Rapot Anak Jelek, Bolehkah Kita Marah?

  • Bagikan
orami.co.id

Seruni.id – Kebanyakan orangtua menjadikan nilai akademis sebagai tolak ukur kepintaran dan kesuksesan anak di masa yang akan datang, sehingga anak dituntut untuk selalu mendapatkan nilai yang bagus atau sempurna. Lantas, ketika hasil belajar tersebut dibagikan, dan orangtua mendapati nilai anak di rapot jelek atau tidak sesuai dengan harapan orangtua, haruskah memarahi dan menghukumnya?

kumparan.com

 

Ketika orangtua merespon negatif dengan cara marah, memberi ceramah, ataupun menghukumnya, dengan harapan anak bisa lebih semangat belajar di masa mendatang. Padahal, tanpa disadari, hal tersebut justru membuat dirinya merasa lebih tertekan.

Semakin anak merasa tertekan, maka semakin besar pula anak akan memberikan respon negatif. Respon negatif yang ditunjukkan oleh anak bisa berupa penyesalan yang luar biasa, menyalahkan faktor lain, dan lebih parahnya lagi, mereka akan kehilangan kepercayaan diri. Alih-alih harapan orangtua terwujud, justru semangat belajarnya akan hilang.

Sebenarnya, jika nilai yang didapat anak tidak memuaskan, maka orangtualah yang perlu melakukan intropeksi, apalagi jika anak masih duduk di bangku sekolah dasar, lakukanlah intropeksi ketika sudah tenang, bukan dalam kondisi marah, kesal, pun kecewa. Apa yang perlu diintropeksi? Coba tinjau dan telaah kembali bagaimana proses belajar yang berlangsung selama ini.

Bagaimana caranya?

Pertama, bertanya. Hindarilah perkataan atau pertanyaan yang menghakimi anak, yang membuat anak justri menghindari untuk menceritakan keadaaan yang sesungguhnya. Ajukan pertanyaan yang membantu anak merefleksikan nilai rapot yang didapatinya.

Kedua, dengarkan. Dengarkanlah cerita anak sampai tuntas. Dengarkan dengan hati, jaga nada suara dan ekspresi wajah Anda. Pahami emosi yang dirasakan oleh anak. Biarkan semua uneg-uneg yang dirasakan oleh anak keluar secara tuntas. Uneg-uneg yang tertahan hanya akan membuat komunikasi orangtua dan anak jadi tersumbat.

Ketiga, refleksikan. Ajukan pertanyaan agar anak merefleksikan usaha anak. Ketika nilai rapor anak jelek, tanyakan apakah nilai itu sesuai harapan dan usahanya. Bila tidak sesuai harapan anak, tanyakan berapa nilai yang sebenarnya bisa dicapai oleh anak pada pelajaran tersebut. Ajak anak untuk berpikir mengenai perilaku belajar yang perlu diperbaiki agar mendapai nilai yang diharapannya tersebut. Atau bisa juga perilaku belajar baru yang perlu dibentuk pada masa mendatang.

Keempat, bangun komitmen. Bila sudah menemukan perilaku belajar yang perlu dilakukan, ajak diskusi untuk menyusun rencana. Tanyakan pada anak, dukungan yang dibutuhkan dari orangtua agar anak bisa menjalankan rencana tersebut.

Jadi, ketika mendapati nilai rapot anak jelek, sebaiknya orangtua tidak memberi respon negatif yang justru menghancurkan semangat belajarnya. Dengarkan dan dukung anak agar mampu bangkit atau semakin semangat belajar. Karena, semakin semangat belajar, semakin mudah pula untuk mencapai hasil yang lebih baik.

  • Bagikan
seruni.id