Asya, Wanita yang Jatuh Cinta dengan Islam dan Ingin Mati dalam Keaadaan Muslim

  • Bagikan
Asya, Wanita yang Jatuh Cinta dengan Islam dan Ingin Mati dalam Keaadaan Muslim
lifestyle.okezone.com

Seruni.id – Anastasia atau Asya adalah seroang wanita asal Uni Soviet yang terlahir dari keluarga non-muslim. Ayahnya seorang militer yang tegas, sehingga ia dilarang mengikuti agama apa pun.

Asya, Wanita yang Jatuh Cinta dengan Islam dan Ingin Mati dalam Keaadaan Muslim
berhijab.com

Terlahir dari Keluarga Non Muslim

Asya, begitulah kedua orangtuanya memanggilnya. Tanpa disadari, nama tersebut di kemudian hari menjadi nama barunya ketika menjadi seorang Muslimah.

Gadis yang terlahir sebagai seorang Kristen ini, sempat mendalami Yudaiseme, kemudian kembali ke Kristen, hingga akhirnya mendalami agama Islam yang membuat dirinya merasa damai. Lantas, bagaimana kisah perjalanan Asya dalam menemukan Islam?

Perjalanannya dalam menemukan Islam penuh dengan gejolak. Kedua orangtuanya terlahir sebagai orang Kristiani, akan tetapi mereka tidak terlalu religius, lantaran sang ayah seorang perwira militer dan di bawah rezim Soviet, di mana mereka dilarang keras untuk mengikuti agama apa pun.

Namun, pasca bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 silam, Asya dan keluarganya memutuskan untuk menetap di Ukraina. Suatu ketika seorang teman memberikan hadiah sebuah buku bergambar kecil tentang Tuhan. Ini menjadi kali pertamanya ia mengenal Tuhan dan mulai terpesona.

Mengingat perkenalan pertamanya pada hal-hal ‘Godly’, masih teringat jelas apa yang dilihatnya pada buku tersebut pada kala itu.

“Saya masih ingat apa yang saya lihat di buku. Isinya gambar-gambar indah seperti apa surga itu, penuh dengan bunga-bunga eksotis dan orang-orang cantik yang tersenyum mengenakan jubah putih. Itu meninggalkan kesan yang dalam di benak saya.”

“Maju cepat ke tahun-tahun selanjutnya ketika saya datang ke UEA pada tahun 2020. Saya melihat pria mengenakan kandooras putih yang indah dan itu mengingatkan saya pada buku itu. UEA tidak kurang dari surga bagi saya,” katanya.

Dipabtis

Ketika di bangku sekolah, Asya melihat mayoritas temannya mengenakan liontin salib suci yang digantungkan pada leher mereka. Melihat hal tersebut, ia lantas bertanya pada sang ibu. Hingga akhirnya ibunya membaptisnya dan Asya pun mulai mendalami agama Kristen.

“Saya memulai perjalanan saya sebagai seorang Kristen dengan semangat dan antusiasme yang besar, tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak dapat menemukan jawaban atas banyak pertanyaan yang menghantui pikiran saya. Saya tidak dapat memahami perlunya menyembah berhala orang suci dan pendeta untuk terhubung dengan Tuhan,” jelasnya.

“Saya berpikir, mengapa saya perlu melakukan ritual ini untuk berbicara dengan Tuhan dan tidak bisakah saya terhubung langsung dengan-Nya dengan damai? Ketika saya beralih ke dunia modern, saya semakin tersesat karena saya melihat tidak ada sistem nilai, tidak ada ketulusan dan kepercayaan,” kata Asya. Dilansir dari laman Khaleej Times.

Asya dilanda kebingungan, bahkan ia tidak tahu harus pergi ke mana. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari bantuan dari seorang pendeta Kristen. Saat itu, ia dinasihati agar menjadi seorang biarawati saja dan meninggalkan dunia.

Namun, nasihat itu tidak lantas membuatnya merasa tenang. Asya justru dihadapkan dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi.

“Ketika pendeta meminta saya untuk mengadopsi monastisisme dan meninggalkan pengejaran duniawi dan mengabdikan diri sepenuhnya pada pekerjaan spiritual, sesuatu di dalam diri saya memberontak. Saya merasa bahwa itu bukanlah cara yang Tuhan inginkan,” katanya.

