Nur Adiba: “Setelah Menjadi Mualaf Saya Merasa Lebih Dihormati”

Nur Adiba: “Setelah Menjadi Mualaf Saya Merasa Lebih Dihormati”
ilustrasi gambar

Seruni.id – Sejatinya berpindah keyakinan bukan perkara mudah. Banyak rintangan dan cobaan yang harus dihadapi, seperti yang dialami oleh seorang mualaf asal Nias, Sumatera Utara, Nur Adiba.

Nur Adiba: “Setelah Menjadi Mualaf Saya Merasa Lebih Dihormati”
google.com

Perjalanan Menjadi Mualaf

Sejak 2018 lalu, ia memutuskan untuk bersyahadat dan memeluk agama Islam. Ia mengaku, banyak sekali cobaan yang datang bertubi-tubi pada dirinya. Namun, ia berusaha tetap istiqomah.

Wanita yang duduk di salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini menceritakan terjalnya dalam menjemput hidayah seperti yang dilansir dari eramuslim. Sebelum resmi menjadi seorang Muslim, ia memang kerap berkumpul bersama teman-teman Muslimnya.

“Teman-teman saya orang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). (Red. saya gabung) yang namanya anak rantauan kan ada aja, cari cara bagaimana dia bisa hidup, bisa makan,” kata Nur Adiba saat ditemui di Masjid Darussalam Kota Wisata.

Sekian lama berkumpul dan bergaul dengan teman yang mayoritas Islam, ia mulai ada ketertarikan. Apalagi ketika melihat teman-temannya itu shalat dan lainnya. Namun, masih terbesit keraguan dalam dirinya, mengingat keluarganya adalah non Muslim.

Berawal dari Mimpi

Suatu ketika, Adiba terbangun dari tidurnya, tetapi seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan hanya matanya saja yang terbuka. Lantas di hadapannya, ia melihat sosok laki-laki berjanggut, dengan wajah bersih dan kemudian melemparkan senyuman manis kepadanya.

“Anehnya kaki dan tangan saya enggak bisa gerak, (mata) kebuka ada orang jenggotan, putih, bersih banget mukanya. Enggak tahu itu orangnya, enggak bisa digambarin. Dia datang ke saya senyum, pas bangun kepengen baca surat yassin,” paparnya.

Nur Adiba pun langsung membuka surat yasin dan membaca arab latin beserta artinya hingga selesai. Saat itu, hatinya mulai benar-benar tergetar, perasaannya pecah dan menangis merasa heran mengapa hal ini terjadi secara tiba-tiba.

Perasaannya bingung karena seperti diberi petunjuk atas semua keresahannya selama ini. Yaitu, tentang keyakinannya dalam beragama. Padahal Ayahnya adalah seorang pemuka agama lain yang fanatik.

“Saat itu rasanya pecah. Nangis sejadi-jadinya. Lalu saya bilang, Tuhan, saya kenapa? Kok saya didatangi ini? Kenapa? Saya belum siap, kalau saya masuk Islam, bagaimana dengan keluarga saya? ekonomi saya? dan saya enggak kepikiran untuk masuk Islam, tapi ada gambaran,” kata perempuan yang memiliki nama asli Frisca Angeli ini.

Akhirnya pada November 2018 tahun lalu, Adiba langsung memutuskan untuk bersyahadat, ditemani oleh sejumlah teman-temannya yang sekaligus menjadi saksi. Kuputusan besar yang terjadi dalam hidupnya itu, tidak diketahui oleh kedua orangtuanya.

“Harusnya syahadat Februari 2019, tapi diundur jadi 11 November 2018 di Masjid Istiqlal. Enggak mikirin, enggak izin ke orang tua, enggak ada omongan ke keluarga juga. Di situ seminggu kemudian pakai hijab syari. Temen-temen banyak yang ngerangkul,” ujarnya.

Baca Juga: Berawal dari Pandangan Mata, Penyakit ‘Ain Menerpa, Tak Terasa Tapi Berbahaya

Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya akan tetap tercium juga. Begitulah yang dialami Adiba, sekian lama menutupi keputusannya menjadi mualaf, hal ini akhirnya diketahui oleh seluruh keluarganya. Meski ia tahu, bahwa keputusan tersebut akan membuat gaduh. Tapi, Nur Adiba pun yakin, bahwa sosok orangtua tidak akan lupa terhadap anaknya begitu saja.

“Papa sudah pasti marah. Sampai kakak saya pun memaki-maki saya dan meminta supaya saya kembali lagi ke agama semula. Tapi saya tidak mau, ini sudah menjadi keputusan. Setelah menjadi mualaf dan memakai hijab, saya merasa derajat sebagai wanita itu lebih dihormati dan lebih terlindungi,” jelasnya.