Selain Osteoporosis, ini 5 Penyakit Tulang yang Perlu Diwaspadai

Selain Oesteoporosis, ini 5 Penyakit Tulang yang Perlu Diwaspadai

Seruni.id – Osteoporosis merupakan jenis penyakit tulang yang sering sekali kita dengar dan umum terjadi. Ini merupakan kondisi pengeroposan tulang, sehingga menyebabkan tulang melemah dan mudah patah.

Selain Oesteoporosis, ini 5 Penyakit Tulang yang Perlu Diwaspadai

Tanpa kita sadari, penyakit tulang ini dapat menyebabkan kerusakan. Nah, ternyata selain osteoporosis, ada sejumlah penyakit tulang lainnya yang perlu kita waspadai, apa saja? Yuk simak ulasannya berikut ini:

Daftar Isi

1. Osteoartritis

Penyakit tulang yang satu ini menyebabkan persendian menjadi nyeri dan kaku. Melansir dari laman National Service Inggris, hampir semua sendi bisa terkena osteoarthritis. Namun, kondisi ini paling umum menyebabkan masalah pada lutut, pinggul, dan sendi kecil di tangan. Kondisi ini juga menyebabkan tulang rawan yang melindungi ujung tulang di persendian rusak, sehingga menimbulkan rasa sakit, bengkak, dan masalah saat menggerakkan sendi.

Melansir Mayo Clinic, tulang rawan adalah jaringan keras dan licin yang memungkinkan gerakan sendi yang hampir tanpa gesekan. Apablia tulang rawan sudah rusak, maka tulang akan bergesekan dengan tulang lainnya. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko osteoartritis di antaranya cedera sendi, usia yang semakin tua, dan obesitas.

2. Osteomielitis

Penyakit tulang yang satu ini, merupakan infeksi karena bakteri atau jamur. Osteomielitis jarang sekali terjadi, dari 10.000 orang ada 2 orang yang mengalami kondisi ini. Kendati demikian, penyakit ini harus segera ditangani, karena bisa menyebabkan infeksi yang berkelanjutan, hingga kematian jaringan tulang. Biasanya infeksi tulang ini kerap terjadi oleh orang dewasa dan anak-anak.

Umumnya, penyebab osteomielitis adalah bakteri Staphylococcus aureus dan kondisi tertentu seperti orang yang memiliki luka terbuka (cedera atau patah tulang terbuka), bakteri dalam darah (bakteremia), dan infeksi jaringan lunak atau luka terbuka kronis sekitar tulang. Osteomielitis juga bisa terjadi pada orang-orang dengan diabetes, anamia sel sabit, orang dengan sistem imun yang lemah, dan orang-orang yang sedang menjalani hemodialisis. Adapun gejala yang muncul, yakni berupa nyeri, pembengkakan tulang, demam, mual, lemas, keluarnya nanah di area infeksi, hingga terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.

3. Penyakit Paget

Penyakit tulang berikutnya adalah Paget atau Paget’s Disease of Bone. Ini merupakan gangguan yang terjadi pada proses regenerasi tulang secara normal, di mana jaringan tulang baru secara bertahap menggantikan jaringan tulang yang lama. Penyakit ini memang membuat tulang tumbuh lebih cepat, tetapi lebih lemah. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mengalami kelainan bentuk.

Meski penyakit ini hanya terjadi pada satu bagian tubuh saja. Namun, paling sering terjadi pada tunggal panggul, tengkorak, tulang belakang, dan kaki. Penyakit tulang ini belum diketahui secara pasta apa penyebabnya. Menurut para ahli, mereka menduga bahwa kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan berkontribusi terhadap timbulnya penyakit ini. Perlu kalian tahu, bahwa penyakit ini dapat berkembang secara perlahan. Pada pria berusia 40 tahun ke atas, dan memiliki keluarga dengan riwayat penyakit Paget menjadi beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena penyakit tulang ini.

4. Osteogenesis Imperfecta

Osteogenesis imperfecta (OI) atau dikenal juga dengan brittle bone disease adalah suatu kelainan genetik yang memengaruhi tulang. Melansir Healthline, OI dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Kelainan tulang ini muncul saat lahir dan biasanya berkembang pada anak-anak yang memiliki keluarga dengan riwayat OI. Pada kasus yang sudah parah, penyakit tulang ini dapat menjalar ke masalah kesehatan lainnya. Seperti gangguan pendengaran, gagal jantung, masalah pada sumsum tulang belakang, dan kelainan bentuk tulang permanen.

Bahkan, OI bisa mengancam jiwa bayi, sebelum atau setelah dilahirkan. OI tergolong penyakit langka; 1 dari 20.000 orang bisa mengalaminya. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada pengobatan untuk menangani OI. Tetapi tak perlu khawatir, ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi risiko patah tulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Misalnya dengan terapi fisik, pemberian obat-obatan bifosfonat untuk menguatkan tulang anak, olahraga yang bersifat low-impact, menjalani pola hidup sehat, dan operasi.

5. Osteomalasia

Dan yang terakhir ada penyakit tulang bernama osteomalasia. Ini merupakan kondisi di mana tulang melemah, yang disebabkan oleh adanya maslaah pada formasi tulang atau proses pembentukannya. Kondisi ini berbeda dengan dengan osteoporosis. Osteoporosis adalah melemahnya tulang yang sudah terbentuk, sedangkan osteomalasia menyebabkan tulang menjadi lemah dan rapuh, sehingga lebih mudah patah. Kekurangan vitamin D menjadi penyebab paling umum terjadinya oesteomalisa. Vitamin D menjadi nutrisi penting yang membantu tubuh dalam menyerap kalsium. Vitamin D juga menjaga kadar kalsium dan fosfat untuk membantu pembentukan tulang.

Mengutip dari Cleveland Clinic, umumnya masalah ini terjadi pada orang dewasa, sedangkan kekurangan vitamin D yang terjadi pada anak-anak dapat menyebabkan rakitis. Gejala osteomalasia yang umum yaitu rasa nyeri pada tulang, mengalami patah tulang, dan kelemahan otot. Pasien osteomalasia juga bisa mengalami kesulitan untuk berjalan. Sebagai penanganan, biasanya dokter akan memberikan suplemen vitamin D, kalsium atau fosfat untuk dikonsumsi secara oral. Pada kasus yang jarang terjadi, vitamin D dapat diberikan melalui suntikan. Selain itu, banyak yang menganjurkan untuk berjemur di bawah sinar matahari pada pagi hari agar tubuh bisa menghasilkan cukup vitamin D.

Baca Juga: 6 Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Osteoporosis

Nah, itulah beberapa penyakit tulang selain osteoporosis yang perlu kita waspadai mulai saat ini. Untuk menghindarinya, jagalah selalu kesehatan dan kekuatan tulang dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang terutama yang mengandung vitamin D serta kalsium, rutin berolahraga, berjemur di pagi hari, dan menjaga berat badan tetap ideal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.