8 Amalan Ringan yang Pahalanya Setara dengan Naik Haji dan Umroh

8 Amalan Ringan yang Pahalanya Setara dengan Naik Haji dan Umroh
muslim.okezone.com

Seruni.id – Melaksanakan haji dan umroh menjadi impian seluruh umat Islam. Kedua ibadah ini menjadi kewajiban yang sangat berpahala. Namun, tidak semua umat Muslim dapat pergi ke sana, karena satu dan lain hal.

8 Amalan Ringan yang Pahalanya Setara dengan Naik Haji dan Umroh
jambiekspress.co.id

Meski begitu, kita tidak boleh berkecil hati. Karena ternyata ada beberapa amalan yang pahalanya setara dengan naik haji dan umroh. Terlebih, amalan ini sangat ringan, sehingga kita bisa melakukannya setiap waktu. Apa saja amalan tersebut?

1. Bersuci Ketika Menuju Masjid

Ketika menuju masjid, usahakan dalam keadaan suci. Baik suci dari hadas kecil maupun besar. Mungkin kamu berpikir akan lebih mudah jika berwudhu di masjid, namun ketika kamu sudah bersuci sebelum berangkat shalat berjamaah di masjid, maka akan mendapatkan pahala yang setara dengan ibadah haji dan umroh.

Begitupun ketika kamu hendak shalat sunnah maupun menuntut ilmu di masjid. Amalan ini juga berlaku ketika kamu menuntut ilmu selain di masjid. Karena, sejak zaman Rasulullah SAW, masjid merupakan tempat untuk menuntut ilmu.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk salat Sunnah Duha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah.” (HR Abu Daud).

2. Shalat Fardu Berjamaah di Masjid

Melaksanakaan shalat fardu lima waktu secara berjamaah di masjid bagi laki-laki, merupakan salah satu amalan yang pahalanya setara dengan haji dan umroh. Selain itu, amalan ini juga bisa mendekatkan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Memakmurkan masjid dengan selalu mendatanginya setiap shalat fardu, akan mendatangkan pahala yang berlimpah. Asalkan ini dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Terdapat dua hadits Rasulullah yang bisa menguatkannya, yakni:

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَ مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

“Siapa yang berjalan menuju salat wajib berjemaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju salat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk salat Sunnah Duha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) salat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘illiyyin (kitab catatan amal orang-orang salih).” (HR. Abu Daud)

3. Shalat Isyraq

Shalat isyraq merupakan ibadah shalat sunnah yang dilakukan ketika matahari terbit. Waktu pelaksanaannya tidak diatur secara spesifik dalam hadist Nabi Muhammad. Namun, para ulama menetapkan bahwa shalat isyraw didirikan ketika matahari berjarak satu tombak setelah terbit. Shalat sunnah isyraq merupakan salah satu amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji dan umroh.

Amalan shalat ini diawali dengan shalat subuh berjamaah di masjid bagi laki-laki, dan shalat di rumah bagi perempuan. Bagi laki-laki yang shalat subuh berjamaah di masjid, janganlah cepat beranjak pergi, namun tetaplah berdzikir di dalam masjid hingga waktu duha tiba. Tepatnya ketika matahari telah terbit. Terakhir dirikanlah salat duha di awal waktu.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh dengan berjemaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan salat Sunnah Duha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Ath-Thabrani)

4. Menuntut Ilmu

Janganlah lelah untuk tetap menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu seperti menghadiri majelis ilmu, merupakan bagian dari amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji dan umroh. Terlebih, jika tujuanmu menuntut ilmu sebagai bekal di dunia hingga akhirat kelak.

Pada zaman Rasulullah SAW ketika itu, masjid menjadi tempat terbaik untuk menunutu ilmu. Sebab, sekolah pun masih dilaksanakan di masjid. Berbeda dengan keadaan saat ini, sekolah memiliki bangunan sendiri. Namun, menuntut ilmu di masjid juga sangat dianjurkan jika bisa dilakukan.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala Haji yang sempurna Hajinya.” (HR. Ath-Thabrani)

5. Berbakti kepada Orangtua

Bagi kalian yang ingin mendapatkan pahala setara dengan ibadah haji dan umroh, maka berbaktilah kepada orangtua. Sayangilah mereka dengan tulus selagi masih diberi kesempatan. Hal ini merupakan salah satu perintah Rasulullah kepada salah seorang sahabatnya untuk berbuat baik pada Ibunya. Beliau bersabda:

“Tunjukkanlah kepada Allah bagaimana kau melayani dia. Jika kau melakukannya (dengan sepatutnya) kau akan menjadi seperti: Haji, seorang Mu’tamir (seorang yang melakukan umrah) dan seorang mujahid (seorang yang berjuang di jalan Allah),” (Abu Ya’la, Hadith: 2760, dan Tabarani, Targheeb, vol.3, pg. 315 & Mukhtasar Ithaaf, Hadits: 5721).

6. Berdzikir

Salah seorang sahabat Nabi yakni Abdullah ibnu Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dia yang membaca Subhanallah 100 kali di pagi hari dan 100 kali lainnya di malam hari adalah seperti orang yang melakukan haji 100 kali!”

Melihat sabda di atas, hendaknya kita bisa terus berdizir. Tidak hanya dalam keadaan terpuruk, sempit, dan sulit saja. Namun, juga ketika dalam keadaan bahagia.

7. Beramal Baik di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Hafiz Ibnu Rajab: “Telah dijanjikan dalam hadits bahwasanya setiap amal perbuatan baik yang dilakukan dalam 10 hari pertama ini dapat menggantikan imbalan dari berjihad, yang dianggap lebih baik dari haji, dan berarti semua yang baik dilakukan di hari-hari ini juga setara dengan pahala dari berangkat haji,”.

8. Berniat Haji

Meski kita belum mampu untuk melaksanakan ibadah haji, namun ada niatan di di dalam hati ingin melaksanakannya, itu sah-sah saja. Sebab, memiliki tekad yang kuat untuk berhaji juga akan dicatat sebagai pahala yang setara seperti ketika berhaji. Terutama bagi mereka yang telah mendaftarkan diri untuk melaksanakan haji, namun Allah lebih dulu memanggilnya.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata ketika perang tabuk kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَقَالَ « إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena mendapatkan uzur sakit.” (HR. Muslim)

Baca Juga: 6 Penyebab Gugurnya Pahala

Itulah delapan amalan baik yang pahalanya setara dengan pahala ibadah haji. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi kita kemampuan untuk melaksanakan semua amalan baik ini dan mengizinkan kita untuk menapakkan kaki di Tanah Suci.