Anak Penjual Gorengan Asal Sumenep Terima Penghargaan dari Presiden Turki

  • Bagikan
newsindonesia.co.id

Seruni.id – Orang tua mana yang tak bangga jika anaknya mampu meraih prestasi gemilang? Apalagi, mampu berbicara di panggung internasional. Seperti Imam Syafiie,  seorang anak penjual gorengan asal Sumenep yang menempuh pendidikan di Turki ini berhasil mengharumkan nama Indonesia dan mendapatkan penghargaan.

newsindonesia.co.id

Dinobatkan Sebagai Mahasiswa Beprestasi

Ia dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa berprestasi dari sekitar 19 mahasiswa Internasional di The 8th International Student Graduation Ceremony, sebuah upacara wisuda tahunan mahasiswa internasional yang diprakasai oleh YTB dan Turkey Scholarship.

Imam berkesempatan kuliah di Turki melalui jalur beasiswa YTB pada 2014 lalu. Sebelum menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dia masuk kelas persiapan bahasa Turki selama setahun. Kemudian, pada 2015 baru mulai kuliah di Universitas Ankara. Pemuda asal Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Bahasa, Sejarah dan Geografi, jurusan Ilmu Sejarah.

“Kuliah saya 100 persen menggunakan bahasa Turki dan dianggap sebagai salah satu jurusan yang susah karena full Turkish,” ungkap Imam.

Sekitar sepekan sebelum wisuda, Imam dihubungi oleh YTB. Ia ditanyakan terkait status studinya akan lulus atau tidak. Usai dihubungi, YTB menginfokan, bahwa ternyata Imam menjadi salah satu mahasiswa yang berprestasi. Dan dia diminta untuk shooting film pendek bersama mahasiswa asing dari Afrika, India, Pakistan, dan Geogria untuk memberikan pidato kelulusan yang akan ditampilkan ketika wisuda digelar.

“Awalnya saya ragu dari sekian banyak mahasiswa master dan doktoral, mengapa justru sayanyang lisans (sarjana) ditunjuk oleh pihak YTB untuk memberikan pidato kelulusan,” ujarnya.

Ia mengaku bangga bisa membawa nama Indonesia di ajang tahunan seremoni wisuda terbesar di Turki. “Walau saya dari Indonesia, pidato yang saya sampaikan sifatya mewakili seluruh wisudawan dari berbagai negara. Bukan mewakili Indonesia. Pihak YTB percaya dan sayan diamanahi untuk berbicara di podium,” kata dia.

Tak hanya itu, saat wisuda, Imam juga mendapatkan penghargaan seperti yang diterima mahasiswa asing berprestasi pada umumnya. Hanya saja, penghargaan yang diterimanya, diberikan langsung oleh Presiden Republik Turki, Recep Tayyip Erdogan. Presiden juga memberikan hadiah kepadanya kala itu.

Tingkatan Pendidikan

Sebelum ke Turki, sejumlah tingkatan pendidikan telah dilaluinya. Ia pernah menempuh pendidikan di MI Tarbiyatul Athfal, MTS Nurul Islam, dan MA Nurul Islam Bluto. Selama menjadi mahasiswa di Universitas Ankara, dia juga pernah mendapatkan kesempatan Awardee Erasmus+Student Exchange Programme di Nicolaus Copernicus University, Torun, Polandia di 2017 selama satu semester.

Selama di Turki, dia juga membagai waktu untuk aktif fi organisasi. Bahkan, Imam juga pernah menjabat Bidang Keilmuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ankara 2015-2016. Kemudian pada priode 2017-2018, dia dipercaya menjadi sekretaris jendral PPI Turki.

Putra Moh. Kutsi dan Endang Rahayu ini merupakan kakak dari Nadia Salsabila dan Haidar El-Ghazi. Selama kuliah, tidak mengecewakan hati orang tua dan keluarga menjadi motivasinya. Sebab, Imam menyadari tidak bisa sampai di titik saat ini tanpa perjuangan kedua orang tua. ”Ibu saya sebagai ibu rumah tangga sambil jualan gorengan. Bapak, merantau ke Bali jualan bakso,” ujarnya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tanpa lelah mendukung. Serta guru-guru selama menempuh pelajaran di sekolah yang tiada henti memberikan ilmu dan pendidikan. ”Terima kasih tak terhingga atas setiap doa dan dukungannya,” ucap Imam.

Imam mengaku bercita-cita menggali lebih dalam sejarah Indonesia. Itu terwujud dalam tugas akhirnya dengan membuat kompilasi bibliografi tentang sumber-sumber yang bisa dipakai untuk meneliti hubungan Kesultanan Turki Utsmani-Indonesia.

“Tujuan saya membuat kompilasi sumer ini untuk membantu peneliti Indonesia maupun Turli yang ingin lebih dalam membahas mengenai hubungan kedua belah pihak di masa lalu,” ujar mahasiswa yang menghabiskan masa kecilnnya di Madura itu.

Sangat membanggakan, ternyata putra/putri terbaik Indonesia mampu bersanding dengan anak dari negara-negara hebat lainnya. Semoga semakin banyak anak-anak muda yang termotivasi untuk terus tekun dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakan sehingga dapat mengharumkan nama keluarga dan bangsa. Anak Indonesia pasti mampu berprestasi sesuai dengan bidang dan minatnya masing-masing.

  • Bagikan