Puber Kedua Menjadi Tanda Awal Alzheimer?

0
makeupandbeauty.com

Seruni.id – Seiring bertambahnya usia, pria pun wanita akan mengalami puber kedua dan penurunan fungsi otak secara alamiah. Itulah sebabnya wajar saja jika kamu akan mengalami pikun (mudah lupa). Namun, memaklumi pikun adalah hal yang keliaru. Sebab, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, jika terus dimaklumi. Dan hal ini bisa menjadi salah satu gejala awal dari penyakit Alzheimer.

Related image
scmp.com

Pada saat yang bersamaan, orang yang memasuki usia dewasa (lebih dari 40 tahun), ternyata juga dapat mengalami krisis paruh baya (puber kedua). Inilah yang menjadi dasar mengapa banyak yang menghubung-hubungkan bahwa puber kedua adalah salah satu gejala awal penyakit Alzheimer. Tapi apakah benar demikian? Berikut penjelasan Seruni:

Orang yang mengalami krisis paruh baya (midlife crisis), atau memasuki rentang usia 40-an, sering kali dihadapkan pada ketakutan. Sebab, pada usia ini, banyak orang yang menganggap bahwa seharusnya mereka sudah menikah, punya anak berusia remaja, dan kehidupan yang mapan.

Atau di sisi lain, mereka juga takut dengan berbagai perubahan dalam hidupnya. Entah kalah bersaing dengan anak muda, tidak bisa lagi tampil menarik karena kulit sudah mulai berkeriput, rambut rontok atau menipis, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Anggota Keluarga Terkena Demensia? Jangan Lelah dan Menyerah! Ini Cara untuk Lancar Berkomunikasi dengan Mereka

Akibatnya, banyak orang di usia ini menjadi rela menempuh berbagai cara untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Entah dengan olahraga mati-matian, atau bahkan melakukan face lift agar terlihat tetap awet muda. Itulah sebabnya, mengapa orang yang mengalami kondisi ini disebut-sebut sedang ada pada masa puber kedua.

Penyakit Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang menggerogoti sistem kognitif atau kemampuan berpikir serta mengingat pada otak. Penyakit ini terjadi akibat adanya penumpukan suatu plak protein bernama amiloid di dalam otak. Akibatnya, sel-sel otak pun mengalami kerusakan satu per satu, hingga menghambat pengiriman sinyal di otak.

Lantas, apa hubungannya puber kedua dengan gejala awal penyakit Alzheimer? Bukan kah kedua kondisi tersebut tampak berbeda dan tidak saling berkaitan? Penjelasannya begini, dilansir dari Live Science, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa beberapa pasien berusia muda mengalami beberapa masalah kognitif. Masalah kognitif tersebut di antaranya sulit untuk mencari kata yang tepat, gangguan penglihatan, hingga sulit merencanakan sesuatu atau memecahkan masalah.

Mereka menjadi lupa cara mengerjakan tugas yang diberikan, hingga sering menanyakan informasi yang sama secara berulang-ulang. Bahkan, saat mereka sudah membuat janji dengan orang lain, mereka tidak mengingatnya sama sekali, dan justru melakukan pekerjaan lain yang di luar rencana.

Mereka juga percaya bahwa kesulitan-kesulitan itu bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Maka, hal ini membuat mereka menjadi gampang stres, cemas, penuh rasa takut, hingga mudah marah.

Nah, respon dari ketakutan inilah yang sering disalahartikan oleh banyak orang. Beberapa orang menduga bahwa pasien tadi mengalami depresi, penyakit Alzheimer, atau mungkin hanya sedang mengalami krisis paruh baya (puber kedua).

Kenyataannya, dokter menyatakan bahwa gangguan memori dan ketakutan tadi hanyalah efek depresi karena sedang mengalami krisis paruh baya. Artinya, gangguan memori atau daya ingat tidak selalu menjadi gejala awal penyakit Alzheimer seperti yang ditakutkan banyak orang.

Namun, meskipun demikian, tetap tidak menutup kemungkinan bahwa puber kedua menjadi salah satu gejala awal penyakit Alzheimer, ya. Tapi gangguan memori di usia muda biasanya lebih dikaitkan dengan gejala demensia frontotemporal (FTD).

Sayangnya, dokter pun kerap salah diagnosis dan menganggapnya sebagai depresi biasa. Padahal, jika stres dibiarkan secara terus-menerus, hal ini tentu akan meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer di masa yang akan datang.

Padahal sebenarnya, tidak semua orang pasti akan mengalami krisis paruh baya. Beberapa orang di antaranya ada yang berhasil melalui masa-masa sulit di usia 40-an, tanpa pergolakan batin.

Kalaupun kamu menyadari bahwa dirimu sedang mengalami krisis, hadapilah dengan tenang. Pahami bahwa krisis paruh baya itu normal dialami oleh semua orang yang memasuki usia lanjut.

Jika muncul rasa tidak percaya diri, jangan segan untuk minta bantuan pasangan atau orang terdekatmu, ya. Ceritakan semua kegelisahan yang kamu rasakan, dan mintalah solusi terbaik sesuai dengan kondisi yang kamu alami.

Jika kamu merasa mulai mudah lupa, cobalah untuk mulai kembali rutin olahraga untuk menghambat penurunan fungsi otak. Sebab, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Geriatrics Society di awal tahun 2018, olahraga aerobik yang dilakukan secara rutin, dapat menghambat kerusakan struktur dan fungsi sel saraf otak.

Selain itu, tidak ada salahnya untuk melakukan konsultasi ke dokter, agar bisa membantumu mengatasi kondisi puber kedua ini. Pasalnya, ternyata ada beberapa kondisi medis yang dapat memengaruhi suasana hatimu. Seperti gangguan tiroid misalnya, ini dapat membuat kamu menjadi mudah bad mood.

Related image
educapro.com

Atau, tidak menutup kemungkinan juga bahwa masalah daya ingat yang kamu alami memang benar-benar menjadi tanda awal penyakit Alzheimer. Maka, jelas segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan diagnosisnya adalah cara paling tepat, sebelum terlambat.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.