Selamat dari Tsunami Selat Sunda, Begini Rentetan Kesaksian Korban

voa-islam.com

Seruni.id – Siapa yang menunggu datangnya bencana? Siapa yang siap menerima kehilangan dalam waktu seketika? Meski tak ada yang menginginkan duka, nyatanya kita tetap harus menerima dengan lapang dada. Orang terkasih, harta benda, dan lain sebagainya, tak lagi ada dalam hidup mereka, para korban yang selamat. Namun, apa yang menjadi landasan untuk tetap bersyukur? Berikut rentetan kesaksian korban Tsunami Selat Sunda yang ditemukan selamat:

Image result for korban tsunami selat sunda selamat

Anak-anak Nurul Fikri

Malam itu, saat tsunami datang menyerang, anak-anak sedang mengikuti Quran Camp. Mereka ada di sekitar lokasi terjadinya tsunami. Tepatnya di salah satu penginapan di Anyer, yakni Resort Umbul Tanjung. Syukurnya, mereka semua terselamatkan. Tanpa kuasa dan lindungan Allah, tingginya gelombang pasang tentu mampu menggulung mereka.

Namun, karena Allah SWT melindungi mereka, tsunami yang terjadi akibat erupsi anak Gunung Krakatau ini pun hanya menyentuh pagar pembatas. Air tidak masuk ke dalam resort, tempat di mana anak-anak sedang menghafal Al-Qur’an.

Saat suara gelombang dan tsunami mulai terdengar, mereka terus berdzikir dan melanjutkan tilawahnya di mushola. Rasa panik pasti ada, tapi mereka hadapi sembari melakukan koordinasi dengan pengelola resort, untuk menjalankan rangkaian evakuasi ke daerah yang lebih tinggi.

Ketika evakuasi sedang berlangsung, terlihat jelas air meluap ke jalanan, beberapa ratus meter dari resort. Menghancurkan bangunan yang ada di sekitar. Lantas, seperti apa kisah lengkapnya? Baca di sini: Kisah Mengharukan Anak-anak Nurul Fikri yang Selamat dari Tsunami

Cerita dari Seorang Nelayan

Seorang pria tengah baya sedang berdiri di pinggir pantai, Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang Banten. Ia berdiri tepat di atas rumahnya yang hancur diterjang gelombang tsunami Selat Sunda.

Pria bernama Azis yang bekerja sebagai nelayan ini mempunyai luka di bagian wajah, tangan, dan kakinya. Namun, ia tetap tegar saat menceritakan detik-detik dirinya tergulung ombak sejauh 200 meter.

Saat itu, Aziz sedang bersama istri, anak, dan ibunya di rumah. Tiba-tiba, air datang tanpa peringatan. Rumah Aziz pun hancur, anggota keluarganya ikut tergulung ombak. Awalnya, terdengar suara bising di luar rumah. Namun, ia mengira jika sejumlah orang tengah bertikai. Tak disangka, gelombang tsunami yang datang.

“Saya pikir ada orang berkelahi. Di depan ada pasar malam soalnya,” ujar dia, Senin (24/12/2018).

Aziz yang penasaran dengan suara bising itu, akhirnya keluar rumah. Perkiraan Aziz tentang keributan warga ternyata salah. Karena air laut setinggi lima meter yang justru menghampirinya. Menerjang semua yang dilaluinya.

“Tiba-tiba (ombak datang). Saya tergulung sampai sana. Sejauh 200 meter mungkin,” lanjutnya.

Dan saat diterjang ombak, Aziz hanya mengupayakan diri agar bisa selamat. Ia pun terus memanjatkan doa, dan berharap anggota keluarganya juga bisa selamat. Setelah cukup lama terombang-ambing di lautan, akhirnya Aziz bisa kembali ke tepian. Ia pun bersyukur, karena seluruh keluarganya masih ada dalam keadaan selamat.

“Beruntung saya nelayan, terbiasa di tengah-tengah air lautan. Saya melihat anak saya sedang digendong ibu saya, mereka selamat, hanya luka-luka,” kata dia.

Ketegaran Seorang Ayah yang Kehilangan Istri dan Anaknya

Dua di antara ratusan jenazah korban Tsunami Selat Sunda, tepatnya di pantai Tanjung Lesung Anyer Banten, kini memang telah dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa/Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Karena memang berasal dari sana.

Seorang ibu bernama Briliyan Parmawati, dan putranya Fahmi Resendriya. Didik Fauzi Dahlan, selaku suami almarhum Briliyan, pun menceritakan tentang detik-detik kejadian.

