“Ayah Justru Memeluk, Bukan Membentak Meski Saya Sering Ketus”

Ilustrasi Gambar via saudibeautyblog.com

Seruni.id – Ketika seorang Ayah tak pernah menghardik anaknya yang kerap melawan dan kasar. Ketika Ayah tak pernah lelah mendidik agama meski anaknya senantiasa menepis ajakan. Hidayah pun datang, “Ayah justru memeluk, bukan membentak meski saya sering ketus”. Hidayah adalah otoritas Allah.

Related image
Ilustrasi Gambar via islamicity.org

Saya mengenalnya lima tahun lalu, ketika ia masih SMP. Ibunya yang membawanya bertemu saya. Ibunya mengeluhkan betapa susahnya menyuruhnya shalat, belajar, dan membatasi pergaulan dengan teman lelaki di sekolah.

[read]

Dia anak yang cerdas sebenarnya, pengetahuannya luas dibanding anak seusianya. Tapi karena sering tidur larut, tidak disiplin belajar, sehingga beberapa kali sekolah memanggil orangtuanya.

Salah satu yang membuat ibunya sesak napas adalah seringnya ia berkata kasar di hadapan ibunya, terutama jika ditegur.

Hari ini saya bertemu lagi dengannya di acara kajian Islam sebuah kampus. Dia berlari menyambut saya, lalu mencium tangan dan pipi saya dengan mesra sambil menyebut namanya. Penampilannya sangat sopan, berhijab rapi dan nampak shalihat.

“Ayah meninggal setahun lalu. Saya menyesal telah membuatnya sedih. Jadi saya takut ayah disiksa di sana, makanya saya mengubah semua kebiasaan jelek saya. Saya ingin ayah diampuni Allah,” ujarnya dengan mata sendu.

“Masya Allah, kamu sayang banget sama Ayah, ya?”

“Enggak Tante, justru saya melawan banget sama ayah. Tapi ayah tak pernah membentak saya, malah sering memeluk walau beberapa kali saya ketusin. Ayah sangat baik, saya aja yang tidak tau diri. Saya menyesal Tante…”

Lalu ia bercerita dengan lancar tentang sabarnya sang ayah selama ini menghadapi ulahnya. Tentang ayahnya yang tidak pernah ngomel, dan tentang kekagumannya melihat ayahnya shalat, baca Alquran, dan pakaiannya yang selalu rapi.

Saya termangu mendengar cerita panjangnya. Masya Allah, jika Allah berkehendak, tak ada yang tak mungkin. Maka jangan pernah berhenti berdoa dan berharap kepada Allah, karena sering kali semua yang terjadi pada anak, pasangan, dan bahkan hidup kita justru agar kita mengiba pada Allah.

Agar malam kita diisi dengan sujud permohonan. Agar mata kita sibuk menangis berharap (tidak hanya disibukkan oleh kemilau dunia). Agar kita tidak sombong.

Yaa Arhamar Raahimiin, Irhamnaa…

Dewi Yulia

Oleh: Dewi Yulia
Dikutip dari Buku Ketika Cinta Digugat: Karena Hidayah adalah Otoritas Allah

[/read]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.