” di sekitaran dada. Setelah terjadi seperti ini, biasanya seseorang akan meminum banyak air putih, tapi hal tersebut tidaklah menjadi solusi, kemudian akan naik balik ke atas atau juga disebut dengan “gastroesophageal reflux” atau gerd.
  • Berikutnya adalah rasa mual dan muntah ketika makan. Biasanya ini terjadi ketika tumor terletak dekat dengan jalan masuk ke usus halus atau pylorus. Hambatan lewatnya makanan akan mengirim sinyal ke otak bahwa makanan “harus kembali ke atas”.
  • Situasi keempat, adalah semakin merasa cepat kenyang dengan terisinya ruang lambung oleh tumor, sehingga semakin sedikit makanan yang masuk tubuh. Hal ini terjadi terutama pada kanker lambung jenis “difus” di mana sel-sel tumor mengambil permukaan luas lambung, di mana elastisitas lambung berkurang.
  • Kemudian terjadinya penurunan berat badan yang signifikan. Hal ini terjadi karena sulitnya makanan turun karena muntah, serta makanan dan nutrisi akan berkurang.
  • Dan yang terakhir adalah mulai terjadi perdarahan, di mana tumor atau kanker menembus lapisan dalam lambung. Bila perdarahan masih sedikit, tidak menampakkan adanya gejala. Namun, pada perdarahan besar, berakibat pada hematemesis atas atau melena bawah dengan gejala anemia.

Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan sakit maag, di mana ketika seseorang menderita sakit maag, ia akan merasakan sakit. Terutama di pagi hari ketika bangun tidur dan tidak menyebabkan turunnya berat badan. Sedangkan kanker lambung, kondisi akan semakin parah dengan makan dan tidak ada batasan waktu dan berat badan turun banyak.

“Jika dirasa terjadi ciri-ciri kanker lambung atau dengan sakit maag yang berkepanjangan, segeralah melakukan deteksi dini,” jelas dokter Aru.

4. Cara Mencegah Kanker Lambung

Setelah melihat beberapa gejala di atas, mungkin akan timbul perasaan was-was. Namun, tak perlu panik, karena hal ini bisa bisa kamu cegah. Melansir dari laman Popmama, berikut sejumlah cara untuk mengurangi risiko kanker lambung:

  • Batasi jumlah alkohol;
  • Tidak merokok;
  • Hindari makan makanan asap dan acar serta daging asin dan ikan;
  • Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran segar dan banyak makanan gandum utuh, seperti roti gandum utuh, dan sereal; dan
  • Pertahankan berat badan yang sehat.

Baca Juga: 5 Tips Mencegah Maag Agar Tak Kambuh Saat Puasa

Itulah perbedaan antara kanker lambung dan sakit maag yang harus kita waspadai. Semoga dengan adanya artikel ini bisa menjadi informasi tambahan agar kita tidak menyepelekan penyakit apa pun. Semoge bermanfaat!

  • Bagikan
seruni.id