Berita  

Ayah Mewakili Wisuda Putrinya, Rina Muharrami yang Meninggal Pasca Sidang

Sumber Gambar: uin.ar-raniry.ac.id

Seruni.id – Aura bahagia pasti menyelimuti siapapun yang akhirnya wisuda, setelah berjuang melewati masa-masa sulit. Naik ke panggung saat nama dan tempat tanggal lahir disebutkan. Begitupun dengan Rina Muharrami, identitasnya pun dijabarkan. Namun, ia harus diwakili oleh sang Ayah, karena mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Provinsi Aceh itu meninggal dunia setelah dinyatakan lulus sidang.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by UIN AR-RANIRY BANDA ACEH (@uin_arraniry_official) on

 

Rina Muharrami merupakan mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Ia mengembuskan napas terakhirnya, 13 hari setelah menjalani sidang skripsi sarjana di UIN Ar-Raniry.

Prosesi wisuda kelulusan almarhumah pun diwakili oleh Ayahnya, Rabu (27/2). Sama halnya dengan wisudawan yang lain, Ayah Rina pun naik ke panggung untuk menerima ijazah almarhumah putrinya. Jika wisudawan lain mengenakan baju toga, Ayah Rina tampil mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu, lengkap dengan peci hitamnya.

Baca Juga: “Ketiga Anak Saya Meninggal dalam Keadaan Menyebut Nama Allah”

Gadis kelahiran 16 Mei 1996 itu, merupakan putri pertama dari empat bersaudara, yang lahir dari pasangan Bukhari dan Nurbayani. Rina menjalani sidang skripsi pada 24 Januari 2019 pukul 12.00 WIB. Namun, tepat pada tanggal 5 Februari 2019 lalu, ia dipanggil oleh Sang Pencipta, pada pukul 04.15 WIB. Rina Muharrami meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir yang berujung pada saraf.

“Meninggal karena sakit tifus, cuma sudah parah. Kata dokter pas malam terakhir, atau pas besoknya dia meninggal, saya jenguk dan saya tanya hasil pemeriksaannya sama ayah almarhumah. Ternyata tifus sudah tahap paling tinggi, sampai kena saraf,” jelas Nisaul Khaira yang merupakan sahabat dekat almarhumah sejak semester lima.

Rina mengidap penyakit tifus kurang lebih selama satu bulan. Bahkan, ia sempat mengalami koma dan dirawat di ICU Rumah Sakit Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar.

“Sebenarnya demamnya sudah sebulan gitu, naik turun, sudah berobat kemana-mana. Cuma mulai drop kurang lebih 4 hari, dan koma di ICU Meuraxa sampai dia meninggal sebelum Subuh jam 04.15. Allah lebih sayang Rina,” tambah Nisa.

Mahasiswi asal Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar itu merupakan sosok yang sangat menginspirasi, begitu penuturan para sahabatnya. Almarhumah merupakan sosok yang tekun dan sederhana. Rina terlahir dari kedua orangtua yang berprofesi sebagai petani.

“Orangnya super sederhana dan perhatian luar biasa sama sahabat-sahabatnya. Kalau sama saya, dia selalu ketawa walaupun lagi sakit. Kemarin pas sidang bawaannya ketawa-ketawa saja, karena saya buat lucu gitu. Pokoknya dia inspirasi untuk saya pribadi, karena dia, kenapa saya bisa niat kejar skripsi. Dia motivator bagi saya,” lanjut Nisa.

Almarhumah yang juga merupakan guru ngaji, memiliki keseharian yang tentu penuh nilai positif di mata para sahabatnya. Ia merupakan sosok yang pandai memposisikan diri dalam setiap keadaan.

“Sahabat yang paling buat saya bangga ketika dalam keadaan apa pun dia pandai sekali memposisikan dirinya. Itu yang buat saya salut dan terasa seperti mimpi sekarang dia sudah enggak ada. Enggak bisa diungkapkan, saking baiknya Rina. Salutnya lagi, kalau kami lagi ada yang ngegosipin seseorang, dia selalu bilang ‘Sudah-sudah ganti topik, jangan ghibah,” kenang Nisa.

“Dia orangnya sebelum sakit tekun. Setau saya dia enggak punya laptop, tapi dia berusaha untuk pinjam laptop bibinya demi menyelesaikan skripsi, orangnya super sederhana,” lanjut Nisa.

Selain kesederhanaan yang dimilikinya, ia juga merupakan mahasiswi yang berprestasi. Rina dikenal cerdas, bahkan mampu menguasai bahasa Jepang dengan baik. Selama kuliah, ia merupakan mahasiswi penerima beasiswa Bidikmisi. Tak heran jika ia mengantongi predikat lulus istimewa dengan indeks prestasi komulatif 3.51.

“Anaknya aktif, baik, pintar. Bahasa Jepang nya juga bagus,” kata Muzakir, Ketua Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Sebelum meninggal dunia, Rina sudah menyelesaikan seluruh syarat untuk wisuda pada semester ini.

“Seluruhnya sudah diselesaikan. Namun, sebelum yudisium, Rina sudah duluan dipanggil oleh Allah, sehingga ia tidak sempat mengikuti proses yudisium,” ujarnya.

Kenyataan tersebut membuat pihak prodi berinisiatif mengundang ayah kandung Rina, untuk tetap hadir pada hari wisuda.

“Kami menyematkan bentuk penghargaan untuk perjuangan ayahnya terhadap Rina, dan juga terhadap perjuangan Rina sendiri, dan tepat hari ini, ayah kandungnya langsung yang hadir untuk mengambil ijazah tersebut,” tutup Muzakir.

Anakku, hari ini Ayah datang ke acara wisudamu, bersama ayah-ayah temanmu yang lain,
Ayah yang lain datang untuk melihat anaknya jadi sarjana, Sementara ayah datang untuk menggantikanmu mengambil tanda sarjana dari kampusmu, Nak.

Sebenarnya Kaki ayah tak lagi kuat, tapi ayah tegapkan langkah menaiki anak tangga untuk maju mengambil ijazahmu,
Hari ini ayah berdiri di depan teman-temanmu,
Ayah sedih Nak, karena seharusnya kita ada di sini bersama.

Tetapi Ayah bangga padamu,
Kamu itu hebat dan mampu meraih impian yang besar.

Dan kelak Ayah akan menceritakan kepada warga di desa kita, bahwa anak ayah seorang sarjana,
Seketika terbayang di pelupuk mata, engkau datang tersenyum sangat manis dengan baju wisuda yang sangat kau idam-idamkan itu.

Kamu seakan membisikkan ditelinga ayah: “Ayah, anakmu wisuda,”