Sempat Dibully Karena Warna Kulitnya, Mutiara Kini Bertanding di Olimpiade Tokyo

  • Bagikan
Sempat Dibully Karena Warna Kulitnya, Mutiara Kini Bertanding di Olimpiade Tokyo

Seruni.id – Indonesia mengirimkan 28 orang untuk menjadi perwakilan di perletahan Olimpiade Tokyo 2020, di antaranya terdapat satu nama yang menyandang status atlet termuda, yakni Mutiara Rahma putri yang masih berusia 17 tahun.

Sempat Dibully Karena Warna Kulitnya, Mutiara Kini Bertanding di Olimpiade Tokyo

Kelolosan atlet pedayung Indonesia itu, sebenarnya di luar dugaan, mengingat nasibnya sempat ditentukan di babak kualifikasi. Mutiara Rahma Putri berhak lolos setelah berhasil menempati peringkat keempat pada babak kualifikasi pamungkas.

Keberhasilannya menempati urutan keempat akhirnya membuatnya lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. Sebelum membahas lebih jauh tentang prestasinya di dunia olharaga ini, Seruni ingin mengajak kalian untuk menelisik sepak terjang Mutiara sebagai atlet dayung.

Sempat Dibully

Mutiara Rahma Putri merupakan salah satu atlet dayung asal Indonesia yang lahir di Jambi pada 7 Juli 2004 silam. Usianya kini masih sangat muda, yakni 17 tahun.

Tia, demikian sapaan akrabnya, membagikan kisahnya sebelum kini mewakili Indonesia sebagai atlet dayung Olimpiade 2020. Rupanya, dulu ia sempat menjadi korban bullying. Menurutnya, itu terjadi karena warna kulitnya. Namun, ia tak ambil pusing atas bully-an yang ditujukan padanya itu.

“Saya sekolah dulu waktu SD pernah dibully karena jelek dan hitam. Jadi, sering dijauhin sama teman-teman. Ya saya mah santai saja menanggapinya.”

Ia merupakan lulusan SMP 7 dan kini sekolah di SMA 5 kota Jambi. Ia menceritakan awal mula ketertarikannya pada olahraga dayung (rowing) ini.

“Awalnya saya tertarik karena dosen abang saya lagi cari cewek yang tinggi untuk jadi atlet rowing. Terusa abang saya tawarin, baru saya coba-coba dulu latihan. Karena saya dulunya atlet renang. Jadi olahraga apapun selalu saya tekuni, masuk rowing itu sekitar tahun 2017,” kenangnya.

Banyak suka duka yang ia rasakan selama menjadi atlet rowing. Namun, ia tak merasa terbebani, justru merasa sangat senang karena bisa mendapatkan banyak teman.

“Lalu berlatih bersama-sama yang sangat seru dan hasil dari semua usaha yang sudah saya lakukan di olahraga rowing. Kalau duka, anak sebaya saya pasti lagi main-mainnya, tapi saya nggak bisa, saya harus latihan setiap hari, panas-panasan, hitam patinya,” ungkapnya.

Menjadi Perwakilan Indonesia

Kini, Tia merasakan buah perjuangan yang tak bisa melalui masa remajanya layaknya remaja lainnya. Dirinya menjadi perwakilan Indonesia termuda. Mutiara bertanding di cabang olahraga dayung bersama rekannya Melani Putri.

Ketika mengetahui bahwa dirinya lolos di cabang olahraga dayung nomor lightweight women’s double sculls (LW2x), dia merasa tak menyangka. Dia sangat bahagia hasil kerjanya membuahkan hasil.

“Bangga dan nggak menyangka karena dari awal nggak ada target untuk lolos. Sebelum olimpiade ya kita latihan apa yang sudah difokuskan pelatihan dan target-target latihan yang sudah ditentukan,” terangnya.

Untuk bertanding di Olimpiade Tokyo 2020, dara 17 tahun ini membutuhkan waktu selama sembilan bulan untuk mempersiapkannya. Selain berlatih, ia juga mengonsumsi makanan yang bergizi agar tetap prima.

Awal Mula Berhijab

Selain kiprahnya sebagai atlet dayung, Tia juga menceritakan awal mula dirinya berhijab pada 2018 lalu. Ada perubahan yang dirasakan selama dirinya berhijab, yakni lebih merasa tenang, nyaman, dan selalu dilindungi oleh Allah SWT.

“Saya lebih merasa tenang, nyaman, merasa selalu dilindungin sama Allah SWT. Dan terus selalu diberi rezeki sama Allah SWT yang berlimpah, alhamdulillah,” ucapnya.

Meski demikian, ada saja komentar yang kurang menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, komentar tersebut sempat membuatnya sedih.

“Dari lingkungan termasuk kesulitan, dari semua komentar mereka terhadap hijabku itu juga membuat saya pernah merasa down,” ujarnya.

Namun, dari bully-an dan komentar tak mengenakan itu, kini Tia berhasil membuktikan jika ia bisa berpresiasi dengan memakai hijab. Apalagi sewaktu dia dan rekannya Melani yang juga berhijab dinyatakan lolos mengikuti Olimpiade Tokyo 2020.

“Yang dulu ngebully saya ada yang mengucapkan selamat kepada saya waktu saya lolos Olimpiade. Tapi semua sudah berlalu sudah saya lupakan, pertemanan tetap baik,” tambahnya.

Tak ada kendala yang ia temui selama berhijab. Sebab, baginya hijab bukanlah penghalang untuk tetap meraih impian.

“Saat mengikuti lomba alhamdulillah nyaman. Selalu diberi kelancaran karena selalu menutup aurat. Walau pertama-tama kurang nyaman tapi semua pasti terbiasa karena biasa,” imbuhnya.

Bagi kamu yang pernah dibully, Tia memberikan semangatnya. Menurutnya, jangan pernah tanggapi bullying tersebut dan buktikan jika kamu bisa berhasil.

“Ambil saja baiknya dari bully-an mereka, buang buruknya. Buktikan kepada mereka bahwa kalian nggak seburuk yang mereka pikirkan. Jangan balas dengan kekerasan ataupun dengan cacian balik. Tapi balas lah bully-an mereka dengan kesuksesan kalian, semangat roda selalu berputar,” ujarnya panjang lebar.

Baca Juga: 5 Fakta Windy Cantika, Atlet Angkat Besi Peraih Medali Pertama RI di Olimpiade 2020

Prestasi yang Diraihnya

Adapun prestasi yang pernah ia raih yakni sebagai berikut:

  • Mendali Emas POPNAS XV Situ Cipule Karawang Jawa Barat 2019
  • Mendali Emas Kejurnas Palembang 2018
  • Mendali Perunggu Kerjurnas Palembang 2017
  • Mendali Emas dan Perunggu PPLP Sultra Bau Bau 2018
  • Mendali Emas PPLP Jambi 2019
  • Mendali Emas Kejurnas Jambi 2019
  • Mendali Perunggu SEA Games Philipina 2019
  • Mendali Emas SEARF Junior Thailad
  • Debut pertama lolos Olimpiade Tokyo 2021.
  • Bagikan
seruni.id