Berawal dari Membaca Sejarah Hari Raya, Guru Sekolah Minggu Jadi Mualaf

  • Bagikan
Berawal dari Membaca Sejarah Hari Raya, Guru Sekolah Minggu Jadi Mualaf

Seruni.id – Keputusan terbesar bagi seseorang adalah ketika dirinya memilih untuk berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf. Sebab, banyak hal yang mesti dipertimbangkan sebelumnya, entah tentang keluarga, atau tanggapan orang lain terhadapnya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan bagaimana mereka memperdalam agama Islam, keikhlasan dan kemantapan menjadi seorang mualaf akan tertanam dalam dirinya. Sebagaimana kisah seorang mualaf bernama Fransisca Monica Pangaribuan, yang juga mantan guru di sekolah Minggu.

 

Ingin Semua Orang Masuk ke Dalam Agamanya

Sebelum menjadi seroang Muslim, Fransisca berkeinginan agar semua orang bisa menganut agama yang sama sepertinya. Namun, muncul banyak pertanyaan, ketika teman sekamarnya di bangku kuliah berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf.

Pertanyaan yang sudah sekian lama ia simpan, kemudian terjawab saat dirinya berdiskusi dengan seorang teman yang beragama Muslim. Diskusi tersebut, membuatnya kembali membedah isi kitab agamanya terdahulu secara keseluruhan.

“Akhirnya saya pelajari lagi dan belajar dua tahun mengenai itu. Setelah itu, baru saya terbuka, saya jadi mengerti isi kitab secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong,” kata Fransisca, seperti dikutip dari kanal YouTube Ngaji Cerdas, Kamis (23/12/2021).

 

Membaca Sejarah Hari Raya

Keyakinannya untuk hijrah dan menjadi mualaf kian diperkuat saat mengantarkan anak-anaknya merayakan hari raya di rumah ibadahnya. Di sana, terdapat sebuah mading yang tersemat sejarah tentang perayaan hari raya. Ia pun membacanya dengan seksama, hingga hatinya tergugah.

Karena hatinya semakin mantap untuk memeluk Islam, maka di jalan pulang, tepatnya di atas motor, ia membaca dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya. Selepas membaca syahadat, ia tak kuasa lagi menahan bendungan air mata yang sedaritadi ingin dikeluarkan.

Tangisan bahagia dan haru bercampur sepanjang jalan pulang. Bahkan, ia bertanya-tanya tentang apa yang selama ini ia sembah.

“Saya sedih. Yaa Allah, saya menyembah apa ya selama ini? Saya usia 40 tahun saat itu. Saya naik motor. Di motor saya enggak tahan. Saya hijrah di situ. Saya mengucapkan kalimat syahadat pertama kali di motor, dalam keadaan menangis,” ujarnya.

Setelah dirinya berhijrah, ia baru menyadari, bahwa hanya agama Islam yang menyembah satu tuhan, yaitu Allah SWT. Ini menjadi alasan bagi dirinya megapa ia begitu yakin dengan Islam.

“Setelah saya hijrah, saya baru mengetahui hanya agama Islam yang menyembah Allah satu-satunya Tuhan. Tidak ada agama lain lagi. Itu sebabnya saya memilih masuk Islam. Allah yang saya sembah, ya benar-benar Lailahaillallah, tidak ada Tuhan selain Allah,” bebernya.

Saat hijrah dan berpindah keyakinan menjadi mualaf, tentu bukan hal yang mudah. Dalam prosesnya, banyak jalan berliku yang harus ia lalui. Mulai dari mendapat tentangan dari keluarga, diusir, hingga dipisahkan oleh anak-anaknya.

“Diusir, pergi sendirian, dipisahkan sama anak, itu hal yang wajar. Tetapi yang terberat adalah waktu anak-anak tidak boleh ikut saya,” ujarnya.

Baca Juga: Lika-liku Perjalanan Berry Manoch, Vakalis Band Rock yang Jadi Mualaf

Namun, ia memaklumi dan menganggap itu adalah hal yang wajar. Sebab, memang tidak mudah menerima anggota keluarga yang sedari kecil meyakini agama yang sama, lalu saat dewasa salah satunya memilih keyakinan yang berebeda.

“Islam itu adalah agama yang sangat menakjubkan. Dalam agama Islam itu diatur setiap hal, bahkan ketika kamu membuka mata pagi-pagi, sampai kamu tutup mata, tidur lagi,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bishawab.

 

  • Bagikan
seruni.id