“Saya Menjadi Lebih Tenang Setelah Masuk Islam”

Gambar Via: feedolist.com

Seruni.id – Kaiji Kadir Wada adalah seorang mualaf yang mengaku sudah sejak lama ingin masuk Islam dan terus menerus memikirkan niatnya tersebut. Hingga akhirnya tekad Kaiji pun bulat. Meskipun orangtuanya tidak menyukai hal-hal berunsur agama, dan merasa tidak nyaman dengan pilihan agama baru Kaiji. Ia tetap terus berusaha untuk mengenalkan apa itu Islam yang sebenarnya. Ia pun mengaku lebih tenang setelah masuk Islam. Berikut kisah selengkapnya, dikutip dari Cordova Media:

Related image
Gambar Via: havehalalwilltravel.com

“Pertama kali saya berjumpa dengan Islam, ketika pergi ke Brunei, yakni pada Tahun 2015 lalu, untuk melanjutkan pendidikan. Seharusnya saya pergi ke Amerika, tapi karena beberapa alasan, saya tidak jadi ke sana. Saya memilih Brunei,” ucap Kaiji mengawali ceritanya.

“Saya tidak mempunyai pengetahuan ataupun informasi tentang Islam. Saya hanya mengetahuinya dari media. Pada tahun 2015, situasinya buruk bagi Muslim di Jepang. Image Islam juga menjadi buruk. Tapi kami tidak serta merta menghakimi mereka. Ketika saya berbincang dengan teman Muslim saya, itu biasa dan normal saja. Itu menjadi perbincangan yang biasa saja antara orang Jepang dan Brunei. Saya melihat bagaimana kehidupan Muslim dan bagaimana ajaran Islam yang sebenarnya,” tandasnya.

Setiap akhir pekan dan hari Jumat, Kaiji selalu datang ke Masjid Tokyo Camii, yakni Masjid bergaya Turki Utsmani yang dibangun di Tokyo, Jepang. Dan pada akhir pekan, Kaiji mengatakan jika Masjid tersebut terbuka untuk umum. Biasanya, orang Jepang akan datang ke dalam untuk melihat bagian interior Masjid.

Baca Juga: Alquran Memberiku Hidayah, “Saya Sangat Bangga dengan Hijab Saya”

Mereka juga mempelajari apa yang Islam ajarkan. Di sana tersedia Alquran dengan tulisan Bahasa Arab, tapi terdapat terjemahan bahasa Jepangnya. Maka, orang Jepang pun bisa mempelajarinya.

“Bagi saya, pertama kali sulit rasanya untuk membaca Alquran, jadi kami membaca serta memahaminya melalui terjemahan Bahasa Jepang. Saya juga punya satu di rumah, Alquran-nya tidak hanya dilengkapi terjemahan Jepang, tapi juga ada penjelasan secara rinci (tafsir), jadi saat ada sesuatu yang belum dipahami, kita bisa membaca tafsirnya, dan mempelajari lebih dalam lagi,” lanjut Kaiji.

“Sepulangnya saya dari Brunei, saya mulai mempelajari Islam. Mencari pengetahuan tentangnya setiap hari. Saya pun mendapatkan Islam sebagai agama yang sangat menentramkan. Ketika kita berhadapan dengan kesulitan, kita datangi Allah. Saat kita merasakan sakit, percayakan hanya pada Allah, dan meyakini bahwa itu hanyalah ujian dari Allah. Kita bisa melewati dan mengatasinya. Ketika kita mendapatkan kebahagiaan, kita harus tetap rendah hati,” tutur Kaiji.

“Begitulah bagaimana saya mengontrol emosi dan juga kepribadian saya. Itu pasti memberikan hasil yang baik untuk saya di masa yang akan datang, insya Allah,” tambahnya.

Baca Juga: “Kenapa Ayah Izinkan Saya Masuk Islam?”

Kaiji juga mengatakan jika ia telah memikirkan matang-matang keputusannya untuk menjadi seorang mualaf. Kurang lebih satu tahun. Awalnya hanya sebuah pikiran, hingga akhirnya kesempatan memeluk Kaiji erat-erat.

“Saya telah memikirkan untuk masuk Islam sejak lama, hampir setahun lamanya. Tapi saya tidak tahu kapan harus masuk Islam. Saya hanya memikirkannya secara terus-menerus. Lalu, kesempatan itu tiba-tiba datang. Bos saya memiliki janji untuk bertemu di Masjid, dan mengajakku untuk datang bersamanya. Saya pun ikut. Sensei (Imam) di Masjid, saya telah mengenalnya. Inilah waktu yang tepat, dan saat ada kesempatan untuk datang ke Masjid, saya masih belum siap, tapi inilah waktunya. Saya sudah mempelajari tentang Islam dan berpikir untuk masuk Islam,” kenang Kaiji.

“Saya berpikir jika lebih cepat akan lebih baik. Saya berpikir untuk masa depan, tentang diri saya di masa depan. Maka inilah waktunya, saya pun ikut pada pertemuan tersebut, dan setelah itu saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid,” tambahnya.

“Setelah menjadi Muslim, lebih mudah bagi saya untuk mengontrol hati, emosi, dan pikiran. Sebelum menjadi Muslim, kadang saya mudah emosi, tapi saat ini saya lebih merasa nyaman ketika melakukan sesuatu, tidak terburu-buru, lebih tenang. Saya bisa berpikir lebih jernih dan mengetahui mana yang baik serta mana yang buruk berdasarkan Alquran. Hidup saya menjadi lebih mudah,” ujar Kaiji mengakui jika hidupnya menjadi lebih tenang setelah masuk Islam.

Namun, apakah perjalanannya sebagai seorang Muslim yang juga pernah mampir ke Indonesia ini senantiasa mulus tanpa hambatan? Tentu tidak. Dan bagaimana tanggapan keluarga tentang keputusan Kaiji?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kaiji Kadir Wada (@superkokeji) on


“Orangtua saya merasa tidak nyaman dengan agama baru saya ini. Orangtua saya tidak suka dengan segala sesuatu yang ada unsur agamanya. Bagi saya, itu sangat sulit. Namun, mereka menerima keputusan saya ini. Mereka tidak mendukung agama saya, tapi tidak tahu untuk saat ini, mereka memutuskan untuk menerima keputusan saya, karena saya adalah putra mereka,”
jawab Kaiji.

“Langkah selanjutnya adalah membuat mereka paham tentang Islam. Apa itu Islam, apa yang Islam ajarkan, apa itu agama, dan tentu itu cukup sulit. Karena seperti yang kamu ketahui bahwa orang Jepang secara umum tidak memiliki budaya yang religius. Jadi saya membutuhkan waktu untuk menunjukkan pada mereka seperti apa Islam yang sebenarnya. Ini adalah tugas atau misi saya untuk membuat mereka tahu dan paham tentang Islam,” tutup Kaiji.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Cordova Media (@cordova.media) on

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kaiji Kadir Wada (@superkokeji) on


Baca Juga:
 Amira Ann Lee: Kenapa Saya Memilih Islam?

“Dialah (Allah) yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka. Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4).

Ma syaa Allah, semoga Kaiji bisa terus istiqomah dan semangat hingga akhirnya orangtua, keluarga, bahkan kerabatnya bisa lebih memahami dan percaya jika Islam merupakan satu-satunya agama yang benar. Aamiin.