Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Karantina dan Isolasi Mandiri

  • Bagikan
Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Karantina dan Isolasi Mandiri
rri.co.id

Seruni.id – Sejak kemunculan COVID-19, telinga kita mungkin sudah sangat akrab dengan istilah karantina dan isolasi mandiri. Keduanya memang memiliki tujuan yang sama, yakni untuk menekan laju penularan virus Corona. Meski tujuannya sama, tapi karantina dan isolasi mandiri memiliki perbedaan yang mendasar, loh. Lantas, apa bedanya karantina dan isolasi mandiri?

Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Karantina dan Isolasi Mandiri
kompas.com

Pengertian Karantina

Karantina adalah upaya untuk memisahkan seseorang yang terpapar COVID-19, baik dari riwayat kontak atau riwayat bepergian ke wilayah yang telah terjadi transmisi komunitas, meskipun belum menunjukkan gejala atau tanda-tanda bahwa tubuh dalam masa inkubasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Harus kalian ingat, bahwa karantina harus dilakukan, walaupun belum ada gejala yang dirasakan atau sedang dalam masa inkubasi.

Lalu, bagaimana tandanya jika seseorang tersebut dinyatakan selesai karantina? Seseorang boleh mengakhiri masa karantina apabila pada hari kelima memberikan hasil negatif melalui tes PCR. Namun, jika hasilnya justru positif, maka orang tersebut dinyatakan sebagai kasus terkonfirmasi COVID-19 dan harus menjalani isolasi. Sementara itu, jika tidak melakukan test, maka karantikan masih akan berlanjut hingga 14 hari.

Pengertian Isolasi Mandiri

Isolasi mandiri adalah upaya memisahkan seseorang yang positif terinfeksi virus Corona dan membutuhkan perawatan COVID-19 atau seseorang yang terkonfirmasi COVID-19 dari orang yang sehat, dengan tujuan untuk mengurangi risiko penularan. Ada beberapa kriteria khusus yang menandakan bahwa isolasi telah selesai dan seseorang telah dinyatakan sembuh, yakni:

  • Pada kasus terkonfirmasi yang tidak bergejala (asimotamatik), isolasi dilakukan selama sekurang-kurangnya 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi.
  • Sedangkan pada kasus konfirmasi bergejala, isolasi dilakukan selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah dengan sekurang-kurangnya tiga hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. Sehingga, untuk kasus-kasus yang mengalami gejala selama 10 hari atau kurang, harus menjalani isolasi selama 13 hari.
  • Setelah itu, seseorang tersebut harus melakukan test kembali. Apabila hasilnya negatif, maka masa isolasinya berakhir.

Hal yang Harus Diperhatikan Saat Isolasi Mandiri

Isolasi mandiri tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa hal penting mengenai isolasi mandiri yang tidak boleh diabaikan, yakni sebagai berikut:

1. Melapor

Isolasi mandiri tidak diputuskan oleh seseorang yang terkonfirmasi positif, ya. Melainkan harus berdasarkan rekomedasi atau persetujuan tenaga medis atau dokter. Sebaiknya, setelah terkonfirmasi positif, seseorang harus melapor pada tenaga medis atau dokter, sehingga perawatan atau terapinya dapat terpantau. Sekalipun sudah mendapatkan izin, tapi diperlukan syarat lainnya. Misalnya seseorang tersebut hanya bergejala ringan atau sangat ringan, hingga tidak memiliki komorbid atau tidak berusia lansia.

2. Ruang Isolasi yang Baik

Selain itu, pastikan ruangan yang akan digunakan sebagai tempat isolasi memiliki ventilasi dan aliran udara yang baik. Jika ada jendela kamar, maka bukalah untuk berjemur. Masa isolasi harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk pemulihan. Jangan lupa untuk mengonsumsi obat secara teratur, mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, hingga istirahat yang cukup. Jika kadar oksigen baik, kamu bisa berolahraga di dalam ruangan atau beranda rumah. Penting untuk diingat, bahwa seseorang yang melakukan isolasi mandiri artinya ia mampu merawat dirinya sendiri dengan baik. Apabila tidak memiliki ruangan yang mendukung, isolasi bisa dilakukan di karantina terpusat.

3. Memiliki Ruangan Terpisah di Rumah

Apabila terkonfirmasi positif dan ingin melakukan isolasi di rumah, pastikan kamu memiliki ruangan terpisah dengan anggota keluarga lainnya. Apalagi jika anggota keluarga memiliki komobird. Hal ini dilakukan agar kamu tidak menjadi sumber penularan virus terhadap anggota keluarga lain. Namun, jika ruangan terpaksa digunakan bersama, seperti kamar mandi, pastikan ruangan tersebut dibersihkan setelah dan sebelum digunakan oleh anggota keluarga yang sehat.

4. Tidak Kontak dengan Orang yang Sehat di Rumah

Tidak hanya berada di ruangan yang terpisah, jika kamu terkonfirmasi positif, usahakan untuk menghindari kontak dengan orang sehat, ya. Misalnya, ketika anggota keluargamu membawakan makanan, cukup taruh makanan tersebut di luar. Kemudian kamu bisa mengambilnya sendiri setelah orang yang mengantar pergi. Baik orang yang membawakan makanan maupun yang sedang sakit, harus tetap mengenakan masker.

5. Tidak Ikut-ikutan Pengobatan Orang Lain

Alasan mengapa ketika terkonfirmasi positif, tetap harus melapor ke tenaga medis atau fasilitas kesehatan adalah agar mendapatkan terapi dan penanganan yang tepat. Meskipun melakukan isolasi mandiri, individu tersebut tetap akan diberikan obat atau suplemen untuk dikonsumsi setiap hari. Kapan waktu pengobatan selesai pun harus diputuskan oleh tenaga medis, bukan pasien. Selain itu, hindari kebiasaan ikut-ikutan pengobatan orang lain, karena kondisi setiap orang yang terinfeksi COVID-19 bisa berbeda-beda.

Baca Juga: 5 Kesalahan yang Membuat Usaha Pencegahan Covid-19 Jadi Sia-sia

Setelah membaca ulasan di atas, semoga kita tidak keliru lagi ya mengenai perbedaan antara karantina dan isolasi mandiri. Semoga bermanfaat!

  • Bagikan