Cerpen inspiratif: Nasihat Mandeh (Ibu)

nasehat

Seruni.id – Kasih Mandeh, Ibu, Mamah, Bunda, atau apapun panggilannya untuk perempuan mulia itu, tidak pernah padam oleh waktu. Untaian nasihat selalu tersedia untuk anak-anaknya.

Nasihat Ibu tidak akan berhenti walaupun anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan bahkan ketika sang anak telah memiliki keluarga sendiri. Ibu selalu siap memberikan nasihat terbaiknya setiap saat Nasihat tersebut diberikan saat diminta ataupun tidak diminta anaknya.

Baca juga: 7 Kriteria untuk Menjadi Ibu Idaman

Berikut adalah cerpen inpiratif tentang nasihat seorang Mandeh (Ibu)yang tangguh dan mewariskan generasi pemberani di jaman now:

Nasihat Mandeh (Ibu)

Mandeh (IBU) Tanpa direncanakan, mandeh mengabarkan bahwa dia sudah di bandara untuk terbang ke Jakarta. Dalam dua jam dia sudah sampai.

“Jemput mandeh di bandara ya nak,” demikian pesan singkatnya lewat WA.

Mandeh walau usianya sudah di atas 70 tahun, namun bukanlah mandeh yang puritan. Mandeh melek tekhnologi dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Namun mandeh tetap dengan prinsip hidupnya yang mandiri. Tak pernah mau merepotkan anak dan cucu.

“Jangan kau bilang sama Adi kalau mandeh datang. Nanti iba hati pula dia kalau mandeh tidak lebih dulu ke rumahnya,” kata mandeh.

Adi adalah kakak tertuaku. Hidupnya memang tidak beruntung. Tak pernah masuk perguruan tinggi. Usahanya hanya pedagang kecil di pasar tradisional. Namun kami semua adiknya menghormatinya.

Walau dia paling tidak beruntung hidupnya dibandingkan kami namun dia tidak pernah menyusahkan kami. Bahkan selalu menolak bila dibantu. Berkat Uda Adi, Uda Burhan bisa selesaikan kuliah dan bekerja sebagai PNS.

Uda Burhan membantu Uni Linda kuliah sampai selesai. Uni Linda bekerja di BUMN dan membiayai ku selesai kuliah. Aku terjun sebagai pengusaha. Terakhir si Mulyadi, aku bantu selesai kuliah dan sekarang jadi dosen.

Kami adik beradik saling tolong menolong sejak ayah meninggal. Semua berkat didikan mandeh yang berhasil menjadikan Uda Adi sebagai pemimpin kami setelah ayah meninggal. Biaya hidup mandeh sepenuhnya ditanggung Uda Adi. Mande lebih leluasa meminta kepada Uda Adi. Pergi haji pun mandeh bersama Uda Adi. Tentu Uda Adi yang menanggung biayanya. Entah mengapa kami tak peduli dengan segala beban yang ditanggung Uda Adi.

“Mengapa kalian berdiam diri soal si Burhan? Apa kalian pikir mandeh sudah pikun.”
Rasanya jantung ku berhenti berdetak. Bagaimana mandeh bisa tahu kasus Uda Burhan. Mungkin karena mandeh melek tekhnologi dan aktif di sosmed. Semuanya mandeh tahu karena berita soal Uda Burhan sudah tersebar kemana- mana.

“Ya aku kurang paham urusannya mandeh.”

“Jangan pula kau pura-pura. Kau sama saja dengan Burhan. Usaha kau berkembang karena bantuan dia sebagai pejabat.”

Aku hanya diam. Memang usahaku berkembang karena proyek dari instansi Uda Burhan. Jalanan macet terasa ratusan tahun sebelum sampai di rumah Uda Burhan. Gadget ku bergetar. Kulihat di layar tertulis nama istriku.

“Ya mah, mandeh sudah bersama papa. Mau bicara dengan mandeh?”

Aku menyerahkan Gadget kepada mandeh. “Si Dina mau bicara, mandeh.”

“Ya Ananda. Nanti selepas dari rumah Uda Burhan kau, mandeh akan mampir ke rumah. Gimana kabar cucu cucu mandeh?”

Tak berapa lama mandeh berbicara dengan istriku dan kemudian menyerahkan Gadget kepadaku.

“Mengapa kau biarkan si Dina terus bekerja? Kurang apa kalian? Rumah besar. Kendaraan ada empat. Belum lagi vila dan apartemen. Sementara kedua anak kalian disuruh tinggal di luar negeri. Ayam saja tidak begitu lakunya dengan anak anaknya.”

“Si Dina itu S3 mandeh. Sayang ilmunya tak dipakai? Anak anak sekolah di luar negeri biar dapat pendidikan terbaik.”

“Entahlah. Mandeh orang kampung nak. Mandeh hanya tahu seharusnya istri di rumah kalau suami mampu mencukupi kebutuhan dan tugasnya menjaga rumah dan anak. Lain halnya kalau suami tidak mampu. Kau lebih dari mampu. Kedua anakmu perempuan tak elok anak gadis jauh dari orangtuanya.”

Aku hanya diam.

“Uni kau tahu mandeh datang?”

“Tahu. Dia menanti mandeh di rumah Uda Burhan.”

Mandeh terdiam. Pandangannya tertuju ke jalanan. Tapi aku tahu banyak yang dipikirkannya. Mandeh tidak pernah henti berpikir dan ikut memberikan bimbingan di tengah setiap masalah kami.

