Berita  

Kekejaman China pada Muslim Uighur Kembali Terungkap, Berikut Kesaksian Korban

Seruni.id – Muslim Uighur sudah mendiami wilayah Turkistan Timur sejak berabad-abad lamanya, hingga akhirnya pemerintah China di masa Dinasti Qing mengganti namanya dengan Xinjiang. Muslim Uighur masih serumpun dengan saudara-saudara kita lainnya yang ada di Asia Tengah dan Turki. Dulu, mereka merupakan mayoritas, tapi kini hanya tersisa 45% dari keseluruhan populasi penduduk. Semua ini terjadi setelah adanya perpindahan etnis Han secara besar-besaran. Secara agama, budaya, dan ekonomi mereka didiskriminasi oleh pemerintah China.

Image result for muslim uyghur survivors
uyghurcongress.org

Namun, pelaku (pemerintah China) menolak tuduhan adanya kamp konsentrasi dan mengatakan bahwa itu adalah tempat training vokasional biasa. Hingga saat ini belum ada satu pun pemerintah Muslim yang mengecam tindakan zalim, yang selama ini dilakukan oleh negara Tirai Bambu tersebut.

Baca Juga: Menyakitkan, Begini Kondisi Muslim Uighur yang Sebenarnya

Kita tidak boleh terus abai. Buka mata, dengarkan bagaimana kekejaman yang dilakukan China pada Muslim Uighur, seperti yang kembali terungkap lewat penuturan para korban yang berhasil lolos berikut:

Gulbahar Celilova

“Saya asli Kazakhstan, saya lahir dan besar di sana. Saya melakukan perdagangan antara Kazakhstan dan China. Lalu saya pindah ke China. Hari berikutnya polisi langsung menahan saya. Mereka membawa saya ke kamp nomor 3 di Urumqi (Ibukota Xinjiang). Mereka memberi saya baju kaos. Ketika saya menangis, wanita lainnya langsung mengakatakan, “Jangan menangis, jika kamu menangis, maka akan bertambah buruk,”

Baca Juga: Sempat Ditahan, Gulbakhar Cililova Ungkap Kejamnya Cina pada Muslim Uighur

Di sana saya melihat wanita dengan usia 14 tahun sampai 80 tahun. Di setiap kaki mereka ada rantai besi seberat 2,27 kilogram. Mengapa mereka dibelenggu, mereka pun tidak tahu alasannya. Mereka di tahan di sana. Salah satunya ada yang setelah ponsel miliknya memutar lagu dengan Bahasa Uighur, ada yang karena menerima pesan gambar bertuliskan “Amin” pada aplikasi WeChat-nya.

Ada juga para wanita yang dibiarkan bersama tikus di dalam ruangan yang gelap, hal ini tidak bisa lepas dari ingatan saya. Para wanita yang keluar dari ruangan interogasi, kepala mereka terluka dan mengucurkan darah. Saya tidak tahan melihat kondisi mereka. Sepuluh hari setelahnya, mereka membawa saya ke dokter.

Dan saat saya dibawa ke rumah sakit, mereka berkata bahwa saya berkewarganegaraan asing (Kazakhstan), mereka memberiku kartu pengenal berbahasa China, dan menyuruhku menghafalkannya. Mereka lakukan itu agar saya sulit ditemukan. Anak-anak saya memaksa untuk mendengarkan suara ibunya. Anak-anak saya bertanya apakah mereka telah membunuh saya atau belum. Kemudian China melepaskan saya setelah anak-anak saya terus menekan mereka di kantor otoritas setempat,”

Rukiye Parat

“Mereka menahan saya bersama 16 orang teman, karena melakukan ibadah salat dan membaca Alquran. Jam dua malam polisi China datang menangkap kami. Mereka membawa saya ke penjara bersama 16 teman, dan ditahan di sana selama tiga hari. Setelah tiga hari, mereka mulai menginterogasi kami, “Apa yang kamu lakukan, dengan siapa kamu bertemu, siapa saja yang datang, apa saja yang kamu baca,” pertanyaan-pernyaan seperti itu yang mereka layangkan.

Baca Juga: Aydin Anwar, Hijabers Pejuang Hak Muslim Uighur di China

Saya kemudian menjawab, “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Kejahatan pun tak ada, mengapa kalian menginterogasi saya?” Ketika itu terjadi, saya masih berusia 16 tahun, masih belum mencapai usia dewasa (18 tahun). Mereka banyak melakukan siksaan pada saya. Semua bekasnya ada di sekujur tubuh saya. Mereka juga menyetrum saya.

“Siapa yang datang, siapa yang pergi, dengan siapa kamu membaca Alquran,” semua hal itu ditanyakan pada kami. “Jawablah, maka kami akan melepaskanmu,” tegas mereka.

