Pengertian Resesi, Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Kehidupan

Pengertian Resesi, Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Kehidupan
finance.detik.com

Seruni.id – Di tengah pandemi Corona yang masih melanda dunia, Indonesia kini di ambang resesi. Tapi, sudahkah kamu tahu apa itu resesi? Dalam artikel kali ini Seruni akan membahas mengenai pengertian resesi, penyebab hingga dampaknya bagi kehidupan. Maka simak artikel ini sampai selesai, ya.

Pengertian Resesi, Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Kehidupan
pengertian resesi, sumber gambar: jurnalgarut.pikiran-rakyat.com

Pengertian Resesi

Dilansir dari laman Kompas, resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan, berlangsung selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Menurut para ahli, resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, angka pengangguran yang semakin meningkat, penjualan ritel menurun, serta ukuran pendapatan dan manufaktur menyusut dalam jangka waktu yang lama.

Sedangkan, menurut Pengamat Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, secara teorities atau negara baru bisa dikatakan resesi, salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut berada di nilai minus. Adapun indikator lain suatu negara mengalami resesi ada pada inflansi dan nilai kurs rupiah.

Penyebab Resesi

Jika suatu negara telah mengalami krisis ekonomi, apalagi sampai masuk ke tahap resesi, maka akan sangat sulit untuk memulihkannya. Lantas, apa saja penyebabnya?

1. Produksi dan Konsumsi Tidak Seimbang

Salah satu penyebab terjadinya resesi ekonomi adalah tidak adanya keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Tentu hal ini akan menjadi masalah pada siklus ekonomi. Apabila kegiatan produksi yang tinggi tidak diseimbangi dengan daya beli masyarakat yang tinggi pula, maka hanya akan mengakibatkan penumpukan persediaan barang. Lalu, bagaimana cara mengatasi resesi ekonomi ini? Dengan begitu, negara harus melakukan impor.

2. Pertumbuhan Ekonomi yang Lambat

Ekonomi yang kuat ditandai dengan adanya pertumbuhannya yang baik secara global. Namun sebaliknya, pertumbuhan ekonomi mengacu pada produk domestik bruto hasil dari konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, dan ekspor dikurangi impor. Apabila produk domestik bruto menurun dalam waktu yang lama, maka bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi sebuah negara sedang melemah atau mengalami resesi.

3. Inflasi dan Deflasi Tinggi

Inflasi sangat dibutuhkan demi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, inflasi yang tinggi justru akan menyulitkan kondisi ekonomi pada suatu negara. Sebab, harga komoditas melonjak, sedangkan daya beli masyarakat tak sanggup menjangkaunya, terutama bagi kelas menengah ke bawah. Dan kondisi ini bisa saja akan semakin memburuk, apabila daya beli masyarakat menurun sehingga menyebabkan deflasi. Harga komoditas yang menurun sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan laba perusahaan. Hal ini mengakibatkan biaya produksi tidak bisa ter-cover dan volume produksi menurun.

4. Angka Pengangguran yang Tinggi

Adanya tenaga kerja menjadi salah satu faktor penting dalam hal perekonomian. Namun, jika suatu negara tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi para pekerja lokal, maka tingkat pengangguran akan tinggi dan daya beli masyarakat rendah, maka tak heran jika banyak terjadi kriminalitas untuk mencukupi kebutuhan.

5. Hilangnya Kepercayaan Investor

Agar perekonomian tumbuh dengan baik, maka suatu negara harus bisa menciptakan iklim investaso yang kondusif, baik dari segi keamanan maupun proyek strategis. Hal ini dilakukan guna menarik perhatian para investor. Akan tetapi, jika pertumbuhan ekonomi menurun, maka kepercayaan investir akan hilang dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi lambat, bisnis lesu, dan tak sedikit produsen yang meminimalisir jumlah produksi.

Dampak Resesi

Dampak ekonomi saat terjadi resesi sangat terasa dan efeknya bersifat domino pada kegiatan ekonomi. Contohnya, ketika investasi menurun saat resesi, maka otomatis akan menghilangkan jumlah lapangan pekerjaan dan membuat angka pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin meningkat.

Selain itu, produksi ataas barang dan jasa pun turut merosot hingga menurunkan PDB nasional. Jika tidak segera diatasi, maka efek ini akan meluas ke berbagai sektor.

