“Enak Jadi Ibu”

Gambar via: zawaj.com

Seruni.id – Pernahkah kamu merasa orangtua pilih kasih, berat sebelah dengan kamu, kakak, atau adikmu? Atau justru kamu berpikir jadi orangtua itu enak, tidak seperti beratnya hidup menjadi seorang anak? Sebelum kamu keliru dalam melangkah dan berpikir salah atas orangtua, izinkan Seruni mengajakmu untuk merenung bersama, ya? Sebab, banyak hal yang orangtua rasakan, tidak kita tahu dengan jelas. Seperti kisah satu ini:

Related image
Gambar via: freepik.com

Salah satu kebiasaan saya adalah mewujudkan momen acara “Satu hari bersama anak”. Jadi, ada satu hari saya akan pergi berdua dengan salah satu anak, secara bergiliran dan tidak terjadwal. Jadi semacam ‘kejutan’.

[read more]

Saya akan menjemput dari sekolah, makan berdua di tempat yang anak saya suka (anak yang memilih tempat dan menunya). Kesempatan itu saya gunakan untuk mendengar lebih banyak masalahnya. Mendengar cerita-cerita indahnya, atau bahkan khayalan-khayalannya.

Ketika kami berdua bicara tentang peran-peran, seperti kalau aku jadi guru, jadi adik, dan lain-lain, saya bertanya pada anak kedua saya, waktu itu ia masih kelas 2 SD.

“Paling enak menjadi siapa?” tanya saya.

Dengan spontan, anak saya menjawab, “Jadi Ummi!”

“Kenapa?”
“Enak jadi Ummi, tidak usah sekolah, tidak ada PR, tidak usah dimarahin guru,”

Tak berhenti sampai di situ, anak saya menyambung lagi dengan kalimat, “Ummi kalau mau pergi tinggal pergi, gak perlu izin, kalau aku harus izin dulu sama Ummi dan ayah, dan seringnya gak diberi izin,” tandasnya.

“Ummi kalau mau jajan tinggal jajan, gak perlu minta-minta dulu kayak aku. Enak kan jadi Ummi,” imbuh anak kedua saya.

Glekkk! Hampir saja makanan di mulut saya tertelan, padahal belum sempurna dikunyahnya. Saya tidak pernah menyangka bahwa anak saya akan berpikir seperti itu.

Saya jadi teringat curhatan ibu-ibu di berbagai kesempatan, tentang sulitnya mengatur keuangan, susahnya mengatur waktu agar semua urusan rumah terselesaikan dengan baik. Repotnya menghadapi anak yang sulit makan sayur, plus mertuanya yang komplain melulu.

Di akhir pembicaraan dengan anak saya tersebut, akhirnya saya paham bahwa saat itu anak saya sedang stres menghadapi pelajaran yang menurutnya sulit. Ia juga sedang iri pada temannya yang ternyata uang jajannya lebih banyak, daripada yang saya berikan padanya. Sehingga anak saya membandingkan dengan umminya, yang di rumah enak banget.

Hingga pada suatu hari di parkiran sekolah, saya menyaksikan seorang ibu yang marah-marah pada anaknya karena tidak mau masuk sekolah. Kalimat yang sayup sayup saya dengar, “Apa? Stres? Kamu tuh apa sih yang membuat kamu stres? Uang tinggal minta, semua tersedia. Kalau mau stres, mama yang pantas stres, ngurus kamu, cari uang untuk sekolah kamu yang tidak murah. Ayo masuk! mama gak mau dengar lagi alasan-alasan,” ujar si Ibu.

Syukurnya, anak saya juga menyaksikan peristiwa ini secara kebetulan. Ia langsung menarik tangan saya dan bertanya, “Memangnya jadi Ummi itu bisa stres juga ya Mi?”

Oleh: Dewi Yulia
Dikutip dari Buku Ketika Cinta Digugat: Enak Jadi Ummi

Sekarang, coba atur napasmu, duduk dan renungkan. Berapa kali Ibu membuatmu menangis, dan seberapa sering ia mencipta senyum di wajahmu? Berapa kali kamu mebanggakan Ibu, dan seberapa sering kamu kecewakan dia? Percayalah, kebahagiaan orangtua, khususnya seorang Ibu adalah saat melihat anaknya bahagia.

Kalau senyummu bisa menjadi pelipur lara bagi Ibu, mengapa senyumnya tak bisa menjadi pelepas lelah bagimu? Coba Seruni tanya, sudahkah kamu bilang sayang pada Ibu hari ini? Atau kamu sengaja menunggu nanti, saat Ibumu sudah telanjur dipanggil pulang oleh yang Maha Kuasa?

[/read]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.