Icha, Korban Bullying yang Hampir Bunuh Diri

Korban Bullying
google.com
5/5 (1)

Seruni.id – Korban bullying semakin merajalela di mana-mana, baik dari lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. Aktivitas bullying merupakan sebuah penindasan kepada orang yang mereka anggap berbeda. Ada banyak jenis bullying, mulai dari yang menyakiti dalam bentuk fisik seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dan ada pula bullying dalam bentuk sosial, seperti mengucilkan, dan mengabaikan orang.

hariansuara.com

Bullying Merajalela

Di zaman yang serba teknologi ini, aksi bully bisa dilakukan di mana saja, bisa melalui gadget dan media sosial atau yang kerap disebut Cyberbullying. Anak-anak yang kerap menjadi korban perundungan biasanya akan mengalami depresi serta gangguan kecemasan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, perasaan sedih dan kesepian pun bisa meningkat.

Seperti yang telah dialami oleh Icha, seorang anak yang menjadi korban bullying semasa dia sekolah yang menyebabkan ia menjadi depresi dan hampir bunuh diri. Berikut kisah yang dibagikan oleh sang ibu melalui akun Facebooknya yang beranama Munaroh Munaroh Munaroh, kepada grup Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia pada 15 Agustus 2019. Berikut kisahnya:

Kisah Icha, Korban Bullying yang Hampir Bunuh Diri

“Salam kenal… Aku mau berbagi cerita tentang Ichaku, anak gadis kesayanganku. Saat ini Icha menjalani therapy. Seminggu ini tidak sekolah dulu. Aku juga sudah minta izin kepada pihak sekolah kalau mood Icha tak bagus untuk sekolah, agar pihak sekolah dapat memakluminya. Supaya gak ketinggalan pelajaran, kami memanggil guru les kerumah. Tapi lagi-lagi senyamannya Icha saja.

Ichaku ternyata mengalami mood yang menurun. Di mana seseorang merasa tidak bersemangat untuk beraktifitas. Mood ini sebenarnya sudah aku rasakan sejak Icha SD. Pencetusnya karena pernah di bully di sekolah. Kemudian rasa mood menurun telah menumpuk bertahun-tahun. Begitu pemantiknya datang (ketika memasuki dunia SMA) maka meledaklah smua mood itu.

Kenapa selagi SMP tidak? Ada, tapi aku gak peka… 😐
Bagusnya ketika di kelas 3 SMP dia mempunyai 5 sahabat yang baik dan sayang pada Icha. Hingga mood menurun itu kadang ada kadang tidak ada.

Kalian tahu Marshanda? Ya, Icha seperti itu. Marshanda pernah dibulyy teman-teman SD-nya. Hingga tiba-tiba mengejutkan netizen dengan aksi marah-marahnya lewat video, yang dialami Marshanda justru menjadikan dia beraktivitas terus gak ada capeknya. Terbukti sinetronnya jaman dulu yang streaming itu.

Namun, Icha justru kebalikan dari Marshanda. Icha mengalami mood yang menurun. Ketika mengingat dulu pernah di bully, dalam memori otaknya, mengakibatkan mood menurun seketika. Ia meresapi sakitnya sendirian. Dalam kesakitannya Icha tumbuh menjadi anak yang super pendiam.

Dan aku ke mana saja selama ini… 😔, kenapa anak yang tadinya periang (sewaktu di Pontianak), setelah pindah ke Solo menjadi pendiam, bahkan cenderung asyik dengan dunianya sendiri… Aku kira, Ichaku baik-baik saja. Aku menangis, Icha gadis kesayanganku, cintaku, ada tapi tak ada rasanya bagiku. Sang pemantik itu meledak, hancur hatiku…

Icha Mendengar Bisikan yang Mengajaknya untuk Mati

Pada suatu malam, aku tidur bersama Icha, aku peluk dan aku belai rambutnya. Baru aku sadar, aku selama ini membiarkannya sendiri. Sendiri di kamar, aku biarkan ia mengunci dirinya di kamar. Kalau aku panggil untuk mengobrol (ketika pas masuk SMA) Icha hanya mau sebentar, itupun dengan tatapan yang kosong. Aku baru sadar, ternyata saat itu jiwa Icha tak ada buatku.

“Mam, kenapa ya bisikan ajakan supaya Icha mati itu semakin sering?” Kata Icha malam itu.

“Suaranya seperti apa, Nak?”

“Ya, bisikan aja, marahin Icha supaya mati aja enak,”

Aku peluk Icha, aku menangis, “Icha emang mau nurutin?”

“Nggak mau”

“Ya, jangan mau ya, Nak. Istighfar ambil air wudhu bawa ngaji”

“Mam, tolong bawa Icha ke dokter. Icha pengen sembuh”

Aku menangis, aku segera mencari di Internet tentang keadaan Icha. Dan jleb. Aku lemas, Icha harus segera dibawa ke dokter psikiater. Kebetulan aku mendapatkan info dari saudara. Aku diberi nomor What’sApp seorang dokter psikiatri di RS Mowardi.

Paginya dengan gerak cepat aku langsung bawa Icha ke rumah sakit Mowardi. Aku sengaja tidak meminta izin suamiku. Karena aku tahu jawabannya : “Satu-satu aja dulu. Pakai aja psikolog yang kemarin itu aja dulu. Kan dia cuma pengen curhat aja. Biarkan psikolog yang membuka dirinya pelan-pelan…”

Oh no!