Saat itu, dirinya bersama istri dan kedua anaknya sedang mengikuti Family Gathering PLN unit induk Jawa bagian barat yang diadakan di pantai Tanjung Lesung Anyer Banten, pada Sabtu, 22 Desember 2018. Menurut Didik, kegiatan tersebut sebenarnya sudah memasuki hari terakhir.

“Kami saat kejadian duduk berempat di kursi paling depan. Namun, air dari belakang panggung tiba-tiba menerjang semua orang yang hadir di acara itu,” ujar Didik.

Menurutnya, air tidak hanya merobohkan panggung hiburan saja, tapi juga menyapu semua manusia yang hadir, termasuk ia dan keluarga. Mereka terseret tsunami.

“Saya tidak bisa menyelamatkan istri dan anak. Saya berusaha mencari, hingga kemudian menemukan anak pertama dengan selamat. Tapi saat saya mencari istri dan anak kedua, saya tidak berhasil menemukan, karena kondisi malam hari,” kata Didik.

Ia pun melanjutkan pencarian anak kedua dan istrinya, tapi masih belum berhasil. Tenaga sudah habis, kondisi semakin gelap, Didik hanya bisa pasrah untuk melanjutkan pencarian di keesokan harinya. Hingga akhirnya, istri dan anak kedua Didik berhasil ditemukan, pada Minggu, 23 Desember 2018 pagi, dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Baca Juga: Mengapa Tsunami Selat Sunda bisa Terjadi Tanpa Adanya Gempa?

Kesaksian Tentang Air yang Masuk ke dalam Kamar

Trauma menempel pada Bionita (30). Warga Kota Tangerang ini, bersama suami dan anak semata wayangnya, menjadi salah satu korban selamat, dari bencana alam tersebut.

Bersama keluarga kecilnya, Bionita memang merencanakan liburan akhir tahun di daerah Pantai Carita, tepatnya di Villa Archipelago. Sabtu, 22 Desember 2018, sekitar pukul 16.30 WIB, Bionita dan keluarganya baru sampai di sana.

“Kami disambut dengan air laut yang memang sudah pasang. Sempat khawatir dan tanya suami, katanya wajar kalau sudah sore jelang malam air laut pasang,” ujarnya, Senin , 24 Desember 2018.

Saat itu keluarganya menanggap hal biasa. Setelah masuk kamar membereskan barang bawaan, Bionita dan suami sempat membawa anaknya yang masih berusia sekitar 1,5 tahun, untuk berenang di kolam yang tersedia.

Semua berjalan normal, hingga sekitar pukul 21.30 WIB lewat, saat ketiganya akan tidur, Bionita dan suami yang mendapat kamar di lantai satu dan hanya berjarak kurang dari 80 meter ke bibir pantai, mendengar suara gemuruh air yang sangat kencang.

Kemudian listrik pun mati total, tidak ada penerangan sama sekali. Namun, mereka masih berpikir positif, jika suara tersebut berasal dari turunnya hujan. Hingga gemuruh air terdengar semakin dekat.

“Tapi kok hujan enggak ada suara gemericiknya,” kata Bionita curiga.

Lalu, saat sang suami turun dari kasur untuk beranjak ke toilet, saat itulah air laut yang dibawa tsunami sudah membanjiri kamarnya.

“‘Loh kok ada air bu, air dari mana,’ suami sempet kaget. Eh, pas buka pintu, langsung air masuk deres ke dalam kamar,” katanya.

Kepanikan pun mulai terjadi. Di tengah badan yang mulai gemetar ketakutan, dan mulut berlafaz nama Illahi, Bionita langsung mengangkat anaknya dari kasur. Kemudian, lari ke lantai dua untuk menyelamatkan diri.

“Memang enggak tinggi airnya, sekitar 50 sampai 80 cm. Masih bisa dipakai jalan,” katanya.

Sang suami pun langsung memutuskan untuk meninggalkan villa dan kembali ke Tangerang. Ia mencoba menghubungi salah seorang teman untuk mencari jalan keluar, asal tidak lewat jalan yang ada garis pantainya.

“Telepon sambil nangis histeris, minta jalan keluar lewat mana, asal jangan lewat jalan utama,” ungkapnya mengenang.

Akhirnya, atas petunjuk teman, keluarga tersebut dengan pakaian seadanya, masuk mobil dan bergegas pergi meninggalkan villa.

Malam itu, di sepanjang jalan yang tidak memiliki penerangan, bukan hanya Bionita yang dilanda kekalutan, tapi juga wisatawan lain. Mereka berbondong-bondong mencari jalan keluar, paling tidak untuk bisa secepatnya menuju dataran tinggi.

“Cottage, villa, hotel, mayoritas sudah sepi ditinggal pengunjung. Semua gelap, ada mobil yang sudah hancur nyangkut di pohon,” ujarnya.