Efek tersebut bisa berupa terhambatnya kredit perbangkan, hingga inflasi yang sulit dikendalikan, pun sebaliknya terjadi deflasi. Neraca perdagangan yang minus dan berimbas langsung pada cadangan devisa. Dalam skala riil, banyak orang kehilangan rumah karena tak sanggup membayar cicilan, daya beli melemah. Lalu, banyak bisnis terpaksa harus gulung tikar.

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat Saat Terjadi Resesi?

Dampak resesi ekonomi akan sangat terasa bagi masyarakat, khususnya oleh masyarakat kelas bawah dan para milenial. Apabila terjadi resesi ekonomi Indonesia, jangan dulu gelisah, galau, galau, apalagi sampai berputus asa. Agar siap menghadapi situasi sulit ini, kamu bisa melakukan cara-cara berikut ini:

1. Cek Kondisi Keuangan

Hal pertama yang harus kamu lakukan untuk siap menghadapi kondisi ini, adalah dengan mengecek kondisi keuangan. Jika kamu merasa tidak aman, maka kamu dituntut harus kreatif untuk mencari peluang pemasukan lain. Bagi kalain yang beruntung masih memiliki pekerjaan, maka bersyukurlah. Dan tak ada salahnya memikirkan cara memiliki penghasilan tambahan, yang terpenting kamu harus kreatif membuka potensi sumber penghasilan.

2. Gunakan Dana Darurat untuk Bertahan Hidup

Ini saatnya kamu memanfaatkan dana darurat demi bertahan hidup di tengah resesi. Kalau tidak ada, mulai saat ini harus segera dipikirkan. Bagaimana caranya? Yakni dengan menyisihkan penghasilan secara konsisten.

Pada kondisi normal, dana darurat biasanya berkisar antara 4-12 bulan pengeluaran ini, seperti untuk makan dan keperluan lainnya. Semakin banyak tanggungan, maka akan semakin besar pula pengeluaran yang dibutuhkan. Semakin tidak ‘aman’ pekerjaanmu, semakin besar pula dana darurat yang kamu butuhkan. Dan di situasi yang tidak normal seperti saat ini, akan ideal jika dana darurat dipersiapkan hingga prediksi krisis berakhir.

Nah, bagi kamu yang tidak pernah menyisihkan dana darurat, hal ini bisa kamu jadikan pelajaran penting yang tak boleh diabaikan. Adapun pelajaran yang bisa kita ambil selama masa pandemi ini adalah, sadar akan pentingnya financial planning bagi setiap orang dan sadar pentingnya dana darurat.

3. Membelanjakan Uang dengan Cermat

Berikutnya, kamu harus cermat dalam membelanjakan uang yang kamu miliki. Alangkah lebih baiknya, di konsidi saat ini, kamu bisa menunda pembelian barang dengan jumlah besar yang sekiranya belum diperlukan. Selain itu, urungkanlah niat mengambil kredit atau utang yang tidak mendesak. Bagi kalian yang ingin merencanakan pernikahan, sebaiknya anggarkan dana secukupnya saja, membeli produk substitusi berfungsi sama namun lebih murah, sampai memanfaatkan promo e-commerce.

4. Jadilah Bagian dari Pengaman Sosial

Upayakan membantu orang di sekitarmu yang benar-benar sangat membutuhkan. Ini momen penting untuk menggalakkan local pride. Apabila ada tetangga atau teman yang kehilangan pekerjaan lalu berjualan, bantulah mereka dengan membeli produknya. Lalu, sebarkan informasi jualan tersebut di media sosialmu.

5. Mencari Pekerjaan yang Bisa Meningkatkan Keahlian

Jika bekerja paruh waktu bukanlah pilihan yang tepat, maka kamu harus mencari pekerjaan yang di sana kita bisa terus meningkatkan keahlian.

6. Tetap Berinvestasi

Investasi jangka panjang sangat penting sekali kamu lakukan, apalagi saat masa sulit seperti saat ini. Dengan catatan, investasi harus berada pada urutan kedua setelah dana darurat. Jika urusan dana darurat sudah beres, baru deh kamu bisa mencari peluang untuk investasi.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Membuat Kondisi Keuangan Krisis

Itulah pengertian resesi secara singkat berserta dampaknya, yang bisa Seruni bagikan pada artikel kali ini. Namun, terjadinya resesi atau tidak, Seruni harap, kita harus tetap memiliki kebiasaan keuangan yang baik. Jangan sampai lebih besar pasak dariapda tiang.