Memutuskan Pergi ke Dokter

Demi membayangkan semua itu, sementara anakku sudah minta segera “ditolong” aku memilih nekat. Alhamdulillah, seperti digampangkan. Dokternya bagus dan sengaja menunggu kami datang. Beliau dokter psikiatri yang khusus menangani masalah anak dan remaja. Kami berdua pun segera masuk keruangan. Aku tetap berada disana mendengarkan Icha dan dokter berbicara. Tiba-tiba, ditengah pembicaraan, dunia terasa runtuh bagiku. Ichaku sayang, ternyata telah berungkali mencoba mengakhiri hidupnya. Oh Allah…..

“Apa yang sudah Icha lakukan untuk mati? Apakah Icha ada menggaret-garetkan tangan?” kata dokter.

“Ya”

“Pakai apa?”

“Pisau cutter”

“Boleh dokter lihat?”

Kemudian, Icha mengangguk dan melepas jaketnya. Baju kemeja lengan panjangnya digulung ke atas. Dan ternyata banyak garetan dari pisau cutter dari ujung bahu sampai nyaris ke urat nadi 😭😭😭😭😭. Aku lemas. Kakiku lemas seketika. Hampir aku jatuh. Aku meraung histeris.

Ya Allah…..

Pembicaraan pun terhenti sejenak. Aku segera ditenangkan, kata dokter aku harus kuat agar Icha kuat. Ternyata Icha juga pernah mencoba mengalungkan sabuk (ikat pinggang ke lehernya) tapi tiba-tiba tersadar karena ingat aku dan bapaknya. Dan semua kejadian itu dimulai ketika masuk ke SMA Batik. Perasaan tak nyaman dan ingin mati ketika duduk dikelas itu. Semua teman disana seperti tak menyukainya. Ia merasa dikacangin padalah sudah berusaha ikut membaur.

“Apakah setelah Icha dipindah sekolahnya lalu di SMA yang baru tidak merasakan tidak nyaman lagi?”

“Masih. Aku masih gak nyaman ke sekolah. Dadaku berdetak kencang setiap akan berangkat ke sekolah. Aku tenang kalau saat jam pelajaran saja. Saat jam istirahat, aku takut”

“Apakah Icha ingin berhenti sekolah?”

“Ya. Aku ngga nyaman disekolah. Rasanya semua orang gak suka aku, aku selalu seperti flashback mengingat ketika aku di SD pernah disakii dan tidak punya teman”

Pembicaraan terputus. Aku pingsan😐.

Icha Telah Menolong Dirinya Sendiri

Menurut dokter, banyak korban bullyan yang menjadi pasiennya. Dimulai dari anak SD sampai SMA. Ceritanya juga gak jauh-jauh dari Icha. Yang tadinya anak periang lalu tiba2-tiba jadi anak pemurung. Dan biasanya korban pembullyan ini merasa tak nyaman dengan suasana sekolah. Mereka lebih senang homeschooling. Dan bila dirasakan nyaman, biasanya setahun atau dua tahun kemudian kembali bersekolah dengan mengulang kelas.

Lalu dokternya berkata lagi, bahwa pasien yang tidak nyaman kesekolah bukan berarti bodoh. Justru, anak-anak dengan emosi yang khusus ini adalah anak-anak yang cerdas. Keinginan belajar ada. Tapi tidak duduk dikelas. Icha pernah bilang sama aku. Beli aja buku-buku pelajaran SMA. Icha bisa belajar dirumah. Dari “jenius” (paket pelajaran online seperti “ruang guru”) juga bisa. Icha jago bahasa Ingrisnya. Nilai pelajaran bahasa Inggrisnya selalu tinggi. Dirumah sering menjawab pakai bahasa Inggris bila bapaknya mengajak ngobrol pakai bahasa Inggris.

Ohya dokternya juga ucapkan rasa bahagia karena Icha telah “menolong” dirinya sendiri. Mau segera ke dokter. Banyak kasus-kasus seperti Icha yang telat di obati. Akhirnya benar-benar kecolongan. Icha, masih jauh lebih bagus. Masih bisa membedakan nyata dan tidak nyata. Icha anak cerdas. Karena dorongan itu bukanlah keinginannya. Apakah Icha bisa sembuh?

Jangan Memaksakan untuk Sekolah

Bisa. Ciptakan kondisi yang nyaman buat dia. Kalau dia mau sekolah ya sekolah kalau mau berhenti ya jangan diteruskan. Saat ini Icha menjalani therapy dari psikiater dan juga dari psikolog. Seminggu ini libur sekolah dulu. Kalau Icha mau berhenti ya sudah gpp. Yang penting Icha sehat kembali. Aku tak mengharuskan Icha jadi apa. Icha anak yang cerdas. Biarkan ia memilih jalannya sendiri.

Dan aku tetap bersamanya serta menyemangatinya selalu. Saat ini, aku sedang membersihkan kamar Icha, segala benda tajam aku umpetin. Aku taktu dorongan itu muncul lagi. Semoga tidak. Ichaku harus selalu dalam pengawasanku.

Dear mamak-mamak yang anaknya pernah membully anakku, semoga anak kalian sukses, ya. Mohon doanya agar Icha kembali sehat. Aamiin. #DiarykuBersamaIcha…”

Berdasarkan kisah Icha di atas, sebagai orangtua, kita mesti sadar bahwa membekali anak dengan pertahanan diri psikis berupa menumbuhkan rasa percaya diri, berani dan berakal sehat adalah hal yang sangat penting. Apalagi, di zaman sekarang, pergaulan anak-anak terkadang kerap melampaui batas.

Jangan lupa pula ajarkan anak untuk berani melaporkan atau meminta pertolongan apabila terjadi tindakan bullying pada dirinya. Semoga dengan adanya kisah Icha ini, tak ada Icha Icha lainnya yang menjadi korban bullying. Mudah-mudahan, Icha pun dapat kembali ceria seperti sedia kala. Aamiin.

Berikan Dukungan Kepada Kami Dengan Memberikan Rating

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.