“Ayah, Ajari Aku Mencintai Alquran”

  • Bagikan
onedayonejuz.org

Seruni.id – Orangtua memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, mereka juga dituntut untuk dapat mendidik buah hatinya agar ketika ia besar, dia tumbuh menjadi pribadi yang soleh pun solehah. Salah satu caranya adalah dengan mengajarinya membaca Alquran, hal ini menjadi sebuah kewajiban bagi orangtua. Sebab, Alquran adalah sebuah petunjuk hidup, yang telah Allah turunkan untuk umatnya, agar senantiasa bisa diamalkan, dihafal, dan dipergunakan dengan baik.

ilustrasigambar

Dengan mendidik anak untuk dapat membaca dan menghafal Alquran, mereka akan menemukan arah langkah yang jelas dan tentu selalu berada dalam bimbingan-Nya. Seperti kisah anak bernama Toda, ia adalah anak semata wayang yang ingin sekali bisa belajar membaca Alquran. Keinginan tersebut sangat didukung penuh oleh sang Ayah, bahkan Ayahnya berusaha menuntun anaknya itu tidak hanya bisa membaca Alquran saja, tapi juga bisa mencintai kalamullah.

Pada hari ke-5 bulan Ramadhan, di saat warga desa telah usai melaksanakan salat tarawih. Toda, anak lelaki yang baru mengijak usia 10 tahun itu ikut ayahnya untuk beranjak pulang. Sang Ibu telah lama meninggal, sejak usia Toda baru sembilan bulan, sehingga mereka hanya tinggal berdua saja di sebuah rumah yang cukup sederhana di pinggiran sungai.

Kebetulan saat malam itu, bulan purnama sedang muncul untuk kesekian kalinya. Kampung tersebut langsung sepi, hanya lantutan ayat-ayat Alquran yang terdengar, suara tersebut cukup nyaring melalui toa surau yang dibacakan oleh anak-anak desa secara bergiliran. Ditambah lagi, dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan, juga suara burung hantu.

Selepas pulang salat tarawih, Toda merasa sangat lelah, karena menjelang berbuka puasa, ia sempat bermain bila dengan teman-temannya. Saat itu, dia sudah terbaring di atas dipan bambu yang terlihat sudah tua dan reot di kamarnya, dan bersiap untuk memejamkan mata. Hanya terdapat tiga lampu di rumahnya, di teras depan rumah, ruang tengah, dan dapur. Selebihnya, hanya menggunakan ublik yang ditempelkan di dinding yang terbuat dari anyaman bambu.

Ada alasan mengapa Toda lebih memilih untuk langsung tidur dibandingkan berkumpul di surau bersama teman-temannya. Di samping badannya yang lelah, selain itu Toda ternyata kurang bisa membaca Alquran, lebih tepatnya, dia masih terbata-bata. Jadi, dia memutuskan untuk tetap di rumah. Meskipun demikian, teman-temannya bersikukuh mengajaknya tadarus.

Belum sempat tertidur pulas, samar-samar Toda mendengar lantunan ayat Alquran yang berasal dari ruang tengah. Ternyata, sang Ayah memang sedang membaca Alquran ditemani oleh lampu yang terlihat mulai redup. Suaranya sedikit tersamarkan oleh suara toa di surau. Tapi, dia tetap bisa mendengar lantunan ayat suci dari Ayahnya dengan jelas. Jika diibaratkan, lantunan yang dibacakan oleh Ayahnya itu sangat merdu, layaknya suara dari Syek Mishary Rasyid.

Maklum, semasa masih kanak-kanak hingga remaja, bapak Toda pernah mengaji kepada kiai yang cukup masyhur di desa. Banyak anak desa yang berguru kepada kiai tentang Al Quran dan berbagai ilmu agama, mulai dari ilmu balaghah, tarikh, aqidah, hingga tauhid. Warga desa pun takzim pada beliau tatkala memberikan tausiyah atau sekadar berpapasan dengan warga. Tapi, kiai itu telah meninggal pada saat Toda berumur satu bulan.

Toda mendengarkannya sampai ke hati, sambari memejamkan matanya kembali. Sampai pada ayat “Wa laqad yassarnal qur’aana lidzikri fa hal mim muddakir”. Toda kembali terbangun, ia heran, “mengapa ayat tersebut diucap empat kali?” ucap batinnya. Kemudian dia beranjak dari pembaringan, dan segera mengampiri Ayahnya yang kini membaca surat al-Qamar.

“Pak, Toda ingin belajar membaca Alquran dengan bapak.” Bapak Toda cernenung, menatap Toda dengan penuh heran.

“Ambil wudu, lalu kemarilah.” Toda bergegas mengambil air wudu dan memakai sarung.

Tak lama kemudian, mereka sudah saling berdahapan, sebelum memulai membaca Alquran, Toda dinasihati oleh Ayahnya.

