Hijrah  

Berkat Keramahan Muslim di Indonesia, Yusuf Burke Menjadi Mualaf

konfrontasi.com

Seruni.id – Yusuf Burke adalah seorang insinyur Amerika Serikat yang tinggal di kota Kosmopolitan New York. Ia dibesarkan sebagai non-Muslim. Namun, berkat keramahan Muslim Indonesia, ia mendapatkan hidayah dan membawanya menjadi seorang mualaf.

Hasil gambar untuk yusuf Burke menjadi mualaf
islamislogic.wordpress.com
[read more]

Beberapa tahun silam, mungkin menjadi masa yang tidak akan dilupakan oleh Yusuf Burke. Setelah dua tahun lulus sekolah, ia bergabung dalam tim energi listrik Amerika Serikat. Kala itu pula ia berkesempatan untuk menjelajahi sejumlah negara.

Indonesia menjadi negara Muslim pertama yang ia kunjungi. Dan saat itu juga ia langsung jatuh cinta dengan budaya Indonesia. Perkenalannya dengan Islam sebetulnya sudah dimulai saat belajar di Universitas. Namun, pengetahuan tentang Islam kala itu hanya menyentuh bagian dasarnya saja. Ia benar-benar merasa Indonesia memberikan pengalaman baru tentang dunia Muslim, dari sinilah mata hati Yusuf Burke terbuka.

Yusuf mulai menetap di Indonesia sejak 1995, perlahan-lahan ia mulai banyak berkenalan dengan warga Muslim. Menurutnya, penduduk Muslim di Indonesia sangat menyenangkan, bersahabat, berpikiran terbuka, serta keramahtamahan mereka. Pengalaman itulah yang mendorong dia untuk mempelajari Islam, yang dianut mayoritas penduduk Insonesia.

Yusuf Burke merasa Islam merupakan agama yang paling rasional. Maka tak heran, jika dia semakin jatuh cinta dengan Islam, dan tak jarang, ia juga kerap berdiskusi dengan teman Muslimnya dan merasakan persaudaraan diantara mereka.

Baca Juga

Akhirnya, dia mempelajari Islam lebih dalam, dan kemudian memutuskan menjadi mualaf pada tahun 1996. Mengetahui hal ini, keluarganya tentu sangat terkejut dengan keputusannya itu. Maka tak segan ia menjelaskan mengenai keputusannya pindah keyakinan. Namun, akhirnya keluarganya dapat meneriman dan memahami pilihan Yusuf Burke.

” Keluarga saya sangat terbuka. Saya pikir mereka menghormati orang lain yang memeluk agama lain, khususnya agama tauhid ini,” kata dia.

Menjadi seorang mualaf, bukan berarti hati Yusuf sudah mantap. Ia masih merasa haus akan ilmu-ilmu Islam. ” Saya benar-benar merasakan persaudaraan ketika berdiskusi dan tinggal di tengah-tengah kalangan muslim. Saya bersekolah Islam saat pergi ke Malaysia dan Australia,”.

[/read]