Ketika sampai di rumah Uda Burhan. Nampak Uni Linda menyambut mandeh di depan pagar sambil memeluk mandeh dan membawa tas mandeh masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu nampak Uda Burhan duduk dengan wajah layu menatap jendela ke arah taman yang asri di rumahnya. Aku duduk di lantai bersila. Uni Linda duduk di samping Uda Burhan, dan istri Uda Burhan duduk di samping mandeh.

“Apa yang terjadi sesungguhnya nak?” kata mandeh memecah keheningan.

“Aku hanya melaksanakan perintah pimpinan mandeh. Kini aku dikorbankan,” kata Uda Burhan dengan suara lirih.

“Seharusnya kau tidak patuh kepada pimpinan, tapi patuh kepada UU dan aturan. Negeri ini tidak dimiliki oleh pimpinanmu, tapi oleh rakyat. Rakyat mengamanahkan mu melaksanakan tugas sesuai aturan. Paham kau nak? Negeri ini Merdeka dengan jumlah Syuhada tak terbilang. Kakek kau ikut menyabung nyawa melawan penjajah asing agar aku dan kau juga cucumu bisa merasakan nikmat Merdeka. Negeri ini merdeka karena Rahmat Allah. Kini kau kotori itu dengan buruk lakumu. Tak malu kau dengan cucumu?”

“Tapi mandeh. Kalau tak patuh dengan pemimpin aku akan tersingkir.”

“Nak. Mengapa kau sangat takut kehilangan jabatan bila kau merasa benar. Jalan ALLAH itu tidak mudah, anakku. Kau harus Istiqamah agar pertolongan ALLAH sampai kepadamu.”

“Tidak sesederhana itu mandeh… ini politik.”

“Mandeh hanya orang kampung. Tidak sepintar kau. Mandeh hanya tau kalau jabatan itu milik ALLAH dan kepada ALLAH lah berharap. Bukan kepada pimpinan.”

“Ya mandeh …” kata uda Burhan dengan lirih.

Mandeh melihat ke arah kami satu persatu.

“Kau, Linda,” kata mandeh menatap Uni Linda. 
“Kau sibuk terus dengan karier mu. Kadang di Eropa, kadang di Amerika. Kau lupa bahwa kau istri dan ibu dari anak anakmu. Apa yang kau cari nak. Sholat pun kau tak pernah. Pakaianmu seperti anak muda. Padahal kau tidak muda lagi. Tidak takut kau akan mati kapan pun. Apa bekal mu nak untuk dibawa pulang ke ALLAH.”

Uni Linda hanya diam.

“Kau,” kata mandeh menatapku, “Kau selalu sibuk. Istrimu sibuk. Udah kaya kalian. Tapi sampai kini belum terpikir mau pergi haji. Istrimu sibuk dengan karirnya. Anak gadis mu kau kirim ke luar negeri. Orangtua macam apa kalian? Tak takut kau dengan tanggung jawab amanah sebagai orangtua, sebagai suami di hadapan ALLAH nanti?”

Aku hanya diam.

“Si Mulyadi juga tak ubahnya dengan kalian. Sibuk terus. Dia dosen tapi waktunya lebih banyak di luar. Tak malu dia dengan jabatannya sebagai dosen? Udah kepala tiga umurnya belum juga menikah.”

Kami semua terdiam. Tak berapa lama mandeh berdiri dari duduknya.

“Uda kalian si Adi, tak sekolah tinggi seperti kalian, tapi kau Burhan dibiayainya sampai selesai jadi sarjana. Uda kalian tak punya rumah mewah seperti kalian, tapi dia yang membawa mandeh ke Makkah. Dia tidak punya HP sehebat kalian tapi dia yang setiap hari menelpon mandeh. Dia tidak sekaya kalian, tapi dia tak pernah barang sehari pun terlambat mengirim uang belanja bulanan untuk mandeh di kampung. Mandeh tak pernah menuntut balas kepada kalian anakku. Tapi ‘Akhlak yang baik selalu bersumber dari REZEKI yang HALAL.’ Jernih di hulu akan jernih di hilir. Sehingga kalian pandai bersyukur dan selalu mendekat kepada Allah, tak ragu berbakti kepada orangtua.”

Kami semua terdiam.

“Hati mandeh senang bila melihat kehidupan Uda Adi kalian. Dia santun dan mandiri. Rajin sholat dan berbakti dengan mande. Lihatlah hidupnya sekarang, walau tak kaya tapi semua anak anaknya berbakti pula dengan dia. Tak ada beban rasa kawatir mau dipenjara seperti kau Burhan. Dia lebih baik dari kalian.”

Kami semua terdiam.

“Entahlah anakku… mandeh tak henti berharap dalam doa agar kalian berubah karena mandeh sadar Hidayah itu hak ALLAH. Mandeh terus mendoakan kalian siang malam…”

Mandeh menatapku, “Sekarang antarkan mandeh ke rumah Uda kalian. Mandeh mau menginap di rumahnya. Besok biar dia yang antar mandeh ke Bandara. Sekali lagi mandeh berharap kepada kalian. Kalau kalian sayang dengan mandeh, SHOLAT lah….!!!”
Jangan tinggalkan sholat agar doa mandeh didengar dan diijabbah ALLAH…!!”

Ceerpen ini viral melalui banya grup WA. Semoga bermanfaat ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.