Berawal dari Kamar ART, Yessy Menemukan Hidayah Hingga Jadi Muslimah

  • Bagikan
Berawal dari Kamar ART, Yessy Menemukan Hidayah Hingga Jadi Muslimah

Seruni.id – Skenario Allah SWT selalu lebih indah dari rencana kita. Terlebih, dalam menemukan hidayah Islam. Sebagaimana kisah dari seorang mualaf bernama Yessy Dwy Sulyani, di mana ia menemukan hidayah dan jatuh cinta pada Islam dari kamar sang asisten rumah tangga (ART). Bagaimana kisah selengkapnya?

Saat dirinya masih duduk di sekolah dasar (SD), keluarganya memiliki seorang asisten rumah tangga beragama Islam. Mereka memanggilnya dengan sebutan Mbak Zahra. Bisa dibilang, ia merupakan asisten yang bekerja giat dan rapi.

Mengenal Islam dari sang ART

Mbak Zahra, juga dikenal sebagai Muslim yang taat, di sela-sela kesibukannya mengurus rumah, ia tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Ibadah tersebut, ia lakukan di dalam kamar kecilnya dengan pintu tertutup. Sebab, ia khawatir tampak dari pandangan sang tuan rumah.

Padahal, majikannya tak pernah melarangnya untuk melakukan ibadah tersebut. Sholat secara sembunyi-sembunyi dilakukan atas keinginannya sendiri. Kamar Mbak Zahra, terletak di belakang rumah, tepatnya di dekat dapur. Sedangkan kamar Yessy berada agak jauh darinya.

Namun, entah mengapa, ia dapat mendengar suara ART-nya sedang membaca Al-Qur’an. Mungkin inilah cara Allah menyampaikan hidayah kepadanya. Meski sayup-sayup terdengar, tapi hal tersebut membuatnya begitu tertarik.

“Saya tertarik dengan apa yang sedang dilantunkan Mbak Zahra. Makanya, saya mendatanginya ke kamar,”.

Wanita berdarah Tionghoa itu pun, menghampiri asal suara tersebut, dan melihat secara sembunyi-sembunyi dari tirai jendela. Benar saja, ia menemukan ART-nya sedang mengaji dengan mengenakan muekana. Ini menjadi pemandangan yang indah baginya.

Ia masih terheran-heran, mengapa suara tersebut begitu terdengar sampai ke kamarnya. Padahal, letak kamar mereka berdua itu berjauhan dan suara mengajinya pun tidak terlalu keras bahkan sangat lirih.

“Suaranya tidak keras, malahan sangat pelan. Seharusnya, itu hanya terdengar olehnya, tetapi saya masih bisa mendengarnya dari kamar saya,” kata wanita berusia 43 tahun itu.

Semakin Penasaran dengan Islam

Sejak saat itu, ia mulai sering bermain ke kamar Mbak Zahra. Meski masih kecil, tapi dia sangat penasaran dengan ibadah yang dilakukan oleh mbaknya itu. Lagi-lagi, segala tentang Islam membuatnya jatuh hati, ketika melihat sang ART memakai mukena, ia rasanya ingin juga mengenakannya.

Bahkan, ia sempat meminta agar dibelikan. Namun, Mbak Zahra tidak mengindahkan permintaan tersebut. Sebab, sebagai asisten rumah tangga, ia khawatir jika hal tersebut justru membuat majikannya marah. Lantas, apakah Yessy kemudian enggan mencari tahu lagi tentang Islam?

Tentu tidak. Ia bukanlah anak yang mudah menyerah. Meski ditolak, ia tetap bersikukuh berusaha untuk bisa mendapatkan mukena dan Al-Qur’an tersebut. Dengan cara apa? Yessy selalu menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajannnya. Ketika sudah terkumpul, ia langsung menggunakan uang tersebut untuk membelinya.

Pada suatu siang, ia memberanikan diri untuk pergi ke toko buku terbesar yang ada di Matraman, Jakarata. Tanpa ragu, ia mulai menghampiri rak-rak buku agama, ia pun menemukan apa yang dicari, yakni kitab suci Al-Qur’an.

