“Usahaku Gulung Tikar Gara-gara Riba”

bebashutang.org

Seruni.id – Tidaklah Allah melarang dari sesuatu kecuali karena adanya dampak buruk dan akibat yang tidak baik bagi pelaku. Seperti Allah telah melarang dari praktek riba, karena akan berakibat buruk bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya. Seperti kisah seorang pemilik bengkel di bawah ini, usahanya hancur karena ia sempat terjerumus ke dalam riba.

Maxmanroe.com

Mulanya ia yang sedang merantau di daerah Jawa Barat itu, tiba-tiba mendapatkan kabar, bahwa Ibunya tengah jatuh sakit. Demi baktinya kepada sosok yang sangat ia cintai itu, niat untuk merintis usaha dengan menjual makanan menggunakan rombong, ia tinggalkan begitu saja.

Pulangnya ia dari perantuan ke rumah, hanya menyisakan uang 25 ribu di sakunya. Dia harus memutar otak untuk membuka usaha dengan modal yang terbilang sangat sedikit itu. Akhirnya, muncul lah sebuah ide. Yakni, membuka bisnis tambal ban. Karena menurutnya, jika membuka usaha tambal ban, penghasilannya langsung dibayar cash, dan tak butuh banyak modal. Cukup membeli sebuah pompa, sedangkan alat penambal bannya sendiri, ia bisa meminta racikan ke temannya.

Itu ide utamanya, selain itu ada ide yang lebih gila lagi. Dia memberanikan diri untuk membuka bengkel motor. Padahal, dia tidak memiliki keahlian dibidang tersebut. Namun, dia berusaha untuk mempelajarinya secara otodidak dengan bertanya kepada tukang bengkel di tempat lain.

Lambat laun, usaha yang ia bangun mulai berkembang. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka toko onderdil. Sebuah ruang kecil di depan rumah dijebol dan ‘disulap’ menjadi toko. Masih kecil-kecilan, tapi perkembangannya cukup pesat dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya musibah menyapa dirinya, bengkel dan toko roboh. Rata dengan tanah. Untuk sementara, usahapun harus istirahat untuk beberapa waktu.

Disela-sela waktu ‘rehat kerja’ terlintas dalam pikirannya untuk membangun bengkel dan toko yang lebih besar. Namun, tentunya akan membutuhkan dana yang banyak. Seperti kata pepatah ‘pucuk dicinta ulam pun tiba,’ datanglah pihak Bank untuk menawarkan dana pinjaman.

Tanpa pikir panjang, ia lantas menerima tawaran tersebut. Bengkel dan toko pun mulai ia bangun. Aneka ragam onderdil mulai mengisi toko. Awalnya, semua berjalan dengan lancar, setoran ke pihak Bank berjalan setiap bulannya. Tapi, lambat laun, ia justru merasakan keberatan. Semakin lama angsuran terasa membebani.

Lama-lama semakin tak berdaya, pemasukan yang ada tidak mampu melunasi utang yang ada. Akhiranya usaha bengkel dan onderdil kembali ia tutup. Di sisi lain, ia mulai menyadari yang dialakukan ialah dosa riba. Hal tersebut bermula ketika tanpa sengaja berselancar di internet, kemudian terhubunglah dengan komunitas anti riba.

Innaa lillah wa innaa ilaihi raji’un….

Ia langsung terhenyak, kaget bercampur ngeri ketika mengetahui dosa-dosa riba. Terutama, ketika dijelaskan, bahwa pelakunya seperti melakukan zina dengan ibunda sendiri. Untuk menurupi ‘lobang’ yang menganga, serta berusaha bangkit tari keterpurukan, ia mencoba mencari pinjaman ke saudara-saudara dan kerabat-kerabat.

Tapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun orang yang mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Alasannya macam-macam. Akhirnya, onderdil-onderdil yang ada pun dijual secara besar-besaran. Tapi masih belum cukup melunasi hutang di Bank.

Pada waktu itu, pihak Bank bertandang ke rumah. Kembali menawarkan bantuan. Angkanya fantastis. Ratusan juta rupiah. Hati kecilnya menolak tawaran itu, apalagi ia sudah memahami hukum riba dalam Islam; haram. Tapi akal dan hawa nafsu berkesimpulan lain: “Mau bagaimana kamu mengatasi permasalahan, kalau tidak dengan uang itu!”

Akhirnya, dengan berat hati uang itu pun ia ambil. Bergetar tangannya ketika menerima uang tersebut, karena menyelisihi rintihan hati nurani. Allah pula yang mengatur segala sesuatunya. Termasuk untuk memberikan petunjuk pada setiap hambanya, dengan jalur yang tak disangka-sangka. Bahkan terkadang memilukan. Jadi, beberapa hari selang menerim uang itu, rumahnya disentrol maling. Semua perhiasan dan uang, termasuk pinjaman dari Bank itu, dibawa lari.

Dia yang saat itu baru tiba dari luar rumah, dan diberi tahu peristiwa naas itu, langsung tersungkur, berlinangan air mata, dan terus beristighfar. Dia menyadari sesadar-sadarnya, bahwa ini adalah peringatan dari Allah, agar benar-benar meninggalkan riba. Jangan setenga-setengah. Akhirnya, ia pun bertekat untuk meninggalkan yang namanya riba. Tanpa keraguan sedikitpun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.