Penyebab Berkurangnya Air Ketuban Menjelang Lahiran Seperti yang Dialami Ria Ricis

  • Bagikan
Penyebab Berkurangnya Air Ketuban Menjelang Lahiran Seperti yang Dialami Ria Ricis
instagram.com/riaricis1795

Seruni.id – Ria Ricis baru saja melahirkan buah hati pertamanya yang berjenis kelamin perempuan pada 26 Juli 2022, melalui operasi caesar. Awalnya ia ingin melahirkan secara normal, tetapi karena berkurangnya air ketuban jelang persalinan, maka tindakan caesar menjadi pilihannya.

Penyebab Berkurangnya Air Ketuban Menjelang Lahiran Seperti yang Dialami Ria Ricis
orami.co.id

Bagi calon ibu, pastinya akan bertanya-tanya, mengapa air ketuban bisa berkurang menjelang waktu persalinan dan apa penyebabnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Seruni akan mengulasnya dari berbagai sumber. Simak berikut ini, ya.

 

Apa yang Dimaksud dengan Air Ketuban?

Di dalam kandungan janin dikelilingi oleh cairan yang disebut dengan ketuban. Cairan tersebut berperan sangat penting, mulai dari melindungi bayi, memberi ruang gerak, mencegah terjadinya infeksi pada janin, mendukung perkembangan paru-paru, sistem pencernaan, otot, serta tulang janin saat berada di dalam kandungan.

Maka dari itu, penting sekali untuk selalu memastikan kondisi air ketuban tidak kurang apalagi berlebihan. Apabila volume air ketuban kurang dari 500 mililiter di usia kandungan 32-36 minggu, kondisi ini disebut sebagai oligohirdramnion atau air ketuban sedikit.

 

Lantas, Apa Penyebab Berkurangnya Air Ketuban di Akhir Kehamilan?

Berkurangnya air ketuban bisa diakibatkan dari kebocoran cairan atau tusukan pada kantong ketuban setelah amniosentesis. Bisa pula terjadi lantaran adanya kebocoran yang sangat kecil, sehingga tidak terdeteksi oleh pemeriksaan dokter.

Air ketuban yang rendah, bisa menjadi merupakan gejala komplikasi kehamilan, di antaranya:

  • Adanya masalah pada ginjal atau saluran kemih janin. Rendahnya cairan ketuban, bisa menjadi salah satu tanda mungkin janin tidak buang air sebanyak yang diharapkan. ketika usia janin sudah mencapai 20 minggu, air ketuban akan dihasilkan dari urin janin.
  • Pertumbuhan janin yang buruk.
  • Solusio plasenta, menyebabkan siklus cairan yang masuk dan kemudian dikeluarkan oleh tubuh janin menjadi terganggu.
  • Adanya tekanan darah tinggi kronis atau kondisi lainnya seperti diabetes yang sudah ada sebelumnya.
  • Akibat mengonsumsi obat-obatan tertentu, termasuk yang mengatur tekanan darah tinggi.
  • Cacat lahir pada janin.
  • Ketuban pecah dini.

 

Gejala Berkurangnya Air Ketuban

Berkurangnya air ketuban tak melulu terjadi saat mendekati hari persalinan saja, tapi di usia kehamilan berapa pun. Meski demikian, umumnya terjadi di trimester ketiga atau ketika kehamilan mendekati hari perkiraan lahir (HPL).

Untuk gejalanya tidak terlihat jelas secara fisik. Oleh karena itu, bagi ibu hamil, penting sekali untuk melakukan pemeriksaan secara rutin. Tentunya untuk menghindari berkurangnya air ketuban.

Apabila kamu mengalami kekurangan cairan ketuban, dokter mungkin menemukan gejala-gejala berikut ini:

  • Rahim berukuran kecil untuk usia kehamilan.
  • Berat badan kehamilan tidak bertambah banyak.
  • Detak jantung janin tiba-tiba turun.
  • Mengalami penurunan jumlah cairan ketuban, yang terdeteksi melalui USG.
  • Penurunan aktivitas janin yang signifikan.
  • Cairan bocor dari vagina.

 

Siapa Saja yang Berisiko untuk Mengalaminya?

Mereka yang usia kandungannya 42 minggu atau lebih, paling berisiko mengalami hal ini. Diperkirakan, sedikitnya ada empat persen ibu hamil yang didiagnosis menderita kekurangan cairan ketuban, angka tersebut meningkat hingga 12 persen karena tingkat cairan ketuban cenderung menurun di akhir kehamilan. Cairan ketuban yang rendah biasanya berkembang saat hamil tua, meskipun tak menutup kemungkinan juga terjadi di awal.

 

Apa Efeknya pada Janin?

Perlu diketahui, berkurangnya air ketuban akan berisiko mengalami pembatasan pertumbuhan intrauterin dan penyempitan tali pusat selama kelahiran. Kemungkinan besar kamu akan melahirkan dengan operasi caesar. Selain itu, bayi yang dilahirkan memiliki gejala berikut:

  • Jarak antar kedua mata tampak agak jauh,
  • Hidung tampak lebar,
  • Posisi telinga rendah ketimbang yang seharusnya.
  • Berkurangnya air ketuban juga dapat menganggu perkembangan paru-paru bayi. Selain itu, kondisi ini juga berisiko pada bayi yang membuatnya mengalami kesulitan bernapas.

Apabila sejak awal trimester pertama atau kedua dokter mendeteksi cairan ketuban rendah, maka risikonya akan lebih besar. Parahnya, kondisi ini bisa menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, cacat lahir atau lahir mati.

 

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasinya?

Sejauh ini, tidak ada solusi yang benar-benar terbukti dapat meningkatkan jumlah cairan ketuban dalam jangka panjang. Namun, jika dokter mendiagnosis kamu menderita oligohidramnion atau kekurangan cairan ketuban, ada beberapa langkah yang dapat kamu ambil untuk meningkatkan kadar cairan ketuban dalam jangka pendek, antara lain:

  • Memperbanyak istirahat dan mengurangi aktivitas fisik.
  • Minum air putih dalam jumlah banyak.
  • Pemantauan terus menerus terhadap kadar cairan ketuban.
  • Persalinan dini atau terjadwal jika kondisi ini membahayakan kesehatan janin, terutama jika kamu hamil setidaknya 36 minggu.
  • Transfusi larutan salin ke dalam rongga rahim menggunakan kateter yang ditempatkan di serviks untuk menggantikan cairan ketuban yang hilang.
  • Operasi janin, jika cairan ketuban rendah dikaitkan dengan masalah saluran kemih janin.

Kendati tidak ada cara untuk mencegah oligohidramnion, sebaiknya kamu bisa mengatur obat-obatan dan segala kondisi yang terkait dengan cairan ketuban rendah, termasuk diabetes dan tekanan darah tinggi. Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter mengukur perut dan memastikan kecukupan cairan ketuban untuk janin.

Jumlah cairan ketuban yang rendah, bisa menjadi kondisi seris. Maka dari itu, penting sekali untuk selalu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Namun, kabar baiknya adalah sebagian besar wanita yang didiagnosis dengan cairan ketuban rendah memiliki kehamilan yang sangat sehat, loh.

Baca Juga: Selamat! Ria Ricis Melahirkan Putri Pertamanya

Jadi, itulah penyebab berkurangnya air ketuban saat hamil tua. Semoga kehamilanmu selalu sehat hingga waktunya melahirkan tiba.

  • Bagikan