“Sampai Akhir Napas, Jilbab Ini Akan Selalu Saya Kenakan”

ilustrasigambar

Seruni.id – Perintah berhijab telah disebutkan dalam Alquran. Setiap wanita yang sudah baligh, diwajibkan untuk menutup aurat mereka. Hal itu bertujan agar mereka lebih terhormat dan tidak mudah diganggu oleh orang yang berniat jahat. Seperti kisah wanita mualaf asal Polandia, ia rela menjadi tukang sapu jalan, agar bisa terus memakai jilbab. Dan dia pun mengatakan, jika sampai akhir napas, jilbabnya akan selalu ia kenakan.

[read more]

 

Gambar terkait
ilustrasigambar

Dalam salah satu kesempatan mengisi diskusi di grup WhatsApp mengenai jilbab, saya menceritakan kisah perjuangan para Muslimah di sini, Polandia. Dalam peluang tersebut aku menggambarkan cerita perjuangan para Muslimah di Polandia, dimana mayoritas dari meraka merupakan sister mualaf. Salah satu sister yang dekat denganku adalah sister Cahaya.

Perjuangan serta ketangguhannya, terkadang membuat aku menangis terharu, sampai tak henti-hentinya mengucapkan kalimat takbir dan tahmid.

Setelah mendapatkan ujian perihal mantan suaminya, sister Cahaya masih terus berjuang dalam kondisi keluarga yang sangat memprihatinkan, dan mencari pekerjaan dengan keadaan masih mengenakan hijab.

Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai pengasuh bayi dengan kondisi berjilbab. Namun, akhinya dia diberhentikan. Sisiter Cahaya pernah menceritakan, bahwa dirinya sempat bekerja sebagai pengasuh bayi umur 8 bulan. Akan tetapi, entah kenapa ibu sang bayi justru merasa keberatan dengan jilbabnya. Sang majikan menyuruh sister Cahaya untuk melepas hijabnya.

“Kenapa kau tidak melepas penutup kepala itu, kau kan seorang Polish (Orang Polandia)?” begitu ibu si bayi mengeluhkan tentang jilbabnya.

“Maaf Pani, saya tidak bisa, saya seorang Muslimah,” begitu teguh jawabannya dalam keadaan sulit sekalipun.

Sesekali aku pernah memberanikan diri untuk bertanya, “Sister, mengapa kau tidak menutup kepala seperti turban agar tidak begitu nampak, mungkin dengan begitu mereka akan tetap mempekerjakanmu?”

“Tidak … Tidak, sampai akhir napas, jilbab ini akan selalu saya kenakan, Sister. Tak ada siapapun atau apapun yang bisa menggantikan hidayah yang telah Allah karuniakan ini,” jawabnya penuh keteguhan.

“Hidup ini sementara. Saya berdoa saya kembali menghadap-Nya dalam keadaan taat. Apa yang perlu saya khawatirkan, Sister?”

“Allahu Akbar … Allahu Akbar,” saya bertakbir dan memeluknya dengan haru.

Ini saudari mualaf yang teguh dengan jilbabnya. Yang tak goyah dalam jalan imannya. Izinkan saya bertanya kepada saudari yang diberi kemudahan dan kelapangan:

Apa yang menghalangimu berjilbab?
Apa yang memberatkanmu berjilbab?
Apa yang membuatmu enggan berjilbab?

Mari dengar apa yang hendak ia ucap saat saya kembali bertanya, “Lalu bagaimana sekarang kau menghidupi dirimu dan kedua orang tuamu?”

Saya kerja jadi tukang bersih-bersih supaya tidak lepas jilbab. Tidak ada yang peduli atau keberatan dengan jilbab yang saya pakai. Saya lebih tenang dengan pekerjaan ini, Sister,” Ia mengucap kalimat di atas dengan binar bahagia.

Saya kembali mendekat dan memeluknya. Aisha yang tengah memperhatikan kami tiba-tiba sudah berdiri di depan dan ikut memeluknya. MashaAllah, putri saya pun bisa merasakan ketegaran saudari dari negeri Sang Paulus ini.

Sister ini bagi saya tak sekadar teman, melainkan ada ikatan yang erat dan kuat yakni ikatan aqidah. Dan darinya saya belajar arti keteguhan dalam ucapan pun perbuatan dalam menunjukkan identitas.

[/read]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.