Setibanya di rumah, lembar demi lembar Al-Qur’an mulai ia buka. Namun, betapa terkejutnya saat mengetahui tak ada satu lembar pun tulisan yang dapat dipahaminya. Yessy tak menyangka, bahwa tulisan di dalam Al-Qur’an tidak sama seperti buku yang biasa dia baca. Karena bingung, ia pun menanyakan kepada Mbak Zahra.

“Memang tulisannya seperti itu. Ini namanya bahasa Arab. Jika ingin membacanya, harus belajar,” ucap Yessy menirukan jawaban pembantunya itu.

Ikut Melaksanakan Puasa dan Tarawih

Kisah masih terus berlanjut hingga bulan Ramadhan tiba. Bulan yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam. Memasuki bulan suci, Yessy sangat antusias menyambutnya. Bahkan, ketika Mbak Zahra berpuasa, ia pun ikut berpuasa. Padahal sang ART tidak pernah menyuruh apalagi mengajak.

Yessy memang sangat tertarik pada Islam. Saat Mbak Zahra pergi sholat tarawih ke masjid, diam-diam ia membuntutinya. Agar kedua orangtuanya tidak curiga, Yessy selalu beralasan hendak bekerja ke kompok di rumah temannya. Cara tersebut berlangsung terus-menerus sepanjang bulan Ramadhan.

Bukan hanya tarawih, berpuasa pun dilakukannya secara diam-diam. Meski hal tersebut cukup mendebarkan baginya. Sebab, ia harus menahan lapar dan haus selama beberapa jam hingga waktu berbuka.

Sesekali, orangtuanya menawarkannya makan siang, tapi ia selalu membawa makanan dan minumannya masuk ke dalam kamar. Bukan untuk dimakan, melainkan hanya ia letakkan di atas meja dan baru akan dimakan ketika waktu berbuka tiba. Begitupun ketika sahur.

Dirinya pernah ketahuan ketika bangun pada dini hari dan mencari makanan. Karena takut rahasianya terbongkar, ia pun beralasan lapar pada saat itu. Berhari-hari, cara tersebut ia lakukan demi berpuasa Ramadhan meski belum berislam.

Ketahuan Orangtuanya

Namun, sepandai-pandainya bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga. Siasat yang selama ini ia lakukan pun akhirnya terbongkar. Saat itu, orangtuanya marah dan memecat Mbak Zahra, karena orangtuanya menganggap, bahwa ART-nya itulah yang mempengaruhi sang anak untuk mengikuti ajaran Islam.

Kepergian Mbak Zahra membuatnya patah arah, ia seperti anak yang kehilangan induknya. Saat itu, tak ada lagi pembimbingnya dalam mengenal Islam.

Namun bersyukurnya, saat itu ia menempuh pendidikan menengah di sekolah negeri. Di mana pada masa itu, kurikulum agama hanya meruangkan pelajaran agama Islam. Alhasil, murid-murid yang beragama non Muslim diperbolehkan untuk tidak mengikuti pejalaran.

Meski gurunya sudah mengizinkan Yessy untuk meninggalkan kelas, tapi dirinya enggan melakukannya. Ia justru mengikuti jalannya pembelajaran agama Islam hingga usai.

Karena itu, sedikit demi sedikit, ia mulai memahami beberapa aspek dalam ajaran Islam. Seiring berjalannya waktu, tibalah saatnya ujian kelulusan. Waktu itu, ia sering melewatkan ibadah mingguan, termasuk sekolah iman di tempat ibadahnya. Sehingga, pada pada ujian, ia angkat tangan.

“Saya hanya bisa mengerjakan soal agama Islam karena selama di sekolah ini saya belajar agama itu saja. Karena jumlah kertas ujian disesuaikan dengan jumlah murid, soal agama Islam pun kurang. Pihak sekolah lantas memanggil kedua orang tua saya,” tutur dia.

Karena khawatir sang anak tidak lulus sekolah, maka ayah dan ibunya terpaksa mengizinkan Yessy untuk mengejakan soal mata pejalaran agama Islam. Meski sesampainya di rumah, Yessy justru mendapatkan peringatan dari kedunya.

Walaupun ibu dan ayahnya sudah memberikan peringatan, tidak menjadi alasan untuk melunturkan ketertarikannya pada Islam. Keinginannya untuk memeluk Islam justru kian menguat. Segala upaya pun ia lakukan, salah satunya adalah menemukan tempat untuknya belajar mengaji.

