Kisah Kuli Bangunan yang Berhasil Dirikan Masjid dan Rumah Tahfiz

google.com

Seruni.id – Perjuangan yang panjang tak akan pernah mengkhianati hasil, begitulah gambaran hidup dan mimpi dari seorang Muhammad Basir Bani Daeng Bali, warga Desa Jennetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawasi Selatan. Tak ada yang menyangka, jika tukang kuli bangunan ini, dapat mewujudkan mimpinya, yaitu mendirikan sebuah masjid serta rumah tahfiz Alquran dari hasil jerih payahnya selama ini.

Hasil gambar untuk basir pendiri masjid dan rumah tahfidz
tagar.id

Masjid Lurus Jaya dengan luas 18×24 meter persegi ini, telah berdiri kokoh sejak empat tahun pembangunannya. Masjid tersebut berdampingan dengan rumah tahfiz Alquran dengan luas 24×6 meter. Rumah bagi para penghafal Alquran ini diyakini bisa menampung sampai 100 calon hafiz dan hafizah.

Sambil sesekali mengusap air matanya dihadapan para tamu undangan, ayah tiga anak itu menceritakan perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Kala itu, nasib baik tidak berpihak padanya, sampai pada saat kelas 2 SMP, ia terpaksa harus putus sekolah karena tak ada biaya.

Demi menyambung hidup, Basir menjalani berbagai macam pekerjaan serabutan. Mulai dari menjadi kuli bangunan, kernet mobil, penjual roti, hingga pelayan warung makan mie titi. Meski demikian, hal tersebut tidak membuat semangatnya melemah, dia justru memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja demi sebuah masjid dan rumah tahfiz Alquran yang ia persembahkan untuk umat Islam sekitar, terlebih untuk kedua orangtuanya yang telah lebih dulu menghadap sang khalik.

Setelah berkelana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, Basir lalu kembali menjadi kuli bangunan dan akhirnya naik menjadi tukang. Saat itulah, ia bertemu dengan Rosdiana Gasa Dg Te’ne, wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.

Dari sinilah, Basir lalu merambah menjadi pemborong. Selain itu, dia terus membanting tulang manyambi menjadi tukang ojek. Di tengah kesibukannya itu, dia masih menyempatkan diri untuk mengabdi menjadi pengurus masjid.

“Awalnya ga’de-ga’de (warung) kecil. Setelah jadi pemborong dan tukang ojek, pada tahun 2011, saya merintis usaha PT Lurus Jaya Manngallei yang menjual bahan bangunan. Ga’de nya istri juga sudah maju menjadi grosiran. Jadi kami buat dua toko sekaligus,” kisahnya.

Istrinya mendampingi dari belakang, bekerja keras bersama, memberi dukungan, serta membantu menabung penghasilan selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya, mereka berhasil membangun 6 unit rumah yang menjadi cikal bakal berdirinya usaha lain di bidang perumahan. Rumah yang terjual itu, lalu dijadikan sebagai modal untuk membeli tanah dan membangun rumah 100 unit di Desa Jennetalassa, Kecamatan Pallangga yang diberi nama Lurus Jaya Land.

Setelah itu berdiri lagi, LJ Land 2 dan terbeli pulalah lahan yang sekarang menjadi masjid dan rumah tahfiz. “Saya percaya niat membangun Masjid bisa menyelamatkan kedua orang tua dan melancarkan rezeki. Saat saya menjadi pengurus Masjid itu, rezeki kami luar biasa,” paparnya.

Kedua orang tuanya kini telah berpulang, mendiang ayahnya dipanggil tahun 1997 silam. Sementara ibunya berpulang tahun 2017 atau dua tahun sebelum Masjid tersebut berdiri. Meski demikian, ia meyakini kebaikan yang ia lakukan bisa membuat bahagia kedua orang tuanya meski telah berpulang ke rahmatullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.