Mendukung Penggunaan Cadar, Wanita Ini Justru Mendapatkan Perlakuan Rasis

ilustrasigambar

Seruni.id – Seorang wanita Muslim mendapatkan perlakuan rasis dikarenakan dirinya kontra terhadap larangan burka di Inggris. Aisha Ali Khan merupakan guru bahasa Inggris dan sejarah itu mengaku dipaksa pulang oleh seorang akademis dari Oxford University yang mendukung kebijakan pengunaan cadar di Inggris.

Mendukung Penggunaan Cadar, Wanita Ini Justru Mendapatkan Perlakuan Rasis
Mendapatkan Perlakuan Rasis

Diusir Ketika Menghadiri Jamuan Makan Malam

Dilansir dari Metro.uk, peristiwa tersebut terjadi pada 18 September 2019 lalu di Yorkshie, Inggris. Aisha diusir ketika tengah menghadiri makan malam yang diselenggarakan oleh salah seorang temannya. Pada saat itu, Aisha mengaku sedang duduk disebuah meja dengan orang-orang yang berasal dari bidang pendidikan. Selama acara berlangsung, mereka membicarakan banyak hal termasuk perihal politik.

Wanita itu menjelaskan, bahwa Dr Peet Moris memaksanya untuk pulang jika tetap mendukung penggunaan hijab atau burka bagi Muslimah. Saat itu, istri Dr Moris, yakni Dr Harriet Dunbar-Moris juga turut hadir pada jamuan makan malam tersebut dan mencoba untuk menenangkan keadaan. Namun sayangnya upaya tersebut gagal.

“Sebagai seorang perempuan yang lahir dengan warna kulit yang berbeda, saya merasa dikucilkan dan merasa menjadi korban rasisme. Semakin aku berbincang dengan tamu-tamu lainnya, aku semakin tertekan,” kata Aisha.

Meski kepalanya tak dibalut hijab pun burka, dia merasa bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk mengenakan buasana yang dia inginkan, sekalipun berhijab. Pengalaman ini ia bagikan di akun Twitter pribadinya. Namun, hingga saat ini pihak Oxford University belum memeberikan tanggapan.

Pihak Oxford Angkat Biacara

Setelah berita ini ramai, seorang juru biacara Oxford akhirnya angkat bicara, dan mengeluarkan pernyataan di akun media sosial mereka.

“Kami diingatkan oleh berbagai pihak, atas kasus yang terjadi di sebuah acara pribadi yang tidak ada kaitannya dengan universitas. Dr Peet Moris bukanlah mahasiswa ataupun akademisi dari universitas kami. Dia hanya menjalani kontrak biasa untuk memberikan pelatihan komputer,” tulis pernyataan itu.

“Dalam kebijakan kami, Oxford University selalu berkomitmen untuk mendorong budaya inklusif yang mempromosikan kesetaraan, nilai-nilai keanekaragaman, dan memelihara lingkungan di mana hak dan martabat semua orang di hormati,” tambahnya.

Untuk menutup tudingan ini, Oxford University juga menegaskan bahwa mereka selalu merangkul keberagaman di antara para mahasiswa maupun orang-orang yang berkaitan langsung dengan universitas. Mereka juga selalu mempromosikan kesadaran akan kesetaraan dan mendorong praktik-praktik yang positif.

“Semua anggota komunitas universitas diharapkan untuk bertindak sesuai dengan kebijakan ini dan memahami nilai-nilainya,” tutup pernyatan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.