Kisah Pria Mualaf yang Dulunya Membenci Bulan Ramadhan

Seruni.id – Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bulan spesial yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap umat muslim. Namun, tidak dengan Marcos. Dia adalah pria yang berasal dari Manila, Filipina. Lelaki ini tinggal di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), selama kurang lebih sembilan tahun. Ia awalnya merupakan seorang non-muslim, maka tak heran jika dia sangat membenci yang namanya puasa.

islampos.com

Sebab baginya, puasa merupakan bentuk pengorbanan yang sangat bodoh, karena harus menahan diri dari semua kebutuhan jasmani, itu juga menjadi mimpi buruk menurutnya. Marcos juga beranggapan, bahwa bulan Ramadhan adalah kiamat kecil. Karena pada bulan Ramadhan, pastinya semua tempat hiburan malam akan ditutup. Dan baginya pula, puasa sangat bertentangan dengan naluri dan hak-hak makhluk hidup. Puasa perbuatan yang tak logis dan menyiksa.

“Bagi saya dan rekan-rekan saya, Ramadhan adalah mimpi buruk. Ini adalah bulan di mana kami semua terbatas hanya di rumah saja karena semua bar ditutup,” tuturnya.

Pertanyaan mengapa muslim harus berpuasa kerap muncul di kepalanya setiap hari. Diantara pertanyaannya adalah, mengapa ada agama besar yang melarang manusia menikmati ciptaan Tuhan? Mengapa harus menyiksa diri menahan lapar dan haus, padahal dua kebutuhan itu sangat penting?

Namun, hidayah untuknya secara perlahan menghampiri. Seorang teman muslimnya berhasil menjawab dari pertanyaan yang menghantuinya itu. Semua prasangka negatif tentang puasa berubah total. Apalagi, setelah Marcos membuktikannya sendiri.

“Allah memberikan saya Islam. Saya menemukan tentang pernyataan-pernyatan saya (dahulu) yang ternyata tidak benar,” kata dia.

Kemudian, Marcos memilih untuk bersyahadat atau menyatakan awal keislamannya dan mengubah namanya menjadi Ahmed Moamen. Tahun ini merupakan Ramadhan yang kesekian kalinya dia hadapi setelah menjadi mualaf.

Pengalamannya berpuasa memberi keyakinan, bahwa rukun Islam ke-3 itu adalah cara hidup yang sehat. Sebab, tubuh-tubuh ini pun memiliki hak untuk beristirahat. Setidaknya setahun sekali. Ini merupakan sebuah kebijaksanaan yang agung. Marcos mengakui bahwa puasa akan membawa seorang muslim lebih dekat kepada Allah SWT.

“Puasa membawa Muslim lebih dekat kepada Allah. Saya tidak melebih-lebihkan jika saya mengatakan bahwa saya merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakan di sepanjang hidup saya,” Marcos menyimpulkan.

Hal yang serupa ternyata juga pernah dialami oleh mualaf lainnya, Amnah Jordon dari Afrika Selatan. Menurutnya, Ramadhan adalah momen paling intim antara manusia dengan Sang Pencipta. Kegiatan baik apapun akan dibalas dengan kebaikan yang nilainya berlipat ganda.

“Ini kegiatan keagamaan yang mudah dan paling saya nanti. Hati saya merasa dekat bersama-Nya.” ujar Jordon. Pengalaman Jordon menjadi pengalaman pribadi dalam mendalami agama yang diimaninya beberapa tahun yang lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.