Namun, sesampainya di depan penginapan Lippo Carita, jalan sudah tidak bisa dilewati. Warga di sana sudah ramai, memberi tahu kalau jalan sudah tertutup bongkahan yang terbawa arus kuat tsunami.

Tapi masih banyak jalan lain, warga setempat kompak memberi tahu jalan tikus masuk ke pegunungan, meski berkelok tajam, tanjakan curam, hanya itu jalan alternatif satu-satunya untuk bisa menuju Kota Serang.

“Tahu-tahu keluarnya di Jiput, Pandeglang, lurus ke Mandalawangi, sampailah kita di Serang. Di situ baru bisa tenang, Alhamdulillah,” ujarnya.

Terombang-ambing Selama Tujuh Jam

Bencana tsunami Selat Sunda juga menyisakan kenangan kelam bagi pria bernama Willy Siska. Merenggut nyawa istri dan putri sulungnya, Willy mengaku sempat tersapu gelombang tsunami dan terombang-ambing selama tujuh jam, sebelum akhirnya diselamatkan tim SAR.

Senin, 24 Desember 2018, jenazah istri dan anak Willy dimakamkan pihak keluarga. Yunita Primawati dan putrinya, Alya, dikebumikan dalam satu liang lahat, di Pemakaman Umum Cipinang Baru, Pulogadung, Jakarta Timur.

Suasana haru jelas mengiringi pemakaman ibu dan anak tersebut. Willy terlihat berupaya tegar saat menyaksikan dua orang terkasihnya dimakamkan.

Detik-detik bencana tsunami yang menyapu daratan Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Sabtu malam, 22 Desember lalu, masih sangat membekas dalam ingatannya. Gelombang tsunami yang datang secara tiba-tiba, menyeret semua yang ada di bibir pantai, termasuk ia dan keluarga.

Saat kejadian, mereka tengah berada di tenda acara gathering pegawai PLN. Willy yang sempat terseret ombak, terpisah dengan istri dan dua anaknya. Di tengah laut, Willy sempat menyelamatkan dua anak kecil yang terombang-ambing.

Ketika akhirnya diselamatkan tim SAR, Willy mengetahui jika istri dan salah seorang putrinya, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Sementara itu, keberadaan anak keduanya, Muhammad Ali Zaidan, yang masih berusia tiga tahun, sempat hilang.

“Jadi saat tsunami terjadi itu memang tiba-tiba sekali, dan kami grup PLN sedang ada acara di Tanjung Lesung, acara inti pada malam itu, acara musik Seventeen,” kata Willy saat ditemui di kediamannya, Cipinang Lontar, RT 001/009, Pulogadung, Jakarta Timur.

“Tiba-tiba pada lagu ketiga, panggung itu runtuh, kami pikir saat itu panggung saja yang runtuh, ternyata itu ada tsunami datang,” kata Willy dengan nada sedih.

“Biasanya, ketika ada tsunami itu ada diawali adanya gempa, tetapi ini tidak ada yang dirasakan, tiba-tiba datang dalam hitungan detik,” ujarnya.

“Jadi tsunami itu datangnya dari arah kiri, makanya sebagian teman-teman kita itu termasuk saya dan istri saya terseret ke laut, dan anak saya terseret ke daratan. Saya waktu itu pasrah saja, mungkin ajal saya sudah di sini, tetapi tetap saya berusaha untuk naik ke permukaan, tetapi datang lagi ombak besar, kita tenggelam. Dan kita berusaha muncul lagi. Waktu itu kita berkelompok, termasuk salah satunya crew Seventeen itu, tetapi saya lupa siapa,” ucap Willy.

“Saat itu dari belakang ada dua anak kecil, yang tengah mengapung pada kayu, langsung saya pindah dan menyelamatkan, kami pun berusaha baca istighfar dan satu anak kecil ini ternyata tangannya patah. Hampir 3 jam berenang tapi enggak berasa cape. Mungkin ini kehendak Allah, belum saatnya, termasuk dua anak kecil tadi yang akhirnya dapat selamat di pesisir pantai tadi,” ujar dia dengan mata berkaca-kaca.

“Anak saya yang gede, Alya, itu saya sendiri yang menemukan, dan saya sendiri yang bawa ke pendopo hotel. Kalau istri saya itu ketemunya 3 kilometer dari pesisir pantai dibawa arus,” ungkap Willy.

“Dan saya masih ada satu lagi putra saya yang masih kecil yang belum ketemu, dan saya mohon doa, apa pun kondisinya bisa segera diketemukan dengan putra kami,” tutup Willy.

Berikan Dukungan Kepada Kami Dengan Memberikan Rating

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.