Kisah haru, Mualaf Bersyadahat di Atas Meja Operasi

Kisah haru, Mualaf Bersyadahat di Atas Meja Operasi

Seruni.id – Graciella Victoria Safira, wanita cantik yang menjadi seorang mualaf. Ia adalah salah satu orang yang dipilih Allah untuk dapat menjemput hidayah Islam, meskipun ia harus bersyahadat di atas meja operasi. Mahasiswa Komunikasi Penyiaran islam di Institut Ilmu Al-Qur’an, Jakarta, ini membeberkan kisah mualafnya melalui kanal YouTube ‘Ngaji Cerdas’.

Ibunya Lebih Dulu Memeluk Islam

Jauh sebelum dirinya menjadi mualaf, ibunya yaitu Elisabeth Janita Ruru, lebih dulu memeluk Islam. Namun, ia tak pernah memaksakan sang anak untuk ikut dengan keyakinannya.

Meski keyakinan mereka berbeda, tetapi naluri seorang ibu dan anak tidak bisa dipisahkan begitu saja. Bahkan, ibunya tetap mengantarkan Ciela, begitu sapaan akrabnya, ke gereja untuk beribadah.

“Sebelum-sebelumnya Umi tetap anterin ke gereja. Pokoknya tetap menjalankan masing-masing,” kata Ceila.

Kala dirinya duduk di bangku kelas 9 SMP, Ceila pernah menderita penyakit skoliosis, yang sudah mencapai kemiringan hampir 90 derajat. Kondisi ini mengharuskannya melakukan operasi.

Pernah suatu ketika, saat mereka melewati Ramadhan bersama-sama dengan agama yang berebeda, Ceila meminta untuk ikut salat tarawih dengan sang ibu. Sebab, ia merasa sangat bosan di rumah.

Ini menjadi kali pertamanya Ceila melakukan salat. Padahal, ia sama sekali tidak tahu bagaimana tata caranya. Apalagi, saat itu, ia harus salat tarawih sebanyak 23 rakaat.

“Jadi aku sempat sama Umi, kan pada sering tarawih, kita melewati Ramadhan bersama yang kita masih beda. Terus lucunya aku minta ikut salat tarawih pada saat itu. Kata Umi kalau mau ikut salat tarawih ya pakai mukena. Ya sudah enggak apa-apa deh. Waktu itu belum masuk Islam, karena aku sakit terus bosen gitu di rumah.” ujarnya.

“Itu pertama kalinya salat dalam hidup aku 23 rakaat, rasanya masya Allah banget. Bener-bener sampai malam,” ungkapnya.

Menjelang Hari Operasi

Sang ibu tak pernah melarangnya jika Ceila ingin mencoba setiap hal yang berhubungan dengan Islam. Karena ia tak ingin memaksakannya.

Menjelang hari operasi, ada sebuah kendala yang terjadi. Sehingga sang ibu mengadakan pengajian untuk mendoakan Ceila. Meski saat itu masih belum menjadi mualaf, ia tetap menghormati sang ibu dengan mengenakan kerudung selama pengajian berlangsung.

Dari pengajian tersebutlah kemudian ia bertemu dengan salah seorang ustadz, yakni Ustadz Doddy Al Jambary. sang Ustad berkata bahwa karena pengajian yang digelar untuk mendoakan Ceila, ia dapat bertemu dengan seorang jamaah yang sudah lama tidak ditemui. Kemudian percakapan tersebut berlanjut dengan sharing antara sang Ustad dan Ceila tentang Islam.

“Dijelasin kalau di Islam tetap percaya sama Nabi Isa, tapi bukan sebagai tuhan, tapi sebagai nabi. Dijelasin runtutannya sama Ustad Doddy,” imbuhnya.

Saat itu, dirinya masih belum berani untuk memeluk Islam, tapi Ustadz Doddy mengatakan bahwa niat baik harus disegerakan. Percakapan tersebut, sebelumnya tak pernah ia ceritakan pada sang ibu, karena menurutnya ini adalah hal sensitif.

Bersyahadat di Atas Meja Operasi

Namun, lama-kelamaan, sang ibu akhirnya mengetahui percakapan tersebut saat ia melilhat pembicaraan Ceila dengan sang Ustadz di handphone Ceila. Barulah ia benar-benar yakin untuk memeluk Islam, meski saat itu masih belum terealisasikan, karena dirinya harus menjalani operasi. Sang Ibu diizinkan masuk ke ruang operasi untuk menemani Ceila karena ia terus menangis dan ketakutan.

“Karena aku nangis enggak bisa dimasukin obat bius, akhirnya umi masuk ke kamar operasi. Di situ momennya di mana umi bilang kita mau berdoa. ikutin Umi ya, mau baca Al Fatihah enggak. Dituntun zikir, berdoa, dan lain-lain,“ ungkapnya.

Menurut cerita sang ibu, kala itu Ceila sudah berada di atas meja operasi, tapi dirinya meminta untuk bersyahadat.

“Dia bisikkan ke aku , ‘Aku (Ceila) kayaknya mau syahadat.’ Dia aku peluk nangis gitu. Dia bilang mau syahadat. Aku tanya yakin? Ya kalau mau syahadat, kita baca sekarang,” ujar Ibunda Ceila.

Ketika dia benar-benar sudah yakin, akhirnya ia pun membaca dua kalimat syahadat yang dibimbing oleh ibunya. Pembacaan kalimat syahadat berlangsung haru di atas meja operasi yang saat itu ada para dokter suster. Setelah bersyahadat, Ceila tidak sadarkan diri karena obat bius.

Baca Juga: Tetap Teguh dengan Islam Meski Diiming-imingi Uang Rp1 Miliar

Hingga kini, sudah lima tahun lamanya Ceila memeluk agama Islam dan ia menegaskan bahwa keluarganya tidak pernah memengaruhi untuk mengambil keputusan tersebut. Menjadi mualaf adalah murni keinginan Ceila. Ia juga tidak mencari tahu tentang Islam melalui keluarganya, tetapi bertanya kepada Ustadz.