Asal-Usul Spirit Doll dan Tanggapan MUI hingga Psikolog

  • Bagikan
Asal-Usul Spirit Doll dan Tanggapan MUI hingga Psikolog
instagram.com/imron.kun

Seruni.id – Populernya spirit doll alias boneka arwah, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang bagaimana asal-usul boneka tersebut. Untuk selengkapnya Seruni akan mengulasnya berikut ini.

Asal-Usul Spirit Doll dan Tanggapan MUI hingga Psikolog
parents.com

Berawal dari Thailand

Sejumlah selebritis tanah air kini tengah menjadi sorotan, lantaran dirinya mengadopsi sebuah boneka yang disebut sebagai spirit doll. Boneka yang katanya berisikan arwah atau roh itu, diperlaukan layaknya bayi manusia.

Ternyata, fenomena spirit doll ini berawal di Thailand pada 2016 silam. Masyarakat di sana, berlomba-lomba untuk mengadopsi boneka yang dianggap memiliki ‘aura’ supranatural.

Biasanya, masyarakat Thailand menyebutnya dengan ‘luk thep’ alias ‘malaikat anak’. Keberadaan spirit doll tersebut, diyakini akan mendatangkan sejumlah manfaat dan keberuntungan. Sehingga, mereka merawatnya seperti anak sendiri. Mulai dari diberi makan, minum, dan diberi perhatian khusus.

 

Didoakan oleh Biksu

Spirit doll tidak hanya dimanjakan layaknya anak manusia pada umumnya, si pembeli juga harus membawa boneka tersebut ke seorang biksu. Katanya sih tujuannya untuk dibacakan doa. Di mana, doa tersebut dimaksudkan untuk mendatangkan keberuntungan. Namun, mayoritas dari mereka ada yang meyakini, bahwa doa tersebut merupakan sebuah undangan agar arwah masuk ke dalam boneka tersebut.

 

Tanggapan MUI

Melihat tren spirit doll yang meresahkan ini, Mejelis Ulama Indonesia (MUI) pun angkat suara. Menurut KH. Muhammad Cholil Nafis, mengadopsi spirit doll atau boneka arwah, tidak diperbolehkan. Sebab, sama saja seperti memelihara makhluk halus.

“Punya boneka mainan itu boleh, tapi kalau itu diisi atau dipersepsikan tempat arwah hukumnya tidak boleh memilihara makhluk halus. Kalau disembah musyrik tapi kalau berteman saja berarti berteman dengan jin,” kata Cholil dikutip dari detik.

 

Tanggapan Psikolog

Selain MUI, psikolog pun turut angkat suara terkait maraknya adopsi spirit doll di kalangan masyarakat, khususnya selebritis. Menurut dosen psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bagus Riyono, hal ini hanyalah sebuah sensasi dan tidak wajar.

“Artis itu ‘kan suka mencari sensasi. Saat dia niatnya cuma untuk sensasi. Dia menyampingkan keimanan. Ini menurut saya berlebihan kalau boneka arwah bisa membawa nasib baik.” katanya seperti yang Seruni kutip dari laman republika.

Kemudian lanjutnya, percaya dengan boneka arwah adalah hal yang tidak wajar. Hal ini, dapat dipengaruhi gaya hidup artis tersebut seperti apa sehari-hari. Selain itu, mengadopsi spirit doll, juga bisa dikatakan hal yang musyrik. Sebab, secara otomatis membuat mereka percaya akan kekuatan arwah di dalam boneka tersebut.

Selain itu, jika mereka meyakini spirit doll dapat memberikan ketenangan, berarti secara tidak langsung mereka telah menyembah boneka. Dalam hal ini, sebagai publik figur harusnya mencontoh yang baik untuk masyarakatnya.

“Gaya hidup para artis itu kan memang penuh dengan kebebasan ya. Mereka menyampingkan iman dan jadinya mencari sesuatu yang buat mereka tenang dan bersandar. Dan itu pada boneka arwah. Ini tidak wajar ya,” kata dia.

Ia juga mengimbau, agar masyarakat lebih selektif lagi dalam mengikuti publik figur. Apabila tidak wajar, sebaiknya tidak dijadikan sebagi contoh. Prinsip dan gaya hirup seseorang berbeda-beda.

“Masyarakat harusnya tidak berkiblat terhadap artis-artis ya,” kata dia.

Baca Juga: Maraknya Fenomena Adopsi ‘Boneka Arwah’, Begini Pandangannya dalam Islam

  • Bagikan
seruni.id