Ayah saya adalah seorang Hafiz Alquran, dan saya menyelesaikan hafalan Alquran saat berusia 13 tahun. Mereka menahan ayah saya selama tiga bulan, hingga akhirnya China membunuh ayah saya di penjara. Dan hingga kini mereka tidak pernah menyerahkan jasad ayah saya.

Ketika saya di penjara, mereka membunuh ibu saya. Total, ada lima orang yang ditembak di depan mata kepala saya sendiri, termasuk dua orang saudara saya. Dan satu saudara saya lainnya dibunuh di penjara,”

Abdurrahim Emin

“Kami berenam belas tinggal di ruangan yang luasnya hanya 10 meter. Kami berada di ruangan tersebut selama 40 hari. Lalu mereka membawa saya ke penjara. Ditahan bersama 2.000 Muslim Uighur lainnya, saya ditahan selama tiga tahun. Orang-orang tidak akan percaya dengan cerita penyiksaan ini, Jika saya menceritakan kejadian di penjara, yakni mereka mencabut kuku tangan saya.

Tidak ada yang akan percaya sebelum melihatnya secara langsung. Saya tak tahu bagaimana lagi harus menceritakannya. Saya sudah berada di Turki selama empat tahun, dan belum pernah lagi mendengar suara anak-anak saya. Ketika berpisah dengan mereka, anak saya yang bungsu masih berusia 10 tahun, dan yang paling besar berusia 12 tahun.

Saya tidak pernah mendengar suara mereka. Tapi pada tahu 2017 lalu, datang suatu kabar pada saya, yakni saat anak saya sedang bermain di jalan dekat rumah, datang mobil polisi China. Katanya, anak-anak saya ditembak. Satu meninggal, dan yang satunya lagi dirawat di rumah sakit.

Namun, yang mana yang meninggal dan yang mana yang kritis di rumah sakit, saya tidak pernah tahu kelanjutannya. Saya berpikir bahwa tiga anak saya yang lain masih hidup. Tapi kalaupun masih hidup, yang mana-mananya saya tidak tahu,”

Ferhat Kurban Tanridagli

“Pada awalnya, mereka memulainya dengan kedok mengedukasi orang-orang religius radikal. Kemudian mereka menyebutnya dengan kamp training. Orang China selalu memakai nama aneh yang tidak jelas untuk semua ini. Terkadang disebut dengan kamp cuci otak, kadang mereka juga menyebutnya sebagai kamp konversi,”

Amine Vahid

“Kami empat bersaudara, sekarang kakak wanita saya yang berusia 54 tahun, dua kakak laki-laki, suami kakak saya, dan semua anaknya berada di kamp konsentrasi. Sekarang sudah satu setengah tahun berlalu, dan sama sekali tidak ada kabar. Masih hidup atau tidak, saya tidak tahu.

Mereka ditahan di sana bersama wanita lainnya dengan usia 16 sampai 78 tahun. Mereka bangun setiap jam enam pagi. Satu jam kemudian mereka disuruh berlari. Dan para wanita yang berusia 60 sampai 78 tahun banyak yang tidak kuat untuk berlari. Mereka diperintahkan bernyanyi selama setengah jam sebagai hadiah untuk pemerintah China,”

Zahide Ruizi

“Saya mempunyai saudara laki-laki. Dia hanya mempunyai seorang anak berusia 25 tahun. Tahun ini dia menyelesaikan kuliahnya. Ada yang mengatakan bahwa dia juga dimasukkan ke dalam kamp. Saudara saya mengetahui dengan jelas bahwa anaknya ada di sana. Kabar pun terus berdatangan, katanya banyak sekali penyiksaan yang dilakukan di dalam sana. Katanya para wanita di sana pun ada yang tidak menggunakan busana, pria juga demikian. Tidak ada makanan,”

Jangan diam, karena selain terus mendoakan, kita bisa membantu Muslim Uighur, dengan:

  • Terus menyebarkan fakta-fakta tentang penindasan yang dialami oleh Muslim Uighur
  • Melindungi Muslim Uighur yang ada di sekitar kita
  • Terus berjuang bersama agar pemerintah Indonesia mau berusaha bicara dengan China
  • Menggelar Aksi Damai, teriakkan sekeras mungkin “Hentikan penindasan terhadap Muslim Uighur!”
  • Dan berhenti menggunakan produk-produk buatan China, mungkin yang satu ini memang berat, dan tidak semudah memboikot produk-produk Israel. Namun kalau tidak kita mulai dari sekarang, mau sampai kapan kita diam?

Renungkan, bagaimana jika posisi ditukar?