Kisah Haru, Seorang Ibu Mengayuh Sepeda Demi Menemani Anaknya Olimpiade

  • Bagikan
Kisah Haru, Seorang Ibu Mengayuh Sepeda Demi Menemani Anaknya Olimpiade
extranews.com

Seruni.id – Setiap orangtua terutama ibu, menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apa pun rela dilakukan demi kebahagiaan dan cita-cita sang buah hati. Sekalipun terasa lelah, tapi ia tak peduli. Sebab, prioritasnya adalah kebahagiaan sang anak.

Kisah Haru, Seorang Ibu Mengayuh Sepeda Demi Menemani Anaknya Olimpiade
malang.suara.com

Seperti yang dilakukan seorang ibu dan anak yang belakangan viral di media sosial. Mereka adalah Sulastri (37) dan anaknya Aditya Saiful Anam (12) warga Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Mengayuh Sepeda 18 Kilometer

Keduanya menjadi sorotan warganet setelah salah seorang pengguna TikTok @fyan003 mengunggah video kebersamaannya. Video tersebut bukan mengisahkan tentang kemewahan atau seberapa banyak harta yang dimiliki.

Melainkan menunjukkan potret perjuangan seorang ibu yang mengayuh sepeda sejauh 18 kilometer demi menemani anaknya mengikuti olimpiade karate.

Mereka memang datang dengan sepeda tua. Sedang banyak saingannya diantar dengan menggunakan mobil. Namun, hal tersebut tidak menjadi alasan yang menyurutkan semangatnya. Ia justru tetap fokus untuk membuat ibunya bangga.

Terbukti, karena usaha dan dukungan dari sang ibu, Saiful berhasil merebut gelar juara dan meraih piala dari olimpiade tersebut. Piala yang diperolehnya, tampak langsung dibungkus dan diletakkan sang ibu di keranjang sepedanya.

“Singkat cerita, sang ibu mendampingi anaknya olimpiade dan anak tersebut mendapatkan juara,” tulis pemilik akun.

“Walaupun banyak saingannya yang diantarkan membawa mobil, tapi jagoan satu ini tidak memandan itu, yang dia tahu hanya memuat ibunya bangga,” sambungnya.

Terlihat dari video tersebut, usai memenangkan lomba dan meraih piala, keduanya pun bergegas untuk pulang. Senyum semringah pun menghiasi wajah keduanya. Mereka pulang dengan mengendarai sepeda masing-masing. Tampak piala yang didapatkan anaknya diikat dan ditaruh di atas keranjang agar tidak terjatuh.

Lebih Semangat Karena Ada Sang Ibu

Saiful memang sengaja ingin ditemani ibunya. Sebab menurutnya, kehadiran sang ibu, akan membuatnya semakin bersemangat untuk berkompetisi. Mengauh sepeda pun sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.

“Ya saya ke sana ke sini latihan ya pakai sepeda pancal. Khusus untuk lomba kemarin, saya ajak ibu, karena jika ada ibu saya lebih semangat,” katanya dikutip dari laman suara.

Siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) itu, mengaku semangatnya lebih terpacu jika sang ibu menemaninya. Hal tersebut ia buktikan, ketika dirinya meraih juara harapan 1 di kejuaraan karate tersebut.

“Iya baru pertama ini juawa. Dulu waktu kelas dua kalau gak salah, pernah juga ikut lomba di Bali. Tapi tidak juawa. Waktu itu berangkat sendiri,” lanjutnya.

Bercita-cita Menjadi Polisi

Seni bela diri karate ini, sudah ia tekuni sejak enam tahun lalu. Ketertarikannya pada karate didasari oleh cita-citanya yang ingin menjadi polisi.

Terlebih, ia sempat berbincang dengan anggota polisi kala usianya masih lima tahun. Selayaknya kepolosan anak-anak, ia menanyakan bagaimana caranya agar menjadi polisi, lalu dijawab harus pintar bela diri.

“Sejak saat itu, saya bilang ke ibu ingin karate dan didukung,” kenangnya.

Seorang ibu, pasti akan selalu mendukung hal positif yang dilakukan oleh buah hatinya. Begitupun dengan Sulastri, ia selalu mendukung apa yang Saiful inginkan dan berjanji akan mengusahakan sesuai kemampuannya.

“Tapi saya bilang ke Ipul saya hanya bisa segini. Kayak kemarin ibu hanya bisa ngantar pakai sepeda pancal begitu. Tapi dia senang dan selama perjalanan itu dia selalu sholawatan untuk doa,” ujarnya.

Saiful sendiri adalah pribadi yang memiliki tekad yang besar, karena ia ingin membahagiakan ibu dan almarhum ayahnya.

“Ayahnya meninggal saat saya melahirkan Ipul ini. Ipul ini sejak kecil memang ingin membanggakan saya sama ayahnya,” kata dia.

Baca Juga: 35 Kata-kata Cinta untuk Orangtua dari yang Termanis Hingga Tersedih

Bahkan, di tengah kesibukannya menuntut ilmu dan berlatih karate, ia selalu menyempatkan diri untuk membantu ibunya mencari barang bekas untuk dijual kembali.

“Ya saya kan kerjanya mengumpulkan rongsokan. Biasanya Ipul itu ikut kayak kemarin pas kejuaraan pulangnya ya saya nyari di gang-gang Kota sampai Kabupaten sama Ipul. Dia pun gak masalah. Dia berbakti sama orang tuanya,” tutur dia.

  • Bagikan
seruni.id