6 Etika Memberi Nasihat dalam Islam

  • Bagikan
6 Etika Memberi Nasihat dalam Islam
id.depositphotos.com

Seruni.id – Memberi nasihat atau mengingatkan orang lain dalam hal kebaikan, sebenarnya sah-sah saja. Asalkan kita tahu etika memberi nasihat, agar orang lain tidak tersinggung dan dapat menerimanya dengan baik.

6 Etika Memberi Nasihat dalam Islam
islampos.com

Lantas, apa saja etika memberi nasihat itu? Berikut Seruni telah merangkumnya dari berbagai sumber.

1. Niat yang Ikhlas

Memberikan nasihat kepada orang lain, adalah hak yang mulia dalam Islam. Namun, sebelum melakukannya, pastikan dalam hati bahwa niatmu memberikan nasihat tulus dan ikhlas karena Allah SWT. Sampaikanlah nasihat tersebut berdasarkan hatimu. Sebab, apa yang disampaikan dari hati, maka akan sampai pula pada hatinya. Sama seperti kebaikan lainnya, memberi nasihat yang dilandasi dengan niat yang tulus, maka bisa mendapatkan pahala dari Allah.

2. Berdasarkan Ilmu

Etika memberi nasihat berikutnya haruslah berdasarkan ilmu. Ini menjadi sebuah keharusan, dalam arti menguasai materi yang akan dinasihatkan. Sebab, tanpa didasari dengan ilmu yang mumpuni, bisa jadi seseorang akan menasihati dengan hal-hal yang munkar dan justru melarang yang makruf (baik).

3. Sampaikanlah dengan Kata-kata Baik

Alangkah lebih baiknya, dalam memberikan nasihat kepada orang lain, sampaikanlah dengan kata-kata baik. Bukan dengan kata-kata kasar, cacian, atau makian. Karena tak ada kunci lebih baik dan tepat, kecuali nasihat yang disampaikan dengan ucapan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun untuk menasihati Firaun dengan perkataan yang lemah lembut.

4. Tidak Menasihati di Muka Umum

Islam betul-betul menjaga kehormatan seseorang. Oleh sebab itu, sudah seharusnya umat Islam menjaga harga diri dan kehormatan saudaranya. Maka dari itu, kita harus menerapkan etika memberi nasihat kepada orang lain, yakni dengan tidak menasihati di depan umum.

Bahkan, Imam Syafi’i mengatakan, bahwa nasihat di muka umum adalah sebuah bentuk pelecehan kepada oang lain. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Rajab mengatakan bahwa nasehat di depan umum adalah bentuk mempermalukan orang lain. Nasihat seharusnya dilakukan secara rahasia dan empat mata.

5. Tidak Melakukan Tahrisy Terhadap Sesama Muslim

Etika memberi nasihat selanjutnya, yakni tidak memiliki tujuan untuk mencela atau menyebarkan keburuan. Saat menasihati seseorang, sebaiknya berikanlah pesan yang meliputi urusan agama. Selain itu, hindari pula melakukan tahrisy atas sikap yang memancing pertengkaran.

Islam sendiri melarang seseorang untuk bersikap tahrisy terhadap orang lain. Sebab, tahrisy termasuk bagian dari namimah atau adu domba. Oleh karena itu, pesan yang baik seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tidak berupa provokasi terhadap sesama muslim.

6. Jangan Memaksakan Agar Nasihat Diterima

Usahakan untuk tidak zhalim dalam hal memberi nasihat kepada orang lain. Zhalim yang dimaksud adalah memaksakan agar nasihat tersebut diterima. Karena niat memberi nasihatnya adalah untuk ditaatim bukan untuk menunaikan amanah persaudaraan antar sesama muslim. Etika memberi nasihat ini haruslah diterapkan, karena nasihat merupakan sebuah ibadah. Meskipun orang tersebut tidak bisa menerimanya, maka orang yang memberi nasihat akan tetap mendapatkan pahala dari Allah.

Baca Juga: Nasihat Berharga Muhammad Ali untuk Putrinya

Demikianlah enam etika memberi nasihat dalam Islam. Yuk, mulailah memberi nasihat secara bijaksana, dan pastinya harus sesuai dengan syariat. Semoga bermanfaat dan dapat menmabah ilmu pengetahuan kita semua.

  • Bagikan
seruni.id