Inilah Golongan Manusia yang Akan Dirobek Wajahnya Saat Hari Kebangkitan

kompas.web.id

Seruni.id – Hari kiamat merupakan peristiwa kehancuran alam semesta dan menjadi awal bagi kehidupan yang kekal. Sebelum menuju surga dan neraka manusia akan dibangkitkan kembali dengan bentuk dan rupa yang sesuai dengan amal dan perbuatannya saat di dunia. Ada yang menyerupai hewan, ada yang dibangkitkan tanpa tangan dan kaki, perut yang membesar serta ada pula manusia yang akan dirobek wajahnya saat hari kebangkitan kelak. Siapa sajakah mereka?

[read more]
Hasil gambar untuk orang yang pura-pura mengemis
islampos.com

Manusia yang akan dirobek wajahnya, mereka adalah para peminta-minta (pengemis) yang sebenarnya ia berkecukupan. Di Indonesia bahkan dunia, banyak sekali para peminta-minta yang meminta belas kashian orang lain, bukan karena meraka tak mampu bekerja, melainkan mereka asyik menjadikan kekurangnnya sebagai pekerjaan.

Bahkan, dari banyak sumber yang menyebutkan ternyata ada pengemis dengan kekayaan selangit tersebsar di berbagai penjuru negara di dunia. Diantara mereka ada yang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, dan tabungan yang berlimpah.

Diriwayatkan dari Sahl Bin Handzalah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallaullah’alaihi wa Sallam bersabda,

“Siapa yang mengemis padahal dia memiliki sesuatu yang cukup baginya, sesungguhnya dia hanya memperbanyak neraka jahannam”. Para Sahabat Bertanya:” Kecukupan yang bagaimanakah yang tidak membolehkan untuk mengemis?” Rasulullah Menjawab: “Yaitu yang cukup untuk makan siang dan malamnya.” (HR. Abu Dawud).

Dan Di Riwayatkan Dari Ibnu Mas’ud RA, Beliau Berkata : “Rasulullah SAW Bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia memiliki apa yang mencukupinya, Niscaya ia datang pada hari kiamat dalam wajahnya Robek.” (HR.Ahmad).

Bagi sebagian orang, mengemis menjadi profesi yang menarik dan mudah dilakukan. Mereka hanya perlu merubah dirinya menjadi seorang yang sangat menyedihkan. Seperti berpakaian robek-robek, lusuh, wajah yang kusam disertai dengan mimik yang membuat orang kasihan melihatnya.

Tetapi, saat ini pengemis tidak hanya yang berpakaian lusuh saja. Ada pula pengemis yang berpakaian rapi, berbaju koko dan kopiah ataupun baju muslim bagus. Mereka biasanya hanya bermodalkan sebuah map yang berisi lembaran kertas mengenai pesantren atau panti asuhan yang tidak memiliki biaya, dengan begitu mereka mencari-cari sumbangann kesana-kemari. Namun, bukankah hal ini sama saja dengan meniupu?

Sebenarnya Islam melarang untuk seseorang mengemis atau meninta-minta sumbangan, apalagi dengan cara menipu. Hal ini tentu saja hukumnya haram dan termasuk dosa besar apabila dilakukan.

Tidak hanya berupa ganjaran wajah yang dirobek di hari kebangkitan nanti, namun pengemis yang meminta-minta padahal dia berkecukupan, hidupnya tidak akan berkah. Rasulullah juga mengharamkan mengemis dan meminta sumbangan untuk kepentingan pribadi.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa meminta-minta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya dia hanyalah sedang meminta bara api (neraka), maka (jika dia mau) silahkan dia mempersedikit atau memperbanyak.”

Namun, pada hadis lain menyebutkan ada keadaan dimana seseorang diperbolehkan untuk mengemis atau meminta-minta. Diantaranya :

1. Orang menanggung beban diyat (denda) atau pelunasan hutang orang lain. Mereka diperbolehkan meminta-minta sampai hutangnya selelai. Tetapi, setelah itu harus berhenti.

2. Ketika seorang menimpa musibah yang melenyapkan seluruh hartanya, ia pun diperbolehkan meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.

3. Ketika seseorang tertimpa kafakiran dan dia memiliki tiga saksi dari orang sekitarnya atas kefakirannya.

Orang-orang seperti itulah yang dihalalkan untuk meminta-minta. Tetapi hanya sementara, sampai dia mendapatkan penopang kehidupan. Meminta-minta pun diperbolehkan untuk kepentingan umat bukan untuk kepentingan pribadi.

Akan tetapi, bagaimanapun kondisi mereka dibalik kekayaannya, tetap saja kita tidak boleh merendahkan atau menghinanya, ya. Karena kebaikan yang kita berikan akan dicatat oleh Allah SWT sebagai sebuah amalan.

Demikian penjelasan mengenai manusia yang akan dirobek wajahnya di hari akhir nanti. Semoga kita tidak termasuk ke dalamnya. Sebagai hamba Allah sudah seharusnya kita untuk selalu beryukur atas nikmat yang telah diberi. Cukup meminta rezeki hanya kepada-Nya, serta memohon agar selalu dijadikan hamba yang bertakwa. Aamiin.

[/read]

Berikan Dukungan Kepada Kami Dengan Memberikan Rating

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.