“Nak, sebelum kamu belajar membaca Alquran, bapak berpesan, kalau ngaji Alquran itu yang sungguh-sungguh. Sebab Alquran itu kalau tidak syafaat, ya laknat.” Jelas bapak Toda. Dahi Toda nampak terlipat, mencoba untuk memahaminya.

“Pilihannya ya cuma dua itu, Nak, tidak ada pilihan lain.”

“Maksud Bapak bagaimana? Toda kurang paham.”

“Maksud bapak adalah, jika Alquran yang kini ada di depanmu tidak kamu baca dan amalkan dalam hidupmu, maka kamu akan kehilangan arah langkah atau petunjuk hidupmu Nak. Sebab, Alquran ini layaknya buku panduan mesin jahit ibumu, menurutmu jika buku itu tidak dibaca dan dicermati isinya, apa yang akan terjadi?” Bapak Toda mencoba untuk memberikan pertanyaan.

“Ya Ibu pasti tidak akan tahu dan bingung bagaimana cara menggunakannya.”

“Betul Nak, ibumu pasti tidak akan tahu dan tak mengerti bagaimana cara penggunaannya, terlebih tidak dibaca sama sekali, alias langsung dipakai semaunya saja, jelas akan menimbulkan kekacauan nantinya. Hal ini sama seperti Alquran Nak, jika Alquran tidak dibaca, ditadaburi isinya untuk kemudian diamalkan, niscaya kita akan bingung dan tak tahu kemana langkah ini musti menuju.” Toda mendengarkan dan mencermati perkataan bapaknya.

“Tapi nak, jika Alquran ini kamu baca, tadaburi isinya dan kemudian kamu amalkan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya dengan seizin-Nya, hidupmu akan tenang, damai, dan terarah Nak. Sebab, kamu dibimbing langsung oleh Allah dan mendapatkan syafa’at dan pertolongan di alam kubur hingga kelak di hari akhir.” Toda nampak takzim mendengar perkataan bapaknya. Kepalanya mengganguk-angguk tanda paham.

“Baiklah mari kita mulai mempelajari Al Quran.” Bapak Toda membuka surat Al-Fatihah.

“Nak, Alquran itu hurufnya ada empat: ق،ر،ان.”

“Pertama Qaf. Sifatnya qalqalah, artinya guncang. Setiap orang yang menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan diuji Gusti Allah dengan cobaan-cobaan yang menggonjang-ganjingkan hidupnya, maka di sinilah ujian terberatnya. Siapa saja yang dapat memelihara istiqamah di dalam hati, maka Dia akan melimpahkan cinta-Nya pada hamba-hambaNya yang teguh dalam mempertahankan keimanan dan taqwa dalam hatinya.”

“Kedua Ra’. Sifatnya takrir, artinya mengulang-ulang. Meskipun kamu ditimpa cobaan yang bertubi-tubi, lantas kamu terpuruk. Maka sesekali jangan pernah berhenti membaca Al Quran. Oleh karena itulah, Al Quran menjadi penolong dalam hidupmu yang penuh dengan ujian dan coba’an dari-Nya. Sebab, Al Quran itu harus selalu dibaca berulang-ulang meskipun kamu telah khatam berkali-kali.”

Toda masih memperhatikan bapaknya dengan khusyuk, meski corong Toa surau tidak lagi melantunkan ayat-ayat suci, dan malam pun semakin larut.

“Lalu ketiga Hamzah. Sifatnya syiddah, berarti kuat. Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga Al Quranmu dengan membacanya lagi dan lagi, setiap hari, minimal usai salat maghrib dan shubuh. Meskipun hidupmu digonjang-ganjingkan masalah yang tak berkesudahan.”

“Dan yang terakhir Nun. Sifatnya idzlaq, artinya ringan. Insyaallah Nak, kalau kamu kuat dan sabar atas segala cobaan yang mengguncang jiwa dan ragamu kelak, jangan sesekali lari dan meninggalkan Al Quran. Teruslah berusaha untuk istiqomah di jalan-Nya dalam segala hal baik yang mendatangkan ketenangan dalam hatimu, insyaallah hidup-matimu akan terasa ringan, seringan mulutmu saat mengucap nun…”

Begitulah semangat dari bocah kecil itu, dia sangat bersungguh-sungguh ingin bisa membaca dan mencintai Alquran. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki semangat yang membara seperti Toda? Atau semangat itu justru telah padam? Yuk, mulai kembali untuk membaca dan mempelajari Alquran. Mulai hari ini, jangan biarkan ia berdebu. Terus baca dan pelajari serta amalkanlah. Semoga dengan kita senantiasa membaca dan mempelajari serta mengamalkan Alquran, kelak di hari kiamat nanti akan datang Alquran memberikan syafaatnya kepada kita semua. Aamiin.

  • Bagikan
seruni.id