Berita  

Imas Masnguneh, Guru Honorer yang Selamat Usai Tertimpa Puing Akibat Gempa Cianjur

Imas Masnguneh, Guru Honorer yang Selamat Setelah Tertimpa Puing Akibat Gempa Cianjur
tempo.co

Seruni.id – Imas Masnguneh (39) adalah salah satu korban selamat di antara banyaknya korban berjatuhan akibat gempa bumi yang mengguncang Cianjur, Jawa Barat, pada 21 November 2022 lalu. Wanita yang berprofesi sebagai guru honorer ini, tak henti-hentinya mengucap syukur usai lolos dari peristiwa maut tersebut.

Tertimbun Reruntuhan Selama 1,5 Jam

Masih teringat jelas bagaimana dirinya terjebak selama 1,5 jam di bawah reruntuhan sekolah Diniyah Hasadah, Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Kecaatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kini, ia bersama sang suami dan kedua anaknya terpaksa harus mengungsi di sebuah tenda darurat. Bersama dengan korban lainnya, mereka tidur dengan beralaskan terpal di atas tanah bebatuan yang tak rata.

“Musibah itu ujian dari Allah,” kata seorang pria yang merupakan relawan saat memberikan motivasi kepada Imas Rabu 23 November 2022.

Kala itu, perasaannya campur aduk, antara takut, pasrah, dan ikhlas. Di bawah timbunan reruntuhan yang delap, Imas sudah pasrah jika memang takdirnya hidupnya harus berakhir di sana.

Namun beruntungnya, bangunan sekolah yang terdiri dari dua lantai itu, masih menyisakan ruang kecil agar dirinya bisa tetap bertahan. Meskipun gelap dan untuk bernapas saja cukup sulit.

Terdapat balok kayu bagian atap bangunan sekolah yang melintang persis di hadapannya, sehingga menyisakan ruang bagi tubuh Imas agar tidak terhimpit oleh material bangunan yang hancur lebur.

Berusaha Keluar dari Reruntuhan

Di ruang kecil, sempit, dan gelap itu, Imas berusaha menggerakan tubuhnya. Ia mencoba menggali sedikit demi sedikit puing yang menimbun tubuhnya dengan kedua tangannya.

Memar biru kehitaman pada lengannya menjadi bukti perjuangan guru honorer ini untuk bisa keluar dari reruntuhan. Bersyukurnya, sang suami Uun Supatoni (42) berhasil menyelamatkannya, tatkala ia menyadari sang istri tak kunjung kembali ke rumah usai gempa magnitudo 5,6 mengguncang kampung halamannya.

“Suami yang menyelamatkan saya, karena belum ada relawan sebanyak ini yang datang waktu itu,” cerita Imas.

Imas adalah guru honorer yang mengajar di Diniyah Hasadah dengan bayaran seikhlasnya. Ia mengajar kelas dua dan kelas tiga dengan jumlah murid sekitar 20 orang.

Di tengah kesusahannya, masih tersimpan rasa syukur di hatinya. Sebab, saat gempa terjadi, tidak ada muridnya yang menjadi korban dan terjebak di reruntuhan. Karena tepat di hari kejadian, setelah rapat sekolah, wanita lulusan pondok pesantren itu meminta semua muridnya untuk keluar dari ruang belajar.

Usai melaksanakan rapat, guru honorer ini duduk di lantai ruang Paud yang menerapkan konsep belajar tidak menggunakan meja dan kursi itu. Di tengah istirahatnya, gempa menerjang seperkian detik disusul lampu mati dan bangunan sekolah ambruk.

“Dalam hati bersyukur, untungnya anak-anak sudah saya suruh keluar duluan sebelum gempa terjadi. Jadi tidak ada murid-murid saya yang ketimpa bangunan sekolah,” katanya lirih.

Sebagian Rumahnya Ambruk

Duka yang Imas rasakan tidak berhenti sampai di situ. Ketika tiba di rumah, ia menjumpai separuh bangunan rumahnya ambruk, sehingga tidak aman untuk ditinggali. Rumah bercat kuning yang dibangun bersama suami dari hasil bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi itu, hanya menyisakan kenangan.

“Mau gimana lagi, yang penting selamat dululah, rumah udah hancur ya mau gimana lagi,” ucapnya.

Beberapa hari setelah gempa terjadi, Imas beserta ratusan warga lainnya, masih terus menantikan bantuan. Terutama hunian. Sebab, hampir 90 persen permukuman warga rusak parah pasca guncangan gempa.

Hampir semua penyintas gempa sudah mendapat distribusi logistik berupa beras, mi instan, susu, minyak goreng dan bahan makanan lainnya. Namun warga masih hidup dalam keprihatinan. Mereka belum bisa bebas mandi, cuci kakus, karena aliran air mati di wilayah tersebut, tidak ada penerangan dan pakaian ganti.

Sudah tiga hari pula Imas masih mengenakan baju seadanya. Ia dan warga lain menjalani hari dengan kepasrahan sambil menunggu bala bantuan.

Menurut Komandan Pleton (Danton) SAR Resimen II Pasukan Pelopor Korp Brimob Ipda Sutrisno, Kampung Rayacina salah satu yang terdampak gempa cukup parah. Hampir semua rumah warga ambruk, sehingga warga memilih mengungsi di pinggiran jalan tak jauh dari rumahnya.

Polri melalui tim SAR Resimen II Pasukan Pelopor Korp Brimob mendistribusikan bantuan tenda pleton ke Kampung Rawacina, dan puluhan paket bantuan logistik untuk warga terdampak.

Baca Juga: Masjid di Cianjur Tetap Utuh Pasca Diguncang Gempa 5,6 Magnitudo

Namun, selain tenda dan bahan makanan, warga membutuhkan air bersih untuk mandi, cuci, kakus, serta perlengkapan obat-obatan, seperti pereda sakit atau nyeri dan balsem, terpal, selimut serta pakaian ganti.