“Saya ingin menjadi seorang istri dan ibu, dan ini adalah hubungan, emosi dan perasaan yang diberikan kepada kami oleh Tuhan. Saya berpikir mengapa Tuhan ingin kita meninggalkan dunia dan meninggalkan hubungan ketika Dialah yang telah memberi kita dunia ini dengan semua hubungan ini di sekitar kita,” ujarnya.

Beralih ke Yudaisme

Saat usianya menginjak 23 tahun, kemudian ia beralih ke Yudaisme sebelum akhirnya kembali ke Kristen. Namun sayang, lagi-lagi ia tak juga menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang selama ini dicari.

Entah mengapa, saat itu dirinya mulai tertarik dengan Islam. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah berpikir untuk mendekati Islam. Apalagi, mata hatinya seolah ditutupi oleh pemberitaan yang beredar terkait tentang Islam.

“Saya tidak pernah berpikir untuk mendekati Islam karena ketakutan yang tertanam di hati saya dengan apa yang saya lihat, dengar dan baca di saluran media. Namun, menemukan diri saya dalam kekosongan spiritual, saya memutuskan untuk mendalami Islam dan saat itulah saya kebetulan menemukan kisah Yesus dan ibunya Maria dalam Islam,” jelasnya.

“Saya bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa cerita ini memiliki karakter yang mirip dengan yang saya baca dalam agama Kristen. Ini membuat saya terpikat dan saya mulai membaca tentang Islam. Saya tidak percaya bagaimana satu per satu, semua pertanyaan saya terjawab karena saya terus membaca lebih banyak tentang Islam,” ujarnya.

Yakin dengan Islam

Setelah empat bulan melakukan penelitian, Asya pun semakin yakin bahwa Islam adalah panggilannya dan mencoba terhubung dengan seorang Muslim untuk diajak berbicara. Ia menceritakan segala dilema yang ia alami selama ini.

“Teman saya, dengan siapa saya mendiskusikan dilema saya, bercerita tentang seorang gadis lain yang telah masuk Islam dan menyarankan saya untuk berhubungan dengannya. Saya mencoba mengirim pesan kepadanya di media sosial, tetapi tidak menerima tanggapan apapun selama seminggu,” ujarnya.

“Suatu malam saya menangis kepada Tuhan dan berkata saya lelah, sedih dan kecewa. Katakan padaku jika Islam adalah jalan bagiku atau berikan aku kedamaian, aku tidak bisa lari lagi. Keesokan paginya saya mendapat pesan di kotak masuk saya. Saya merasa itu dari Allah. Gadis Muslim yang ingin saya ajak bicara (namanya Khadijah) telah menjawab dan dia mengundang saya untuk menemuinya di sebuah taman,” kata Asya.

Saat pertama kali ia melihat Khadijah, dia tampak seperti seorang bidadari berhijab dan mengenakan abaya. Khadijah menjawab segala pertanyaan Asya, sebab dahulu ia pun pernah melalui situasi yang sama. Khadijah pun kemudian bertanya kepada Asya apakah dia ingin mengucapkan Syahadat.

“Saat saya sedang berpikir, Khadijah mengatakan sesuatu yang mengguncang saya. Dia berkata hidup tidak dapat diprediksi, jadi lebih baik kamu putuskan sekarang apakah kamu ingin mati sebagai seorang Muslim atau tidak,” kata Asya bercerita.

“Pada saat itu, hatiku berkata aku ingin masuk ke dalam Islam dan mati sebagai seorang Muslim. Kami kemudian pergi ke sebuah masjid di Kiev di Ukraina di mana saya mengucapkan Syahadat. Saya akhirnya merasa puas, bahagia dan damai sepenuhnya. Saya telah menemukan apa yang saya cari,” jelasnya.

Sejak ia mengikrarkan dua kalimat syahadat, sejak saat itu pula ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, memahami bahasa Arab, dan menyempurnakan doanya. Walaupun orangtua dan saudara kandungnya masih beragama Kristen, tapi Asya mengatakan bahwa mereka masih mencintainya dan menghormati pilihannya.

Baca Juga: Kisah Mantan Model Isya Jeeperson yang Kini Menjadi Mualaf

Terlebih sang ibu, yang dulu sangat menentang keputusannya, kini justru mendukung, bahkan tak segan-segan ia memberikan bermacam-macam hijab untuk sang putri.

“Ibu saya yang tadinya menentang hijab, sekarang belanja hijab warna-warni untuk saya, karena dia tahu saya suka,” kata Asya.

  • Bagikan
seruni.id