Hijrah  

Pasien Penderita Alzheimer Antarkan Perawat pada Islam

republika.co.id

Seruni.id – Seseorang yang menderita Alzheimer pada umumnya akan kehilangan ingatan tentang apapun. Namun berbeda dengan kakek berusia 80 tahun ini. Ia justru masih mengingat kewajibannya untuk salat lima waktu, yang lebih istimewanya lagi, dalam keadaannya yang pikiun, dia menjadi pintu hidayah bagi seseorang untuk memeluk Islam.

suaramuhammadiyah.id

Temukan Hidayah Lewat Seorang Pasien Alzheimer

Ya, seorang perawat muda menemukan hidayah melalui kakek muslim asal Inggris tersebut. Ketaatannya dalam menjalankan ibadah salat dikala daya ingatannya sudah menurun, inilah yang menjadikan Cassie memutuskan menjadi mualaf.

Selama beberapa pecan Cassie merawatnya, ia kerap melihat kakek tersebut melakukan gerakan-gerakan tertentu. Awalnya, ia hanya berpikir bahwa nenek tersebut meniru gerakan orang lain. Namun, Cassie selalu melihat pasiennya itu mengulangi gerakan itu pada waktu-waktu tertentu.

Cassie menjelaskan, gerakan yang dilakukan pasiennya itu seperti mengangkat kedua tangan, menunduk, dan menyentuhkan kepalanya di lantai. Kala itu, ia sama sekali tak mengerti gerakan apa yang dilakukan paseinnya tersebut. “Dia juga sering mengulangi kalimat-kalimat dalam bahasa lain. Saya tak tahu bahasa apa yang digunakan karena suaranya pelan,” katanya.

Selain melakukan gerakan rutin tersebut, Cassie juga dilarang pasiennya untuk memberi makan dengan menggunakan tangan kiri. Sontak, ia merasa heran dan penasaran atas perilaku pasiennya itu. Akhirnya untuk menjawab rasa penasarannya itu, ia mencari tahu lewat internet dan bertanya kepada orang-orang. Sampai akhirnya Cassie mengetahui jika gerakan yang dilakukan pasiennya adalah gerakan salat.

“Saya sangat terkejut. Bagaimana mungkin seorang nenek-nenek yang telah kehilangan banyak memori tentang anaknya, pekerjaan, dan hampir tak bisa makan dan minum, bisa ingat bahkan melakukan salat serta mengingat bacaan dalam bahasa lain,” kisah Cassie.

Mencari Tahu Tentang Islam

Kekaguman ini, menghantarkan Cassie untuk menggali lebih jauh keyakinan yang dianut pasiennya itu. Ia akhirnya mendapatkan link terjemahan Alquran dan mencoba mendengarkannya. “Ayat mengenai lebar membuat saya merinding dan saya mengulanginya terus menerus setiap hari. Saya merekam Quran dalam IPhod dan memberikannya kepada pasien saya. Dia tersenyum dan menangis,” kata Cassie yang mengetahui alasan tangisan itu setelah membaca terjemahannya.

Sejak kejadian itu, rasa penasaran Cassie terus digali dengan rajin mengunjungi Masjid dan belajar dari imam di tempat itu. “Saya tak pernah memegang keyakinan apapun, namun saya mempercayai adanya Tuhan. Saya hanya tak tahu cara menghormatinya,” katanya.

Sampai pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan orang yang pertama kali ia beri tahu bukanlah saudara, atau kerabat dekatnya. Melainkan pasiennya itu. Sebelum dia membuka mulut, pasiennya itu menangis dan tersenyum pada Cassie.

[su_box title=”Baca Juga” style=”glass”]
“Aku Mengenal Islam di Dalam Sel itu”
[/su_box]

Sepekan menjadi mualaf, ia harus menerima kabar duka, bahwa pasien yang mengidap Alzheimer yang membuka pintu hidayah untuknya telah dipanggil oleh sang khalik. “Dia seperti Ayah yang tak pernah saya miliki dan dia telah membuka pintu menuju Islam,” isak Cassie.