Aminah Assilmi Yakin Menjadi Mualaf Meski Hampir Dibunuh Sang Ayah

imagenesmy.com

Seruni.id – Aminah Assilmi, memang tak banyak yang mengenal sosoknya. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010 lalu, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Hasil gambar untuk aminah assilmi converts to muslim
MuslimInc.com

Dulunya, ia merupakan mantan biarawati dan juga seorang jurnalis radio. Perjalanan Aminah menuju Islam cukup rumit, karena setelah bersyahadat ia pernah diancam akan dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa, bahkan ia juga pernah mendapatkan ancaman akan dibunuh. Namun, ada hal unik yang menjadi awal mula Aminah Assilmi mengenal Islam, yakni berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer.

[read more]

Sewaktu muda, ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan unggul di sekolah sehingga dia mendapatkan beasiswa. Suatu ketika, ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Siapa yang menyangka jika hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.

Pada waktu itu, sebenarnya ia telah mendaftar untuk ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer salah mendata, ia malah dimasukkan dalam kelas teater. Namun sayangnya, kelas tidak bisa dibatalkan karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F, hal tersebut menjadi bahaya.

Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menemui dosennya untuk mencari solusi alternatif. Dan dosen menganjurkan ia untuk masuk ke kelas lain. Namun, ia terkejut saat masuk ke kelas alternatif itu.

Dia tak menyangka jika di dalam kelas tersebut banyak sekali wanita Arab berjilbab. Akhirnya, Aminah memutuskan untuk tidak ikut kelas dan pulang ke rumah. Karena tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab.

”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.

Dengan tenang sang suami mengatakan bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia meminta istrinya memikirkan masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah.

Selepas itu, ia mengurung diri selama dua hari untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan, mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia bisa membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Seakan Aminah memiliki misi yang harus ditunaikan, maka saat di kelas ia kerap mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arabnya.

”Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”

Namun, teman-teman di kelasnya tidak mau berpaling dari Islam, sehingga ia memutuskan mempelajari Alquran mencari kelemahan Islam dan ingin membuktikan jika Nabi Muhammad bukanlah seorang Nabi.

Ia pun melakukan penelitian selama kurang lebih satu setengah tahun dan membaca Alquran tersebut hingga tamat. Secara tak sadar ia semakin tertatik, hingga perlahan ia berubah menjadi seseorang yang berbeda, suaminya pun memperhatikan hal itu.

Melihat perubahan istrinya, sang suami mengira jika ia selingkuh. Hingga suaminya tak tahan, dan ia diminta meninggalkan rumah serta tinggal di apartemen yang berbeda.

Namun, ia tetap tak berhenti untuk terus memepelajari Islam lebih dalam. Meski saat itu dirinya belum melepas ketaatannya pada agama awal. Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Pada 21 Mei 1977, seorang Kristen yang taat ini mengucapkan dua kalimat syahadat, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

Setelah mengucapkan dua kalmat syahadat, ujian masih terus berlanjut, ia kehilangan segala yang dicintainya. Bahkan, ia juga kehilangan temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi.

Mengetahui hal tersebut, Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Ia dikira gila oleh saudara perempuannya. Bahkan, sang Ayah yang biasanya lemah lembut, juga berubah. Ayahnya telah membawa senjata dan siap untuk membunuh anaknya yang saat itu sudah menjadi mualaf.

Saat ia memutuskan untuk mengenakan hijab, pada hari yang sama ia juga kehilangan pekerjaannya, ditambah lagi dengan adanya perceraian yang sudah di depan mata. Lengkaplah sudah.

Mau tidak mau, Aminah harus membuat keputusan terpahit dalam hidupnya, antara melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya, atau tetap memeluk Islam dan harus meninggalkan anak-anaknya.

”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.

”Saya berdoa lebih dari biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah,” kenangnya.

Akhirnya, ia pun rela melepaskan anak-anaknya demi tetap berpegang teguh pada Islam.

Aminah tetap menjaga hubungan dengan keluarga, meskipun mereka telah mengucilkannya. Ia masih berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Alquran serta hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan.

Namun, ia tak menyebut petuah-petuah itu dari Alquran. Dan ternyata, strategi yang dilakukannya ini cukup berhasil. Lama-kelamaan, ada respon positif dari keluarganya. Dengan kesabaran dan doa yang tak pernah putus, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam, yang pertama adalah sang nenek.

“Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” ujarnya.

Kemudian tak lama dari itu, Ayah yang dulu hendak membunuhnya, juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga megucapkan syahadat. Dan yang membuatnya sangat gembira adalah saat anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya.

Hal paling mengharukan selepas 16 tahun ia memeluk Islam adalah saat mantan suaminya juga mengucap dua kalimat syahadat. Bahkan juga meminta maaf atas segala kekhilafannya.

Saat itu Aminah telah menikah dengan pria lain. Dulu ia pernah divonis oleh dokter mengidap penyakit kanker dan tidak bisa memiliki anak lagi. Namun, Allah memiliki rencana yang lebih indah. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.

“Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” ucap Aminah penuh haru.

Dalam segala aktivitas yang dilakukan, ia tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Ia kerap memakai busana Muslimah secara sempurna. Sesuatu yang aneh sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.

Meski dulu ia memojokkan Islam, bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Segala ujian dan penderitaan yang datang setelah ia memeluk Islam justru tak membuat Aminah putus asa. Allah berikan balasan atas kesabarannya dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya.

Wallahu a’lam.

[/read]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.