Berita  

Iklan Bernuansa LGBT pada Konten YouTube Anak-anak Bikin Warganet Geram

Iklan Bernuansa LGBT pada Konten YouTube Anak-anak Bikin Warganet Geram
finance.detik.com

Seruni.id – Warganet dibuat geram dengan kemunculan iklan bernuansa LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang muncul pada konten YouTube anak-anak.

Iklan Bernuansa LGBT pada Konten YouTube Anak-anak Bikin Warganet Geram

Dikemas dengan Animasi Buah-buahan

Pasalnya, video yang dikemas dengan animasi buah-buahan, seperti, pisang, jeruk, dan apel, justru mempromosikan LGBT dengan liriknya yang sangat vulgar.

Tentu saja hal ini membuat warganet geram dan heran, karena tak sepantasnya iklan tersebut muncul pada konten anak-anak. Hal ini bermula saat seorang pengguna Instagram dengan akun @christinelarasati, tak sengaja menemukan iklan bernuansa LGBT itu, ketika menemani sang anak menonton ‘Little Angel”.

“Asli shock banget!!!! Lula lagi nonton Little Angel terus tiba-tiba iklannya gini astaghfirullah.. ini film anak-anak loh,” tulisnya sambil menyematkan emoji marah.

“Kenapa pada jahat-jahat banget sih sama anak-anak, bisa-bisanya masukkin Ad begini ke film anak-anak! Namanya di akhir video, Sindu Aku Bukan Homo,” lanjutnya dengan menyematkan akun KPAI, YouTube, dan YouTube Indonesia.

“Gila sih ini!! Guys please hati-hati ya anak nonton YouTube sebisa mungkin jangan ditinggal sendiri, ya. Lula emang selalu ditemenin kalau nonton jadi selalu tau dia lagi suka nonton apa.. Astagfirullah astaghfirullah.. Dan aku sengaja rekam sampai habis, itu videonya makin vulgar, even pakai contoh buah-buahan,”

“Terserah deh mau bikin konten apaan, tapi jangan dimasukkin jadi Ad di film anak-anak dong!!,” tutupnya.

Warganet Geram

Hal senada juga dikeluhkan oleh para pengguna Twitter, mereka tak menyangka jika iklan bernuansa LGBT tersebut justru terselip pada konten anak-anak.

“Hati-hati ya.. Iklan YouTube meresahkan… Padahal ini di YouTube anak-anak, lagi lihat lagu anak-anak. Tetap dampingin anak-anak Anda…” tulis akun @tahajudlah dengan menyematkan video iklan tersebut.

Akun @alfizzam juga turut mengunggah foto potongan iklan tersebut. Ia pun menilai bahwa iklan bernuansa LGBT tersebut sudah keterlaluan.

“Pagi ini ramai banget ibu-ibu yang bahas tentang iklan YT Kids yang menampilkan tentang LGBT. Salah satunya lagu ‘Aku Bukan Homo’ dari channel Sindu,” tulisnya.

“Keterlaluan sih, iklan di channel lagu anak-anak kok diselipkan hal-hal tentang homoseksual. Pakai ilustrasi buah-buahan pula,” lanjutnya sambil menyematkan emoji menangis.

Menurutnya, video tersebut bukanlah hal yang pantas untuk disuguhkan kepada anak-anak, terlebih di usai balita.

“Terlepas dari orientasi seksualnya gimana, tetap saja apa pun konten seksualitas gak pantas ditanyangkan untuk anak-anak, apalagi balita,”

Tanggapan MUI

Video iklan bernuansa LGBT itu tersenyata diunggah oleh akun YouTube bernama Sinduatiga di hari yang sama ketika akun tersebut dibuat, tepatnya pada tanggal 9 September 2021.

Entah apa motif yang ada di baliknya, saat ini pun channel dengan jumlah subscriber 182 itu, sudah tak ditemukan video apa pun. Termasuk video iklan yang diunggahnya, yang menjadi satu-satunya video di channel tersebut.

Hal ini pun direspons oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Ia mengimbau agar pihak YouTube segera menurunkan atau take down video tersebut.

“MUI meminta dan mendesak pihak YouTube agar menghormati nilai-nilai dan norma-norma serta hukum yang berlaku di dalam negara RI dengan men-take down konten tersebut,” Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI, Senin (13/9/2021).

Menurutnya, Indonesia memiliki dasar Pancasila dan UUD 1945. Di mana pada sila pertama berkaitan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebutlah yang mendasari tidak dibolehkannya kegiatan yang bertentangan dengan nilai ajaran agama. Terlebih, menurutnya, tidak ada agama yang membolehkan LGBT.

Baca Juga: Sisi Positif dan Negatif YouTube Terhadap Anak-anak

Ia juga meminta pemerintah tanggap dan cepat bertindak terkait masalah ini. Guna melindungi rakyat dari hal-hal yang merusak jati diri anak bangsa.