“Aku Mengenal Islam di Dalam Sel itu”

yesmagazine.co.id

Seruni.id – Jika Allah telah berkehendak, tak ada satupun orang yang bisa menentangnya. Begitupun dengan datangnya hidayah, tak ada satupun orang yang bisa menolaknya. Seperti kisah Andre, seorang tahanan Californis yang baru mengenal Islam ketika ia berada di dalam jeruji besi.

mercurynews.com

Terlibat Aksi Kekerasan

Di masa lalunya, Andre, yang kini berganti nama menjadi Yusuf Willey ini kerap terlibat aksi kekerasan antargeng. Dalam peristiwa baku hantam itu, menewaskan satu orang dan lainnya luka-luka. Itulah sebabnya, ia mendekam di balik jeruji besi. Namun, rupanya Tuhan memberikan kesempatan kedua baginya.

Setelah menjalani hukuman kurang lebih 23 tahun, akhirnya Andre bebas di usianya ke-42. Namun, nampaknya ada yang berubah dari dirinya. Kini, sikapnya begitu santun dang hangat. Mimik wajahnya menampakan wajah yang simpatik. Dia telah memeluk Islam selama menjalani masa hukuman.

Tren memeluk Islam tengah menjangkiti penjara California, Amerika Serikat (AS). Andre merupakan satu dari sekian tahanan California, sebagian besar Afrika-Amerika, yang memeluk Islam. Hal yang lebih membanggakan, yakni ia menjadi contoh dari keberhasilan dakwah Islam di penjara California.

Bukan lagi menjadi rahasia umum, bahwa penjara California merupakan penjara di AS yang memiliki catatan yang terbilang negative dalam rehabilitasi para tahanan. Sekitar 65% dari mantan narapidana di sana kembali ke hotel prodeo dalam waktu tiga tahun. Tapi Andre menjadi pengecualian. Selama satu dekade terakhir, Andre merupakan tokoh kunci dari dakwah Islam di Penjara California.

“Saya memiliki motivasi yang luas, mengikuti terapi, konseling dan diskusi antar tahanan yang tidak pernah dijalankan dengan baik oleh negara. Para tahananlah yang menjalankan dan membuat terapi,” kata dia.

Dua pekan setelah bebas, Andre, tak berhenti untuk melanjutkan apa yang ia lakukan di penjara. Ia dalami Alquran, dan memberikan pengajara kepada muslim di masjid Bay Area.

Pemimpin Yayasan Tayba, kelompok pendidikan agama Islam di Bay Area, Syaikh Rami Nsour mengatakan Andre memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Islam begitu baik. Ia sudah layak untuk memimpin jamaah.

Awal Mula Mengenal Islam

Sebelumnya, perubahan yang sangat drastis itu dimulai setelah ia bertengkar dengan sesama penghuni lapas pada tahun 1993. Sampai akhirnya, ia ditempatkan dalam sebuah sel khusus, dengan tingat pengamanan yang lebih ketat. Tak ada yang menemani, ia sendirian di sana. Dan di sel itulah, awal mula ia mengenal Islam. Ketika itu, Andre menemukan sebuah buku tentang Islam.

“Aku berkenalan dengan Islam di sel itu,” kenang dia.

Dalam buku itu, Andre menemukan ilmu Ihsan yang berarti kebajikan, niat atau melakukan hal yang baik. “Ini tentang bagaimana Anda mengenal hati Anda yang sakit oleh virus iri hati, arogansi, dan kebencian. Ilmu ihsan menuntun saya untuk membersihkan diri dari viru-virus tersebut,” katanya.

Andre pun mulai berkomitmen untuk melakukan perubahan besar. Sebuah komitmen yang terucap saat bibir dan hatinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tak perlu lama bagi Andre untuk menjaga komitmen yang ia buat. Ia shalat lima kali sehari, puasa ketika hari libur tertentu dan tradisi lain dalam Islam.

Saat ia mulai mempelajari Islam, ia dengarkan ceramah yang direkan dari Syekh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna Institue, perguruan tinggi agama Islam di Berkeley. Ia pun menulis surat kepada Syekh tentang apa yang dialaminya, namun tidak mendapat respon. Bertahun-tahun kemudian, ia menulis surat tentang bagaimana aturan fikih, kode moral dan etika beribadah dalam kehidupan penjara.

“Itu menarik perhatiannya,” kata Andre. “Saat itulah, mereka mulai mengirimkan saya buklet kecil.”

Tak hanya dari Syekh, pendidikan Islam juga diperoleh Andre dalam komunikasi bersama Nsour lewat surat dan telepon. “Saya melihat dia sangat, sangat termotivasi,” kata Nsour.

“Apa pun teks-teks saya dikirim kepadanya, ia akan mengajukan pertanyaan spesifik. Saya pun berkewajiban untuk menjelaskannya,” kenang Nsour.

Menyebarkan Islam pada Tahanan Lainnya

Serasa memiliki pemahaman yang baik tentang Islam, giliran Andre menyebarkannya kepada sesama tahanan. “Setiap orang mungkin tidak percaya bahwa ada niatan tulus dari para tahanan untuk berubah. Mereka melihat harapan. Dan saya mencoba menghidupan harapan itu,” kata Andre.

Bebas setelah dua dasawarsa mendekam di penjara, membuat Andre begitu bahagia. Kebahagian itu seolah menjadi magnet bagi para tahanan yang berada di dekatnya. Mereka yang mengenal Andre, merasakan kenyamanan yang begitu langka dalam kehidupan dalam penjara.

“Pertobatan adalah pemimpin perubahan,” kata Andre. “Saya harus bertobat dan istighfar. Setiap orang yang pernah saya sakiti dan khianati, saya kunjungi, dan saya meminta maaf kepada mereka,” kata dia.

Andre sendiri telah meminta maaf kepada keluarga korban, dan mengatakan ia tidak menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Orang tua Andre, Sampson dan Betty Willey, sempat patah arang dengan nasib yang dialami anak lelaki mereka. Mereka membesarkan Andre dengan tradisi Kristen. Ketika mereka tahu, Andre telah menjadi muslim, mereka butuh waktu untuk menerima kenyataan itu.

“Sebagai jamaah gereja, saya bahagia Andre menemukan persepektifnya sendiri. Saya bisa tolerir itu. Saya tetap mencintainya seperti sebelumnya,” kata Sampson.

Sampson mengungkap berulang kali, ia dan istrinya berusaha keras untuk membuatnya sadar. Tetapi ia tetap terjebak dalam kekerasan antar geng di Los Angeles. “Saat itu, ia berada dalam dua dunia, bersama kami ia hidup dalam dunia gereja. Di luar kami, ia punya dunia sendiri,” katanya. Agung Sasongko

Kini, Andre berniat untuk pindah dari tempatnya dibesarkan. Ia ingin terus mendalami pengetahuan tentang Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.