Ketika Anak Kecil Membuat Imam Hanifah Menangis

ilustrasigambar

Seruni.id – Kita bisa memetik sebuah hikmah dari manapun. Orang yang paling baik adalah mereka yang mampu memetik hikmah dari segala peristiwa yang dialaminya. Hal ini pun terjadi pada Imam Hanifah yang mampu memetik hikmah dari seorang anak kecil yang ia temui. Bahkan, saking lembutnya hatinya, beliau sampai menangis ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh anak tersebut.

ilustrasigambar

Kisahnya bermula ketika Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau lebih populer disebut Imam Hanifah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan sambil mengenakan sepatu kayu. Terlintas rasa khawatir dalam benak Abu Hanifah, seraya ia mengingatkan untuk anak itu berhati-hati.

“Nak, hati-hati berjalan dengan sepatu kayumu. Jangan sampai kau tergelincir,” ujarnya menasihati.

Lantas, bocah tersebut tersenyum, menyembut perhatian pendiri mahzab Hanifah ini dengan mengucapkan terima kasih.

“Bolehkah saya tahu nama Tuan?” tanya sang bocah.

“Nu’man.” ucap Abu Hanifah.

“Oh, jadi ini kah Tuan yang terkenal dengan sebutan Imam al-a’dham (imam agung) itu?”

“Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.” jawab Imam Hanafi.

Ketika tadi sang Imam memberikan peringat kepada si bocah agar berhati-hati, bocah itupun juga memberikan peringatan kepada Abu Hanifah.

“Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.” ucap bocah itu.

Ulama kaliber yang ditakuti banyak umat Islam itu pun menangis. Beliau merasa bersyukur masih ada yang mengingatkannya. Bahkan, tak disangka-sangka, peringatan itu datang dari mulut anak kecil yang masih polos. Itulah indahnya kisah memetik hikmah dari anak kecil.

Sungguh mulia sekali hati Abu Hanifah, hanya dari mulut seorang anak kecil, dia menangis ketika mendengar sebuah nasihat yang ditujukkan untuknya. Berbeda sekali dengan kebanyakan manusia saat ini. Tak jarang, ketika menerima nasihat dari seseorang, terutama anak kecil, kita justru merasa marah dan kesal. Merasa digurui, padahal bisa saja nasihat yang deberikan baik untuk diri kita.

Maka dari itu, dari kisah di atas, dapat kita pahami dan menjadikannya sebagai pelajaran. Bahwasanya, memberi dan menerima nasihat berlaku untuk setiap manusia, siapapun dia, apapun jabatan dan kedudukannya, tanpa terkecuali. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Al’Asr: 1-3,

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.”

Berikan Dukungan Kepada Kami Dengan Memberikan Rating

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.