Pilihan pun jatuh pada sebuah madrasah yang tak jauh dari rumahnya. Akan tetapi, guru-guru di sana tidak berani mengajarkan materi keislaman. Alasannya, karena saat itu Yessy belum memeluk Islam.

Bahkan, mereka pun masih menimbang-nimbang untuk membimbingnya bersyahadat. Sebab, ada kekhawatiran, jika orangtua Yessy justru akan melabraknya. Karena merasa tak ada satu pun orang dewasa yang membimbingnya, ia pun memutuskan untuk bersyahadat sendiri. Saat itu, dirinya hanya didampingi sejumlah teman.

Namun, perasaannya masih belum puas. Tiba-tiba, ia teringat kembali pada Mbak Zahra, terutama momen ketika dirinya membeli Al-Qur’an. Ia pun berencana untuk kembali membeli Al-Qur’an yang tidak hanya berisi ayat-ayat suci saja, tapi juga ada terjemahannya.

Dengan adanya terjemahan, setidaknya ia bisa lebih memahami kandungan Al-Qur’an. Meski saat itu, keputasannya penuh dengan risiko. Sebab, orangtuanya sudah memberi peringatan padanya agar tidak lagi mendekati ajaran Islam.

Singkat cerita, ia pun akhirnya menemukan mushaf Al-Qur’an dengan terjemahan. Ia membuka lembaran Al-Qur’an secara acak. Namun, padangannya tersita pada teks terjemahan surat an-Nisa ayat 171-172.

Di antaranya berarti, Al-Masih (Isa) sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

Yessy merasa begitu terkesan dengan ayat tersebut, hingga membuatnya semakin yakin untuk memeluk Islam. Syahadat yang telah diucapkannya kian kokoh dalam hati, lisan, dan perbuatannya.

Bekerja di Sebuah Perusahaan

Setelah dirinya lulus kuliah, ia sempat bekerja pada sebuah perusahaan besar. Namun, rutinitasnya tidak semudah yang ia bayangkan. Sebab, mayoritas pegawai dan atasan beragama non-Islam. Hanya tiga orang Muslim, termasuk Yessy, di kantornya itu.

Lebih sulit lagi bagianya, ketika KTP-nya belum mencantumkan status agama Islam. Ia pun curiga, pihak kantor memudahkannya untuk mendaftar karena alasan itu. Tak jarang, ia bertanya kepada rekan kerjanya sesama Muslim, bagaimana mereka sholat.

Betapa terkejutnya ia, ketika mengetahui kedua Muslim tersebut meninggalkan sholat ketika bekerja di sana.Yessy menolak mengikuti cara demikian. Dicarinya kiat agar selalu bisa mendirikan sholat lima waktu.

Karena anak pemilik perusahaan sering datang dan membawa anjing, ia khawatir banyak tempat yang terkena liur, akhirnya ia mencari ruangan tersembunyi. Namun, yang tersisa hanyalah bangku semen yang tak cukup untuk duduk.

Lama kelamaan, pihak kantor pun mengetahui bahwa ia adalah seorang Muslimah. Namun, bukan menghargai perbedaan, atasannya justru berinisiatif untuk mengembalikan Yessy ke agama sebelumnya. Sampai-sampai, seorang rohaniawan dipanggil oleh mereka ke kantor.

Merasa tak tahan dengan perlakukan tersebut, ia memilih untuk meninggalkan pekerjaannya. Ia mencari profesi lain. Tidak lama kemudian, dirinya diterima di salah satu bank syariah.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Sejak dirinya menikah dan memiliki anak, Yessy memutuskan untuk hengkang dari dunia perbank-an. Kini ia hanya fokus menjadi penulis penuh waktu.

Namun agar lebih legal, Yessy diajak rekannya, Endah dan dikenalkan kepada PITI. Pada 2015 lalu, Yessy kemudian bersyahadat secara resmi disaksikan oleh Ketua Umum PITI saat ini Denny Sanusi. Dan dia berkeinginan untuk umroh setelah bersyahadat.

Baca Juga: Kisah haru, Mualaf Bersyadahat di Atas Meja Operasi

Satu tahun kemudian keinginanya tecapai. Pada 2016, Yessy dapat melaksanakan umroh. Dan hal membahagiakan lainnya adalah satu tahun kemudian sang ayah bersyahadat.

  • Bagikan
seruni.id